Happy Pride Month: Disabilitas Pasti Bisa

Oleh: Ade Taufan*

SuaraKita.org – Halo, perkenalkan nama saya Ade Taufan, seorang penyandang disabilitas Tuli (tidak bisa mendengar). Bulan Juni selalu istimewa bagi saya, karena bukan hanya sekadar perayaan Pride Month, tetapi juga ruang untuk menyuarakan keberagaman, solidaritas, dan kebanggaan—baik bagi komunitas Ragam Gender dan Seksualitas maupun bagi kita yang hidup dengan disabilitas.

Kebanggaan dan Identitas

Juni hadir dengan warna-warni pelangi: kostum meriah, pameran seni, bazar komunitas, hingga diskusi budaya. Semua orang, baik umum maupun disabilitas, bisa ikut merayakan dengan semangat.

Saya sendiri tumbuh dengan identitas gender yang berbeda. Ada banyak ekspresi gender—fanboy, femboy, transfeminin, dan lainnya. Saya tidak ingin dilabeli dengan stigma negatif. Saya ingin dikenal sebagai pribadi yang profesional, cerdas, dan mampu berkomunikasi dengan bahasa isyarat alami.

Hambatan dan Stigma

Perjalanan ini tentu tidak mudah. Sejak kecil di sekolah SLB, saya pernah mengalami trauma, bullying, bahkan putus cinta karena hambatan komunikasi. Rasa sakit hati itu berat, tetapi perlahan saya belajar memperbaiki hati dan menerima diri.

Meski pernah merasa jomblo panjang umur, saya tetap berusaha sehat, kuat, dan tidak menyerah. Bullying memang menyakitkan, tetapi saya percaya perdamaian bisa tercapai dengan saling memahami dan membuka ruang empati.

Komunitas dan Dukungan

Di Indonesia, undang-undang disabilitas telah berkembang dari empat kategori lama (Tuna Rungu, Tuna Netra, Tuna Daksa, Tuna Grahita) menjadi lebih beragam: disabilitas intelektual, mental, sensorik, gender, ADHD, cerebral palsy, ODGJ, bipolar, depresi, autisme, down syndrome, dan lainnya. Semua orang dengan ragam disabilitas berhak hidup mandiri dan merayakan kebanggaan.

Bagaimana dengan komunitas khusus disabilitas Ragam Gender dan Seksualitas? Ada organisasi seperti PERWADI (Persatuan Warna Disabilitas) di Bandung, Jawa Barat. Mereka rutin mengadakan rapat, diskusi, pesta sederhana, hingga advokasi HIV & AIDS. Tujuannya jelas: meningkatkan kesadaran, melawan stigma, dan mendukung individu Ragam Gender dan Seksualitas agar bisa hidup tanpa diskriminasi.

Di sana, teman-teman belajar bahasa isyarat inklusif, berbagi cerita, bermain, dan menikmati kebersamaan. Sebuah ruang aman yang membuat kita merasa diterima apa adanya.

Harapan dan Perjuangan

Bagi saya, Pride Month bukan hanya pesta. Ia adalah ruang edukasi: tentang kesehatan mental, SOGIESC, advokasi hukum, hingga seni budaya. Semua ini memberi kesempatan bagi kaum pelangi dan disabilitas untuk bersuara.

Meski masih banyak orang awam yang belum paham, kita bisa pelan-pelan membangun pemahaman, menumbuhkan toleransi, dan menciptakan ruang aman.

Pesan saya sederhana: hormati orientasi seksual dan identitas gender setiap individu tanpa memandang perbedaan. Mari kita dukung kebebasan, kesehatan, dan perjuangan kaum pelangi serta disabilitas. Jangan menyerah, tetap semangat, dan jagalah kesehatan. Dengan cinta, toleransi, dan solidaritas, kita bisa hidup setara.

Sekian cerita saya. Mohon maaf bila ada kekurangan. Mari rayakan Happy Pride Month June dengan penuh kebanggaan, warna-warni, dan doa agar semua tetap sehat serta berumur panjang.

 

*Penulis berdomisili di kota Bandung. Penulis juga adalah konten kreator soal belajar Bahasa Isyarat dengan visual yang bisa membantu penontonnya untuk lebih memahami. Selain itu, penulis juga gemar membuat kerajinan tangan. Sapa penulis melalui email taufanusan2@gmail.com