Niar Ratna: Sastra, Ragam Gender, dan Empati

SuaraKita.org – Di tengah meningkatnya perbincangan mengenai keberagaman seksualitas dan gender di Indonesia, ruang untuk berdialog justru terasa semakin sempit. Narasi yang mengarah pada stigmatisasi dan persekusi terhadap kelompok Ragam Gender dan Seksualitas semakin sering muncul di media sosial maupun ruang publik. Bagi Niar Ratna, seorang penulis lepas, situasi ini bukan sekadar isu sosial, melainkan sesuatu yang menyentuh kehidupan orang-orang terdekatnya.

Ratna, yang sehari-hari bekerja sebagai freelancer di bidang penulisan dan aktif menulis novella untuk berbagai platform global, mengaku memiliki banyak teman dari komunitas ragam seksualitas dan gender sejak lama. Kedekatan itu membuat berbagai pemberitaan mengenai persekusi dan gerakan anti-keberagaman terasa sangat personal.

“Saya tidak selalu mengikuti semua beritanya karena capek, sedih, dan nelangsa. Banyak teman saya yang Ragam Gender dan Seksualitas, jadi rasanya sangat personal.”

Negara Jangan Kehilangan Fokus

Menurut Ratna, maraknya narasi yang menjadikan kelompok ragam seksualitas dan gender sebagai ancaman merupakan sesuatu yang berlebihan. Baginya, masih banyak persoalan bangsa yang jauh lebih mendesak untuk diselesaikan dibanding mengawasi kehidupan pribadi seseorang.

“Karena itu bukan sesuatu yang harusnya jadi fokus di pemerintahan kita gitu. Kita tahu apa saja masalah yang sebenarnya harus kita fokuskan, harus kita hadapi, tapi kenapa larinya malah ke sana?”

Ia juga menilai bahwa ketika orientasi seksual dijadikan alasan untuk membenarkan intimidasi atau persekusi, persoalannya sudah bergeser menjadi pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

“Menurut saya, gerakan anti-boti itu berlebihan, dan kedua, itu sudah berlawanan dengan prinsip hak asasi manusia.”

Selain itu, Ratna menyinggung salah satu peristiwa yang sempat menjadi sorotan publik ketika seorang perempuan transpuan dikejar hingga memanjat pohon demi menghindari massa. Menurutnya, kejadian seperti itu menunjukkan hilangnya rasa aman yang seharusnya dimiliki setiap warga negara.

“Ini sudah tidak manusiawi, mencabut rasa aman si korban ini, transpuan ini, yang sampai lari naik pohon ini. Dia tidak mendapatkan rasa aman yang seharusnya didapatkan sebagai warga negara, sebagai warga sipil.”

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki sejarah panjang mengenai keberagaman gender.

“Kalau ditarik ke sejarah Nusantara, kita punya keragaman gender sejak dulu. Ironis ketika sejarah itu justru terlupakan.”

Menjadi Tak Terlihat, untuk Bertahan Hidup

Ratna pun menjelaskan bahwa sejak isu ini naik, ia melihat sendiri bagaimana teman-temannya yang merupakan bagian dari ragam seksualitas dan gender mulai mengubah cara mereka menggunakan media sosial.

Mereka menjadi lebih berhati-hati, bahkan tidak lagi menyukai unggahan yang berkaitan dengan isu ragam seksualitas dan gender karena khawatir aktivitas digital mereka menjadi sasaran.

Perubahan itu, menurutnya, menunjukkan bahwa rasa takut tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata.

“Saya lihat jadinya teman-teman ini kayak, bukan takut ya, tapi lebih subtle gitu di sosial media. Yang tadinya mereka sering nge-like postingan yang terkait dengan Ragam Gender dan Seksualitas, jadinya nggak nge-like. Karena kan di Instagram kalau kita nge-like, orang lain kan tahu. Saya paham, kok nggak pernah nge-like gitu-gitu lagi? Oh berarti sedang menjaga diri.”

Ratna pun memaklumi jika teman-temannya dari ragam seksualitas dan gender akhir-akhir ini cenderung diam. Ia pun memahami bahwa kediaman ini bukan sebagai bentuk apatisme, namun strategi untuk bertahan dari masa sulit ini.

“Kadang mereka tidak bicara apa-apa. Mereka hanya menjadi lebih diam.”

Ketika Sastra Menjadi Alat untuk Menunjukkan Solidaritas

Sebagai seorang penulis lepas, Ratna pun tidak lupa memberikan ruang representasi pada kelompok ragam seksual dan minoritas. Ratna mengungkapkan bahwa di salah satu cerpennya yang akan terbit ini, ia menghadirkan karakter seorang laki-laki gay yang hidup di tengah keluarga besar yang konservatif dan memilih menyembunyikan identitasnya.

Meski bukan tokoh utama, karakter tersebut menjadi bagian penting dari cerita.

Tokoh utama dalam cerpen itu adalah salah satu anggota keluarganya yang mengetahui identitas sang tokoh gay. Keduanya sama-sama mengalami keterasingan karena alasan yang berbeda, sehingga perlahan saling menjadi tempat bersandar di tengah tekanan sosial dan ekspektasi keluarga.

Menurut Ratna, kisah tersebut lahir dari pengamatan terhadap kehidupan nyata teman-temannya. Ia pun memasukkan karakter ragam seksualitas dan gender sebagai dukungan agar suara dan pengalaman teman-temannya dari ragam seksualitas dan gender tidak tenggelam atau diabaikan begitu saja.

“Karena suara teman-teman Ragam Gender dan Seksualitas ini adalah suara-suara yang sulit untuk naik ke permukaan. Dan karena saya banyak sekali dari dulu itu punya orang-orang terdekat yang memang dari kelompok Ragam Gender dan Seksualitas seperti itu.”

Ratna pun menjelaskan, pengalamannya pernah berada di lingkungan industri hiburan membuatnya banyak berinteraksi dengan teman-teman gay. Dari hubungan-hubungan itulah tumbuh empati yang kemudian ia bawa ke dalam karyanya.

Bagi Ratna, sastra memiliki kemampuan menghadirkan pengalaman manusia yang sering kali tidak terdengar. Melalui cerita pendek, pembaca diajak melihat kehidupan seseorang secara utuh, bukan sekadar label yang melekat pada dirinya.

Empati Berawal dari Kedekatan dan Pengetahuan

Ratna meyakini bahwa memiliki teman atau keluarga dari kelompok ragam seksualitas dan minoritas juga dapat membantu seorang cis-hetero sepertinya memahami persoalan ini secara lebih mendalam.

Ia mengibaratkannya seperti seseorang yang baru mengetahui rasa pedas setelah pernah mencicipi cabai.

“Karena bagaimanapun, kita bisa tahu cabai itu pedas kalau kita pernah mencobanya.”

Meski demikian, ia juga mengatakan bahwa pada dasarnya, empati pun juga bisa dibangun berbekalkan pengetahuan, tidak harus dari pengalaman langsung. Apalagi di era akses informasi yang luas dan mudah seperti saat ini.  

“Sekarang akses informasi itu kan luas. Dan empati itu bisa dibangun secara umum dari nilai-nilai kemanusiaan secara umum. Artinya memang kita harus menghormati siapapun itu. Itu kan juga bisa ya.”

Sikap Ratna Jika Keluarga Sendiri yang Coming Out

Ketika ditanya bagaimana jika suatu hari anggota keluarganya mengaku sebagai bagian dari kelompok ragam seksualitas dan gender, Ratna menjawab tanpa ragu.

Ia mengatakan akan mendengarkan terlebih dahulu dan memastikan bahwa orang tersebut benar-benar memahami dirinya.

“Kalau memang suatu hari adik saya datang dan berkata bahwa dia gay, saya akan mendengarkan dulu. Saya ingin memastikan bahwa itu memang dirinya.”

Setelah itu, hal yang menurutnya paling penting tetap sama seperti kepada siapa pun.

“Yang saya ingatkan tetap menjaga kesehatan, hidup bertanggung jawab, dan tidak merugikan orang lain.”

Menurutnya, orientasi seksual tidak mengubah nilai-nilai dasar yang perlu dijunjung setiap manusia.

Yang Dinilai Seharusnya Perilaku, Bukan Identitas

Ratna juga mengkritik kecenderungan masyarakat menghubungkan tindakan kriminal dengan orientasi seksual pelakunya.

Baginya, jika seseorang melakukan pelanggaran hukum, penyebabnya adalah tindakan individu tersebut, bukan identitas seksualnya.

Ia mengingatkan bahwa teman-teman ragam seksualitas dan gender yang ia kenal menjalani kehidupan seperti masyarakat pada umumnya seperti bekerja, membantu keluarga, mengurus orang tua, dan hidup berdampingan tanpa mengganggu orang lain.

“Kalau ada orang berbuat salah, itu karena orangnya, bukan karena orientasi seksualnya.”

Menurutnya, ukuran seseorang sebagai warga negara yang baik seharusnya bukan siapa yang ia cintai, melainkan apakah ia menghormati hukum, bertanggung jawab atas tindakannya, dan memperlakukan orang lain dengan baik.

Mengajak Berpikir Lebih Bijak

Di akhir percakapan, Ratna mengajak masyarakat untuk tidak mudah terbawa arus kebencian yang berkembang di media sosial.

Ia mengaku prihatin karena fenomena seperti “boti hunter” membuat banyak orang merasa memiliki hak untuk menentukan siapa yang paling berdosa.

“Adanya ‘boti hunter’ itu membuatku sangat sedih. Karena jadinya seperti orang itu semakin merasa berhak untuk mengklaim siapa yang paling berdosa di antara kita. Janganlah gitu. Satu, itu urusan masing-masing personal. Dan yang kedua, yang membedakan hanyalah orientasi seksual, selebihnya kita sama-sama manusia.”

Ratna pun mengajak masyarakat mencoba membalik posisi. Ia membayangkan bagaimana jika seseorang hidup sebagai kelompok minoritas dan setiap hari diburu hanya karena identitasnya.

“Bayangkan kalau kita yang berada di posisi itu. Tinggal di lingkungan yang mayoritas berbeda, lalu ada kelompok yang memburu kita hanya karena identitas kita.”

Baginya, masyarakat perlu lebih bijak dalam menentukan persoalan yang benar-benar layak menjadi perhatian bersama. Alih-alih memperbesar konflik horizontal, ia berharap publik lebih fokus pada persoalan-persoalan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

 

Ditulis oleh: Khoirul A.
Diedit oleh: Wisesa Wirayuda