Oleh: Dina Listiorini & Julia Suryakusuma*
Evolusi linguistik dan sosial bahasa binan, khususnya masuknya ke dalam budaya populer Indonesia, secara ironis menyoroti stigmatisasi dan diskriminasi yang terus berlanjut terhadap komunitas queer dari mana bahasa itu berasal.
SuaraKita.org – Jika Anda membaca dua kalimat pendek ini, Anda akan mengenali beberapa kata: Sitrim ya. Tapi akika tinta bisikan di jam itu, tetapi sisanya? Apakah ini semacam bahasa hibrida?
Ya dan tidak. Ini adalah bahasa binan, atau bahasa queer, bahasa gaul yang dikembangkan dalam komunitas Ragam Gender dan Seksualitas yang digunakan pria gay dan transpuan, atau waria, gabungan kata dari wanita (perempuan) dan pria (laki-laki).
Kalimat di atas berarti, “Terima kasih, tetapi saya tidak bisa datang pada waktu itu”. Ini adalah tanggapan dari Dédé Oetomo, tokoh terkemuka aktivisme dan studi Ragam Gender dan Seksualitas, kepada Dina ketika ia bertanya kapan mereka bisa bertemu. Dalam bahasa binan, kata “tinta” berarti “tidak” dan “bisikan” berarti “bisa”, jadi tinta bisikan berarti “tidak bisa”.
Bahasa binan memiliki beragam register linguistik—artinya, bahasa ini disesuaikan dengan situasi, tujuan, atau latar sosial tertentu—yang bervariasi dalam hal kosakata, tata bahasa, nada, dan terbagi dalam spektrum mulai dari formal hingga informal. Jika dialek mencerminkan jati diri seseorang berdasarkan letak geografis atau kelompok sosial, maka register bahasa mencerminkan aktivitas yang sedang dilakukan.
Hal ini mungkin terdengar rumit, namun sebenarnya kita semua melakukannya tanpa sadar. Sebagian besar bahasa memiliki lima jenis register: formal, konsultatif, santai, akrab, dan beku — di mana jenis terakhir ini berkaitan dengan materi yang bersifat historis.
Sebagaimana bahasa gaul pada umumnya, bahasa binan berfungsi untuk menciptakan rasa memiliki, membangun identitas kelompok, memupuk keakraban, memungkinkan ekspresi diri yang kreatif, menjadi sarana humor, bahkan menantang norma-norma kebahasaan yang sudah mapan.
Bahasa binan juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai sarana perlindungan diri. Bahasa ini memungkinkan pria gay dan waria untuk berkomunikasi tanpa mudah dipahami oleh pihak luar, sekaligus menandakan keanggotaan dalam komunitas yang sama. Mereka yang memiliki identitas serupa dapat mengenali dan memahami bahasa ini dengan mudah, sehingga menciptakan rasa aman, saling percaya, dan solidaritas di antara para penuturnya.
Pada saat yang sama, penggunaannya mencerminkan kesadaran yang terus ada mengenai potensi ancaman, serta mengingatkan penuturnya bahwa kehati-hatian tetap diperlukan di lingkungan tempat mereka mungkin menghadapi stigma atau diskriminasi.
Sebagai contoh, di pasar malam yang ramai, seseorang mungkin tiba-tiba berseru, “adinda polesong!” (“ada polisi”), untuk memberi peringatan kepada mereka yang memahaminya. Istilah polesong memiliki makna khusus bagi komunitas waria, mengingat mereka secara historis sering menjadi sasaran razia polisi dan operasi penertiban umum.
Bahasa binan tidak diciptakan oleh satu individu tertentu, melainkan muncul secara organik. Penggunaan bahasa ini bermula antara tahun 1960-an hingga 1980-an dan terus berkembang hingga saat ini. Bahasa ini terbentuk melalui proses hibridisasi, permainan kata, serta penyisipan imbuhan ke dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah, atau bahasa asing.
Pada tahun 1989, dalam edisi No. 9, majalah GAYa NUSANTARA mulai menyusun glosarium bahasa gay; mereka mendokumentasikan tidak hanya makna kata-kata secara individual, tetapi juga beragam pola pembentukan kata yang ditemukan di berbagai wilayah. Ragam bahasa ini berbeda-beda antar-komunitas, dengan adanya versi lokal yang berbasis pada bahasa daerah seperti bahasa Banjar, Melayu Riau, Makassar, dan Jawa.
Di kota-kota lain, khususnya Jakarta dan Bandung (Jawa Barat), glosarium GAYa NUSANTARA mencatat adanya proses morfologis di mana sisipan (infiks) “-in-” disisipkan ke dalam sebuah kata, menghasilkan bentuk yang lebih panjang yang kemudian dapat disingkat dalam penggunaan sehari-hari. Beberapa contohnya adalah: bule yang berubah menjadi binuline lalu disingkat menjadi binul, serta lesbi (lesbian) yang berubah menjadi linesbini lalu menjadi lines.
Di sebagian besar wilayah Jawa dan beberapa daerah di luar Jawa, terdapat pola produktif lain yang melibatkan perubahan suku kata terakhir sehingga kata tersebut berakhiran “-ong”. Beberapa contohnya adalah: banci menjadi bencong, homo (homoseksual) menjadi hemong, “laki-laki” menjadi lekong, “polisi” menjadi polesong, dan “sama-sama” menjadi semong-semong.
Pada suatu masa, bahasa binan menjadi sangat dikenal luas setelah masuk ke dalam budaya populer arus utama. Popularitasnya terutama didorong melalui film, bermula dari karakter Emon dalam Catatan Si Boy 2 (1988), yang memopulerkan banyak ungkapan khas bahasa binan.
Demikian pula dalam acara Lenong Rumpi (RCTI, 1991), bahasa binan tidak hanya digunakan seniman pria yang berpenampilan sangat feminin—seperti Ade “Juwita” dan Tata Dado yang memerankan tokoh Marlena—tetapi juga oleh pemeran lainnya, termasuk Debby Sahertian, Harry de Fretes (alias Bo’im), dan Robby Tumewu.
Gaya bicara yang dipopulerkan Emon dan para pemeran *Lenong Rumpi* kemudian ditiru di berbagai tayangan televisi dan film Indonesia. Gaya bicara ini juga tampaknya menginspirasi Debby untuk menerbitkan Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1991. Sebagian besar isi kamus tersebut mendokumentasikan dan melazimkan ungkapan-ungkapan yang bermula dari bahasa binan, khususnya ungkapan yang dipopulerkan melalui Catatan Si Boy 2 dan Lenong Rumpi.
Sementara itu, waralaba Catatan Si Boy terus berlanjut melampaui film keduanya hingga mencapai film kelima, dan Lenong Rumpi pun menikmati masa tayang yang panjang di televisi. Menjelang awal tahun 1990-an, kalangan muda perkotaan di Indonesia telah banyak mengadopsi apa yang kemudian dikenal sebagai “bahasa gaul” sebagai simbol identitas urban modern.
Dua pengamatan penting muncul dari gejala ini.
Pertama, menjelang akhir tahun 1980-an, budaya populer Indonesia mulai menampilkan representasi pria gay dan waria melalui bahasa binan—yang kemudian secara efektif dicitrakan ulang oleh kamus karya Debby sebagai “bahasa gaul”.
Dalam esainya yang berjudul “Gay Language and Indonesia: Registering Belonging” (Journal of Linguistic Anthropology, Vol. 14, No. 2, 2004), Tom Boellstorff berpendapat bahwa bahasa gay di Indonesia secara bersamaan merepresentasikan dua dunia sosial yang tampak bertolak belakang: kehidupan pria gay dan waria yang sebagian besar tersembunyi, serta ranah budaya populer arus utama yang sangat terlihat jelas.
Kedua, masuknya bahasa binan ke dalam budaya populer menandai perubahan signifikan dalam makna sosialnya. Bahasa yang dulunya berfungsi terutama sebagai “bahasa rahasia” di kalangan komunitas yang terpinggirkan ini, kemudian diadopsi industri hiburan dan dikemas ulang sebagai bahasa gaul perkotaan yang trendi.
Lambat laun, bahasa binan tidak lagi berfungsi semata-mata sebagai penanda identitas komunitas, melainkan berubah menjadi komoditas dalam industri budaya populer Indonesia. Dengan demikian, bahasa ini tidak lagi melambangkan perlawanan, tetapi justru semakin menjadi simbol modernitas, kemampuan bersosialisasi, dan identitas kelas menengah perkotaan.
Bulan Bangga (Pride Month), yang dirayakan setiap tahun pada bulan Juni, memperingati perjuangan demi pengakuan, martabat, dan kesetaraan hak bagi komunitas queer. Namun, dalam konteks Indonesia, bulan ini juga menjadi pengingat bahwa penerimaan terhadap ekspresi budaya queer tidak serta-merta berarti penerimaan terhadap individu queer itu sendiri.
Meskipun bahasa binan telah merambah budaya populer, individu queer yang menuturkannya tetap menghadapi stigma, diskriminasi, dan permusuhan.
Selama bahasa binan diterima namun orang-orang yang menciptakan dan menuturkannya tetap terpinggirkan, penerimaan tersebut akan tetap bersifat parsial dan bersyarat. Bulan Bangga mengingatkan kita bahwa merayakan budaya suatu komunitas harus dibarengi dengan pengakuan atas martabat, kesetaraan, dan sisi kemanusiaan mereka.
Selamat Bulan Bangga!
(Artikel ini dimuat pertama kali di thejakartapost.com)
*Dina Listiorini adalah dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta; Julia Suryakusuma adalah penulis buku Sex, Power and Nation (2004).



