Oleh: R.A Awani*
SuaraKita.org – Kerah kemeja ini mencekikku perlahan, sementara ujung sepatu pantofel hitam yang kukenakan terasa seperti sepasang balok besi. Di sekelilingku, lantai marmer ballroom memantulkan kilau gaun-gaun malam yang menjuntai dan ketukan anggun sepatu hak tinggi. Mataku tak bisa lepas dari sana. Ada letupan di dadaku tiap kali melihat sapuan lipstik semerah darah muda atau lentik bulu mata yang membingkai tatapan mereka. Aku bisa membayangkan diriku di depan cermin: memulaskan foundation, meratakan eyeshadow, dan tersenyum menatap pantulan yang jujur.
Tapi ini pesta pernikahan. Mereka tak boleh tahu. Jika rahasia itu merembes keluar, duniaku akan runtuh. Ibu mengapit lenganku erat—terlalu erat, seolah takut aku tiba-tiba berlari meninggalkannya. Ia menebar senyum aristokratnya kepada kerabat yang lewat.
“Kapan giliran Ray?” tanya seorang bibi dengan sanggul tinggi, matanya menelanjangi penampilanku. “Sudah mau kepala tiga, kan?”
Ibu menepuk punggung tanganku, tertawa pelan. “Doakan saja. Biar Ray cepat menemukan gadis yang pas.”
Ada ngilu asing merambat di tulang rusukku tiap kali kata ‘gadis’ dan ‘pas’ disandingkan denganku. Gadis hanyalah entitas asing bagiku. Bahkan jika Aphrodite turun dari Olympus dan berdiri di hadapanku, dadaku akan tetap sedatar permukaan meja. Aku hanya mengangguk, memasang topeng paling ramah yang kupelajari bertahun-tahun.
Di balik senyum itu, ingatanku terlempar pada sore yang dingin di kamarku. Pintu lemari ternganga lebar. Ibu berdiri mematung di depannya. Tangannya yang gemetar menggenggam sebuah kalung perak tipis berliontin bulan sabit.
Napasku tercekat. Itu bukan sembarang kalung. Itu adalah barang pertama yang kubeli dengan gaji pertamaku sendiri. Sebuah perayaan kecil yang sunyi untuk diriku; sesuatu yang selama ini hanya berani kulingkarkan di leherku saat malam larut, saat aku berdiri sendirian menatap cermin dan merasa utuh.
Di sebelah kaki Ibu, berserakan celana kulot berbahan jatuh dan sebuah kardigan rajut yang selama ini kusimpan di sudut paling gelap. Matanya menatap kalung di tangannya seolah ia sedang menggenggam bangkai yang menjijikkan.
“Buang.” Suara Ibu tidak keras, tapi cukup tajam untuk menyayat tulang rusukku.
Ia melempar kalung perak kesayanganku itu ke lantai. Bunyi gemerincing logam yang beradu dengan ubin marmer menggema di kamar yang mendadak kedap udara, mematahkan sesuatu yang rapuh di dalam dadaku.
“Ibu tidak sudi melihatnya,” desisnya dengan sorot mata yang menuntut pertobatan. “Kau calon kepala keluarga, Ray. Buang semua aksesoris perempuan ini dan anggap kegilaan ini tidak pernah ada.”
Ia menatapku seolah menyukai keindahan adalah penyakit mematikan. Sebuah aib yang bisa mengundang laknat. Detik itu, aku menelan suaraku sendiri. Dengan tangan bergetar, aku berjongkok, memungut liontin bulan sabitku yang kini tergores, dan memasukkannya ke dalam kardus bersama mimpiku yang lain.
“Aku cari angin sebentar, Bu,” bisikku, melepaskan diri dari apitan Ibu sebelum dadaku benar-benar meledak dan membawa pikiranku kembali ke ballroom ini. Sengaja kulebarkan langkahku, kubuat bahuku setegak mungkin agar tak terlihat gemulai.
Di balkon luar, udara malam beraroma embun dan asap rokok menyambutku. Langit Jakarta menyisakan semburat jingga kemerahan layaknya perasan jeruk sunkist. Di sudut sana, seorang perempuan berdiri bersandar pada pagar pembatas. Gaunnya merah marun, bibirnya dipulas sewarna dengan anggur champagne di gelas yang ia putar-putar dengan bosan.
Ia menoleh, menangkap tatapanku, dan mendesah panjang.
“Sumpek, ya?” tanyanya, suaranya renyah membelah sepi. “Aku muak setengah mati ditanya kapan nikah di dalam sana.”
Aku terkekeh pelan, kecanggungan sedikit mencair. “Sama.”
“Memangnya kenapa perempuan harus selalu dinilai dari cincin di jarinya?” Ia menyesap minumannya.
“Atau, kenapa manusia pada umumnya merasa harus memaksakan standar itu?” balasku.
Perempuan itu tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya. Ia mengulurkan tangan. “Aku Sarah.”
“Ray.”
Dari balkon itu, obrolan kami berpindah ke meja-meja kedai kopi bersuasana remang. Orang-orang mengira kami sepasang kekasih, tapi bagi kami, ini adalah persekutuan dua manusia yang muak pada etalase sosial. Sarah adalah anomali yang memesona. Ia tak butuh laki-laki untuk menebus eksistensinya. ID Card bertuliskan nama sebuah media berita ternama selalu menggantung di lehernya—bukti validasi yang ia raih sendiri.
Suatu sore, di antara kepulan asap chamomile tea, kuberanikan diri menggeser kotak pandoraku. Kuceritakan kardus di atas lemariku, dan bagaimana Ibu menyebutku ‘kaum laknat’.
Sarah tidak bergidik. Ia malah tertawa sarkas, matanya berkilat marah. “Yang laknat itu mereka yang merampas hak hidup orang lain demi kenyamanan egonya sendiri, Ray. Sama seperti sistem pemerintahan bobrok yang kuberitakan minggu lalu.”
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. “Aku feminis, Ray. Aku menolak segala bentuk penindasan, apalagi pada mereka yang dianggap tak sesuai cetakan pabrik.”
Kata-katanya memelukku lebih hangat dari apa pun yang pernah kudapat di rumah.
Juli belum berakhir ketika malam pembebasan itu tiba. Orang tuaku pergi ke luar kota untuk menjenguk kakek. Aku sendirian di rumah. Tangan ini tak sabar menurunkan kardus berdebu itu. Malam itu, cermin kamarku menjadi saksi. Gaun bermotif macan tutul membalut tubuhku, sepatu boots hitam memeluk kakiku. Kupasang wig, lalu memulaskan riasan semaksimal yang kubisa. Saat menatap pantulan diriku, aku tidak melihat aib. Aku melihat manusia utuh nan menawan.
Kuhubungi Sarah, dan kami sepakat bertemu di sebuah bar di kawasan selatan. Aku memacu motorku menembus angin malam Jakarta, merasakan kepakan gaunku melawan udara.
Namun, euforia itu mati tepat di pelataran parkir bar.
Mata-mata di trotoar menatapku seperti melihat monster. Sebelum aku sempat turun dari motor, segerombolan pria dengan napas berbau alkohol murah mendekat.
“WOY, BOTI!” teriak salah satu dari mereka.
Sebuah botol kaca melayang di udara dan pecah berkeping-keping menghantam dinding tepat di sebelahku. Pecahannya memercik, merobek kulit pipiku. Bau anyir darah seketika bercampur dengan pesing aspal. Riasanku luntur oleh peluh dan kepanikan.
Mereka tertawa beringas, mulai mengambil langkah mengejarku. Aku membuang motorku, melepas boots yang memberatkan, dan berlari bertelanjang kaki. Aspal kasar mengoyak telapak kakiku, tapi ketakutan membuatku kebas. Kususuri gang-gang sempit di balik deretan ruko yang gelap, bersembunyi di balik tempat sampah berbahan seng, gemetar hebat sementara suara tawa dan makian mereka menggema mencari mangsa.
Ponselku bergetar berkali-kali. Sarah.
Kutahan napasku sampai derap langkah gerombolan itu benar-benar menjauh. Baru setelah hening turun, kuangkat telepon itu dengan tangan bergetar hebat. Isakku pecah tanpa bisa ditahan.
“Ray? Ray, kamu di mana?!” Suara Sarah panik.
Bibirku kelu, hanya bisa menggumamkan patokan jalan dengan terbata. Tak lama, sorot lampu mobil membelah gang. Sarah berlari keluar, menerjangku, memeluk tubuhku yang berlumur debu, peluh, dan darah yang mulai mengering. Ia menangis lebih keras dariku, merutuki keterlambatannya.
Di dalam mobilnya, di bawah lampu jalan yang temaram, kulihat rahang Sarah mengeras. Matanya merah menyala. “Sinting. Aku nggak akan diam, Ray. Aku bakal naikkan isu ini besok pagi.”
“Jangan, Sar…” cegahku, mencengkeram lengannya. “Nanti ibuku tahu.”
“Aku akan sensor wajah dan namamu.”
“Tapi—bagaimana kalau kantormu menolak? Bagaimana kalau kamu dipecat? Ini isu sensitif, Sar.”
Air mata Sarah luruh, menetes di atas setir mobil. “Negara ini yang sudah gila. Mereka memakai moral untuk membenarkan kekerasan pada kaum marjinal. Aku nggak bisa membiarkan ini, Ray.”
Malam itu terasa seperti satu abad. Darah di pipiku mengering, meninggalkan jejak kelam dalam sejarah persahabatan kami.
Esok paginya, beritanya meledak.
Foto siluetku di gang sempit dengan wajah tersensor terpampang di portal berita. Kolom komentar berubah menjadi medan perang. Ada yang memuntahkan ayat-ayat untuk menghakimiku, ada pula yang lantang berteriak tentang hak asasi manusia dan ruang aman tanpa memandang gender. Berita itu merambat liar, membongkar realita tentang mereka yang terpinggirkan.
Sarah meneleponku berkali-kali, meminta maaf karena menerbitkan tulisan itu dengan nekat. Tapi anehnya, melihat bagaimana dunia berdebat memperebutkan hak eksistensiku, ada sesuatu yang patah sekaligus tumbuh di dalam dadaku. Keberanian yang selama ini bersembunyi di balik kardus di atas lemari.
Maka, ketika roda mobil Ayah dan Ibu memasuki garasi, aku menunggunya di ruang tengah. Bukan dengan topeng ramah, tapi dengan wajah penuh luka gores dan sisa kejujuran.
Kuceritakan semuanya. Tentang kardus itu. Tentang insiden semalam. Tentang siapa diriku sesungguhnya, dan permintaan maaf bahwa takkan pernah ada keturunan yang bisa kuhadirkan dari rahim seorang perempuan.
Reaksinya seperti yang sudah kuduga. Ibu menjerit, menangis histeris seolah aku baru saja membunuh seseorang. Ayah berdiri dengan wajah merah padam, telunjuknya mengarah ke pintu depan.
“Keluar. Jangan pernah kembali, anak haram,” desisnya beringas.
Detik itu juga, kuambil ranselku. Kutinggalkan rumah yang selama ini terasa seperti peti mati. Malam itu, aku menumpang tidur di sebuah kamar indekos sempit. Aku memang kehilangan segalanya hari itu. Namun, menatap langit-langit kamar sambil membalas pesan singkat dari Sarah, untuk pertama kalinya seumur hidup, napasku terasa begitu lega.
*Penulis adalah mahasiswa Universitas Terbuka Jurusan Ilmu Komunikasi, lahir pada 29 April 1999. Sejak kecil, ia jatuh cinta pada karya fiksi dengan genre memikat yang membangkitkan imajinasi. Kini, ia aktif menulis cerpen di Instagram, menuangkan curahan hati lewat kisah-kisah pilu dan menyentuh. Ingin berkenalan? Ikuti Instagram @renzazzahra



