Koalisi Sekutu

Oleh: Fe*

SuaraKita.org – Kala itu,
Aku adalah apel yang membisu.
Kucing-kucing di rumahku bagai sosok yang mampu bersenda gurau.
Kegelapan malam selalu menjadi waktu terbaik bagiku untuk melepas rindu.

Mungkin kamu bertanya,
Mengapa aku memilih kucing dan bukan manusia?
Jawabannya mudah karena manusia selalu mendiskriminasi.

Apel sejak kecil sudah kenyang menerima “racun” heteronormatif dan patriarki.
Aku dianggap produk gagal oleh pekerja yang suka tebang pilih.
Aku dianggap buah yang jelek karena memiliki warna dan bentuk yang berbeda.

Apel menjadi takut karena selalu menjadi objek anarkisme.
Melihat apel lainnya yang ditarget oleh para pemburu membuatnya bertanya tentang moralitas.

Ke manakah akal sehat?
Apakah hati nurani sudah berkarat?

Para pemburu hanya fokus kepada apel yang berbeda warna.
Namun, mereka tidak juga memberi target untuk apel busuk ataupun yang berulat.
Padahal apel-apel tersebut mengontaminasi pabrik.
Para pemburu adalah ancaman nonmiliter yang sesungguhnya.
Pandai dalam menghakimi, tetapi berpura-pura lupa dengan borok mereka.

Apel pun hanya bisa mengunci mulutnya rapat-rapat, tetapi jarinya tidak.
Hening bukan berarti tanda menyerah.
Apel menunggu waktu yang tepat untuk berkembang.

Pemilik pabrik secara tidak langsung mempertemukan kami.
Ia adalah apel yang ternyata tidak menghakimiku.
Ia adalah apel yang membelaku dari para pemburu.
Ia memberi dukungan padaku dalam hal apa pun.
Ia terbukti sebagai sekutu.

Koalisi sekutulah yang mempersatukan.
Apel lain pun juga ikut terselamatkan dan tetap segar.
Sekutu menyelamatkan kami dengan aksi nyata.
Itulah yang membuat apel berani untuk jadi dirinya sendiri mulai saat itu juga.

Kini, apel juga bisa mempersiapkan tempat untuk apel berwarna lainnya agar mereka bisa bebas.
Ini semua karena koalisi sekutu.

Akhir kata,
Marilah kita terus berkoalisi dengan sekutu yang benar.
Untuk kebahagiaan bersama,
Kita jaga kita,
Kita jaga sekutu,
Sekutu jaga sekutu,
Sekutu menjaga kita.

 

*Penulis adalah seorang pujangga amatir yang baru aktif membuat puisi sejak Maret 2026. Penulis tinggal di Jakarta Barat, dan bisa ditemukan di Instagram @Ugetmereading

Bagikan