Oleh: Reylien*
SuaraKita.org – Waktu itu, aku duduk di kelas 12 SMA.
Satu jam sebelumnya, kami baru saja mengikuti pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Guru kami menjelaskan tentang hak dan kewajiban. Kami kembali diingatkan bahwa setiap orang boleh memiliki kewajiban yang berbeda-beda, tetapi hak—yang satu itu—adalah sama bagi setiap manusia. Maka, setiap nyawa berhak diperlakukan dengan martabat yang sama.
Kemudian bel berbunyi.
Jam berikutnya, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) mengajarkan kami tentang sex education. Pembahasannya meliputi berbagai infeksi menular seksual, termasuk Human Immunodeficiency Virus (HIV). Lalu, ia mengatakan bahwa HIV itu adalah penyakit orang gay.
Dengan nada yang begitu ringan, ia melanjutkan, “Jadi, kalau ada anak gay, ya, dipukul saja.”
Waktu itu, aku bahkan tidak mengenal siapa pun yang secara terbuka menjadi bagian dari komunitas Ragam Gender dan Seksualitas. Aku tidak berkewajiban membela teman dekat. Aku juga belum memahami banyak hal tentang ragam identitas gender maupun orientasi seksual.
Namun, aku memahami satu hal.
Waktu itu, aku adalah seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga religius, yang seiring bertambahnya usia, menyadari bahwa keyakinanku tidak lagi sejalan dengan masyarakat pada umumnya. Tetapi aku tidak mengatakannya kepada siapa pun karena aku yakin akan ada penolakan yang datang jika aku jujur.
Pengalamanku tentu tidak sama dengan pengalaman teman-teman Ragam Gender dan Seksualitas. Namun, pengalaman itu cukup untuk membuatku memahami satu hal: hidup dengan ketakutan bahwa kejujuran tentang dirimu dapat mengubah cara orang memperlakukanmu adalah beban yang tidak ringan.
Bertahun-tahun kemudian, ketika aku mulai membaca lebih banyak tentang kesehatan seksual, aku menyadari bahwa pelajaran hari itu tidak hanya menyisakan luka, tetapi juga menyampaikan informasi yang tidak utuh.
Benar bahwa pada kelompok tertentu, prevalensi HIV dapat lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok lain. Namun, HIV bukanlah penyakit yang hanya dapat dialami oleh homoseksual. Orang heteroseksual juga dapat tertular HIV. Yang meningkatkan risiko penularannya bukanlah orientasi seksual seseorang, melainkan perilaku seksual yang berisiko.
Sayangnya, ketika informasi yang kompleks disederhanakan menjadi seolah-olah HIV adalah “penyakit orang gay”, yang lahir bukanlah pemahaman, melainkan stigma.
Aku sering memikirkan kembali logika yang diajarkan hari itu. Seolah-olah solusi untuk mencegah HIV adalah menjauhkan, bahkan menyakiti, orang-orang homoseksual. Padahal, yang perlu diajarkan adalah bagaimana setiap orang dapat melindungi dirinya melalui praktik seks yang aman.
Aku juga sering bertanya-tanya tentang satu kemungkinan yang tidak pernah bisa kujawab: Bagaimana jika hari itu memang ada seorang anak gay yang duduk di kelas kami?
Mungkin ia ikut tertawa agar tidak dicurigai.
Mungkin ia hanya menundukkan kepala dan berharap tidak ada yang memperhatikannya.
Mungkin ia pulang dengan keyakinan bahwa jika suatu hari orang lain mengetahui siapa dirinya, kekerasan terhadapnya akan dianggap wajar.
Aku tidak pernah tahu apakah anak itu benar-benar ada di kelas kami. Namun, kemungkinan itu saja sudah cukup untuk mengubah cara pandangku tentang apa artinya menjadi seorang ally.
Banyak orang mengira menjadi ally berarti harus menjadi bagian dari komunitas Ragam Gender dan Seksualitas itu sendiri, selalu berada di garis depan demonstrasi, atau memiliki jawaban untuk setiap perdebatan. Bagiku, menjadi ally dimulai jauh sebelum semua itu.
Ia dimulai ketika kita menolak untuk ikut tertawa saat seseorang dijadikan sasaran kebencian.
Ia dimulai ketika kita mempertanyakan ajaran, budaya, atau prasangka-prasangka yang sekalipun datang dari orang-orang yang kita hormati.
Ia dimulai ketika kita menyadari bahwa kita tidak harus memiliki pengalaman yang sama dengan seseorang untuk tetap memperjuangkan haknya sebagai seorang manusia.
*Penulis adalah kontributor SuaraKita.org yang berdomisili di Denpasar, Bali. Sapa penulis melalui akun Instagram @reylien



