Harga Sebuah Identitas

Oleh: Dwipa Pangga

SuaraKita.org – Seorang teman transmen, sebut saja Jaka, tiba-tiba mengirimkan pesan WhatsApp di sore hari. “Mas lagi sibuk, nggak?” awalnya dia menyapa. Aku jawab, “Sibuk biasa saja.” Dia bertanya, “Boleh aku telepon, Mas?” “Oh, silakan,” kataku.

Lantas dia bercerita bahwa ia punya keinginan untuk melakukan operasi top surgery untuk menghilangkan payudaranya. Benda yang ada di dadanya sejak lahir, tetapi ia tidak menginginkan ada di tubuhnya. Ia sudah mendapatkan informasi bahwa sebuah klinik di daerah Jakarta Pusat kerap didatangi oleh teman-teman transmen untuk melakukan tindakan yang sama.

Latar belakang Jaka, ia sudah melakukan sendiri penyuntikan hormon laki-laki sejak berusia 25 tahun dan ini berlanjut selama 10 tahun. Ia secara mandiri membeli hormon melalui penjualan daring. Ia bekerja sebagai sales makanan ringan di Kota Tangerang. Secara fisik ia mempunyai jambang dan kumis serta badan yang bidang karena suka berolahraga.

Ia masih ragu, ingin ditemani untuk konsultasi ke dokternya. Besoknya kami berjanji bertemu di sebuah stasiun kereta api sebelum ke klinik. Ia mendapatkan jadwal konsultasi pukul 12 siang. Kami melanjutkan percakapan, aku bilang, apakah operasi ini sudah matang-matang ia pikirkan? Ia menjawab sudah, bahkan ia bermimpi setelah operasi top surgery, ia ingin operasi penegasan jenis kelamin dan mengubah identitas di KTP-nya menjadi laki-laki.

Impian yang sudah lama ia inginkan, lantas ia berusaha menabung dari hasil kerjanya sebagai sales. Sehingga terkumpul sebesar 20 juta rupiah.

Di klinik kami disambut baik oleh petugas administrasi. Jaka sempat diminta mengisi formulir dan dicek tekanan darah serta ditimbang tinggi dan berat badan.

Ia terlihat sekali gugup dan nervus, aku mencoba menenangkan. Aku bilang saat konsultasi, semua ditanyakan dengan dokternya supaya jelas.

Kami menunggu sampai dipanggil pukul 14. Ternyata sebelumnya sudah ada pasien yang berkonsultasi dengan dokter ini. Dokter yang spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetika (Sp. BP-RE) menyambut dengan hangat, “Silakan duduk, Pak,” ucapnya menyambut Jaka di ruang kliniknya.

Jaka ditanya informasi apa yang dibutuhkan untuk dijelaskan dokter. Mungkin karena gugup, ia langsung bertanya, “Berapa biaya operasi, Dokter?” Dokter tersenyum dan bilang untuk urusan biaya akan dijelaskan oleh bagian keuangan dari klinik, bukan dirinya. Aku bertanya bagaimana prosedur operasinya dilakukan, metode, dan hal-hal teknis operasi. Dokter dengan sabar menjelaskan semua dengan menggambar di selembar kertas.

Dalam proses ini dokter meminta Jaka diperiksa di bilik ranjang periksa pasien. Awalnya Jaka merasa canggung, tetapi dokter menenangkan dan melakukan prosedur pemeriksaan. Setelah itu dokter menyatakan bahwa ini adalah operasi besar yang akan memakan waktu kurang lebih 2 jam, dan melibatkan dokter-dokter lain, seperti dokter anestesi dan dokter penyakit dalam. Dokter kembali bertanya apakah Jaka sudah siap dengan segala risikonya. Jaka dengan tegas menyatakan kesiapan hati untuk melakukan operasi ini.

Pemeriksaan dokter dan tanya jawab berlangsung kurang lebih 30 menit. Setelah itu aku dan Jaka meninggalkan ruang praktik dokter. Kami masih menunggu petugas keuangan menghitung biaya-biaya berdasarkan hasil pemeriksaan dokter tadi.

Petugas keuangan menghampiri kami di sofa ruang tunggu, dan menjelaskan rincian biaya yang diperlukan. Sungguh di luar perkiraan Jaka, biaya sebesar 75 juta belum termasuk pascaoperasi. Diam-diam Jaka tertunduk, ia bilang, “Mahal sekali ya, Kak?”

Aku juga terdiam, tidak mengira untuk “menjadi laki-laki seutuhnya” biayanya sangat mahal, dan tindakan ini tidak ditanggung BPJS Kesehatan karena dianggap bedah estetika.

Lirih Jaka bilang, “Aku harus menabung berapa lama lagi, Kak?”

Sungguh aku tak berani menatap matanya saat itu. Mata yang berair dan lemas. Dokter tadi bilang di ruang pemeriksaan, semakin ditunda akan semakin besar risiko operasi terhadap tubuh Jaka.

Saat kami meninggalkan klinik sore itu, keramaian kota tetap berjalan seperti biasa. Orang-orang lalu lalang dengan urusan masing-masing. Namun bagi Jaka, hari itu menjadi pengingat bahwa jalan menuju dirinya yang ia impikan masih belum selesai. Di antara angka-angka biaya dan keterbatasan tabungan, ia masih menyimpan harapan. Harapan sederhana untuk suatu hari nanti dapat bercermin dan melihat dirinya secara utuh—bukan sebagai orang lain, melainkan sebagai dirinya sendiri.