SuaraKita.org – Bulan Mei selalu menjadi momentum penting: Hari Buruh Internasional (1 Mei) dan IDAHOBIT (17 Mei). Perkumpulan Suara Kita memanfaatkan momen ini untuk menyoroti bagaimana isu ketenagakerjaan bertemu dengan isu keragaman gender dan seksualitas. Wawancara dengan Steven Handoko, akrab disapa Steve, dari Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) membuka mata tentang tantangan sekaligus peluang bagi pekerja Ragam Gender dan Seksualitas di Indonesia.
Steven memulai kiprahnya di Remotivi sekitar tahun 2015, sebuah platform yang memiliki fokus pada isu penyiaran dan persinggungannya. Dari sana ia belajar bahwa organisasi berbasis gender dan inklusi sangat penting. Pada 2020, ia bergabung dengan SINDIKASI, dan sejak 2024 resmi menjadi pengurus di Departemen Gender dan Inklusi Sosial. Baginya, SINDIKASI adalah ruang aman bagi pekerja freelance Ragam Gender dan Seksualitas yang tidak memiliki perlindungan serikat.
Tahun lalu, riset yang dilakukan SINDIKASI berkolaborasi dengan Koalisi Seni menemukan bahwa pekerja seni Ragam Gender dan Seksualitas menunjukkan resiliensi luar biasa meski minim dukungan pemerintah. Komunitas ludruk di Ponorogo misalnya, menyediakan tempat tinggal gratis bagi seniman senior yang pensiun—contoh solidaritas nyata di tengah absennya peran negara.
Steven menjelaskan, Divisi Gender dan Inklusi Sosial di SINDIKASI tidak hanya fokus pada isu Ragam Gender dan Seksualitas, tetapi juga isu perempuan dan disabilitas.
Dalam amatan SINDIKASI, kelompok minoritas mengalami berbagai lapis kekerasan dalam dunia kerja seperti minimnya ruang laktasi bagi perempuan pekerja, akses pekerjaan bagi disabilitas dan ragam gender.
Lebih lanjut, diskriminasi terhadap pekerja ragam gender sering tidak terlihat, namun nyata. Misalnya, transpuan gagal di tahap wawancara karena penampilan, atau adanya anggapan ragam gender dan seksualitas hanya cocok di pekerjaan kerah putih.
“Memecat seseorang yang capable hanya karena identitasnya? Itu hal yang konyol,” tegas Steven.
SINDIKASI berupaya menciptakan ruang aman dalam diskusi dengan aturan anti-diskriminasi. Tantangan lain adalah queerphobia dalam gerakan buruh, kultur maskulin “abang-abangan”, dan minimnya suara perempuan dalam forum.
“Suara perempuan saja kadang tidak didengar, misalnya ada kasus kekerasan seksual, koleganya bahkan tidak tahu ada kejadian tersebut. Maka dari itu penting perspektif-perspektif baru dihadirkan,” jelas Steven.
Steven menegaskan pentingnya representasi queer. Kehadiran Ragam Gender dan Seksualitas dalam gerakan buruh dapat memberi corak baru dalam forum, sekaligus membangun empati dan pemahaman lintas kelompok.
Dibandingkan masa 2015–2016, kini aktivisme queer buruh jauh lebih vokal. Steven mengatakan kini ada serikat khusus bernama Uniqueer, yang dikenal sebagai serikat queer pertama di Indonesia. Selain itu, kampanye di media sosial (Instagram, TikTok) menjadi ruang ekspresi masif dengan interseksionalitas isu lain semakin kuat.
Steven juga menyoroti pola pemerintah menggunakan isu ragam gender sebagai pengalih perhatian dari masalah lain.
Pesan Steven pada generasi muda adalah untuk konsisten, karena perjuangan adalah proses panjang yang tidak bisa instan. Juga untuk belajar mengelola emosi dan meredam konflik internal demi tujuan bersama.
Liputan ini menegaskan bahwa perjuangan buruh queer di Indonesia adalah perjuangan panjang, penuh diskriminasi tersembunyi, tetapi juga penuh solidaritas. SINDIKASI menekankan bahwa dengan konsistensi, ruang aman, dan interseksionalitas, perubahan sosial bisa dicapai.
Ditulis oleh: Khoirul A.
Diedit oelh: Wisesa Wirayuda




