Pride Month: Ketika Stigma Masih Hidup di Dunia Kedokteran

SuaraKita.org – Beberapa hari ke belakang, pernah tidak kamu membaca beberapa postingan dari dokter atau pun perawat yang justru menyudutkan dan memperparah stigma pada kelompok ragam seksualitas dan gender? Ternyata, ada alasan yang struktural dan kompleks yang menjadi sebab kenapa sebagian dokter di Indonesia justru ikut-ikutan menyudutkan dan memperparah stigma.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, Suara Kita berkesempatan untuk mewawancarai salah satu dokter yang mempunyai perspektif yang ramah pada kelompok ragam seksualitas dan gender. Akrab disapa Dokter DD, sebelumnya pernah menghabiskan enam tahun bekerja di rumah sakit jiwa, dan saat ini sedang menempuh pendidikan spesialis.

Ketika Dokter Ikut Menyuarakan Stigma

Dalam pandangan Dokter DD, seorang dokter tidak seharusnya membeda-bedakan pasien berdasarkan identitas apa pun, termasuk orientasi seksual dan identitas gender.

“Kode etik kedokteran tidak membolehkan kita memilih-milih pasien. Memang saat kode etik itu disusun belum secara spesifik menyebut orientasi seksual, tapi seharusnya hal itu tidak perlu ditulis secara rinci. Orang yang memiliki nalar mestinya memahami bahwa semua pasien harus diperlakukan setara.”

Meski begitu, ia mengakui bahwa budaya konservatif masih cukup kuat di sebagian lingkungan pendidikan kedokteran dan profesi spesialis tertentu. Bahkan, jika seorang dokter memang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang konservatif, pendidikan kedokterannya tidak akan mengubah banyak hal yang sudah kuat tertanam. Akibatnya, stigma terhadap kelompok ragam seksualitas dan gender masih bertahan.

Lebih parah, tidak sedikit dokter dari kelompok ragam seksualitas dan gender yang memilih menyembunyikan identitas mereka karena khawatir mengalami persekusi dan diskriminasi dari lingkungan profesinya sendiri.

Seharusnya Justru Tidak Perlu Pride Month Jika…

Diskriminasi yang masif dan sistemik ini yang menurut Dokter DD menjadi alasan kenapa Pride Month menjadi sangat penting. Keberadaan Pride Month menjadi pengingat bahwa masih ada kelompok yang belum diperlakukan secara setara.

“Kalau sebenarnya tidak ada diskriminasi, Pride Month itu tidak perlu ada. Tapi karena diskriminasi masih terjadi, Pride Month menjadi pengingat bahwa setiap orang layak hidup tanpa kekerasan dan perlakuan yang tidak adil.”

Di Indonesia sendiri, menurutnya, isu kesetaraan bagi kelompok ragam seksualitas dan gender masih sangat jauh dari selesai. Bahkan untuk hak hidup dengan aman dan bebas dari ancaman kekerasan, perjuangannya masih panjang. Apalagi jika membahas tentang kesetaraan. Hal tersebut masih sangat jauh.

Ketika Pengetahuan dan Sikap Tidak Berjalan Bersama

Sebagai tenaga kesehatan, Dokter DD juga menyoroti adanya kontradiksi dalam pemahaman sebagian tenaga medis mengenai isu Ragam Gender dan Seksualitas.

Dalam ilmu kedokteran modern, orientasi seksual dan identitas gender yang beragam tidak lagi diklasifikasikan sebagai gangguan mental. Namun, menurutnya, sebagian tenaga kesehatan masih memandang ragam seksualitas dan gender sebagai penyimpangan karena dipengaruhi nilai moral dan lingkungan sosial tempat mereka tumbuh. Ini memang pendekatan yang berbeda.

Meski begitu, Dokter DD sendiri menilai bahwa seharusnya orientasi seksual atau identitas gender yang dilihat adalah orangnya, bukan nilai moral di lingkungannya.

“Yang seharusnya menjadi perhatian justru ketika seseorang tidak dapat menerima orientasi seksual atau identitas gendernya hingga mengalami penderitaan psikologis. Bukan orang yang sudah menerima orientasi seksualnya itu sendiri.”

Ia menilai banyak dokter memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik dalam bidang ilmiah, seperti membaca jurnal dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, sikap kritis yang sama belum tentu diterapkan ketika berhadapan dengan norma sosial dan prasangka.

“Kadang ada semacam disonansi kognitif. Secara keilmuan mereka kritis, tetapi ketika masuk ke isu sosial, bias pribadi dan nilai yang dianut masih sangat berpengaruh.”

Minimnya Pembekalan di Pendidikan Kedokteran

Menurutnya, persoalan ini berkaitan dengan minimnya pendidikan mengenai keragaman seksualitas dan gender di dunia kedokteran.

Dokter DD bercerita bahwa ia pernah mengikuti sebuah seminar kedokteran yang membahas isu ragam seksualitas dan gender. Namun, salah satu pemateri justru mengaku tidak memahami perbedaan antara identitas gender, orientasi seksual, ekspresi gender, dan preferensi seksual.

“Saya sampai berpikir, kalau materi dasarnya saja tidak dipahami, mengapa orang tersebut merasa layak membawakan topik ini?”

Hal ini juga menjadi bukti bahwa tidak adanya pembekalan materi SOGIESC yang cukup di kalangan sejawatnya. Pengalaman itu memperkuat keyakinannya bahwa masih terdapat jurang pengetahuan mengenai isu keragaman gender dan seksualitas di lingkungan tenaga kesehatan.

Ketika Kisah Pasien Dipakai untuk Memperkuat Stereotip

Saat ditanya terkait beberapa kasus terkait tenaga kesehatan yang menggunakan kasus pasien dari ragam seksualitas dan gender untuk membangun narasi tertentu, Dokter DD juga mengkritisi praktik sebagian tenaga kesehatan tersebut.

Menurutnya, ada beberapa pertanyaan etis yang seharusnya diajukan sebelum seorang dokter membagikan kisah pasien, terlebih di media sosial. Apakah pasien telah memberikan izin? Apakah kerahasiaan pasien tetap terjaga? Dan yang terpenting, apakah pengalaman satu pasien dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan seluruh kelompok?

Ia mencontohkan kasus HIV/AIDS yang selama bertahun-tahun dilekatkan dengan stigma terhadap kelompok ragam seksualitas dan gender.

“Dulu banyak anak-anak yang tertular HIV akibat transfusi darah ketika sistem penyaringannya belum seketat sekarang. Penyakit tidak mengenal orientasi seksual.”

Baginya, menggunakan satu kasus pasien untuk menggeneralisasi seluruh kelompok merupakan bentuk kesesatan berpikir yang justru memperkuat stigma buruk di masyarakat. Stigma ini pada akhirnya justru akan memperparah keadaan yang ada.

Mencari Layanan Kesehatan yang Aman

Bagi kelompok ragam seksualitas dan gender, menemukan layanan kesehatan yang aman dan bebas stigma sering kali menjadi tantangan tersendiri.

Ia mengungkapkan bahwa sebenarnya terdapat komunitas tenaga kesehatan yang berupaya menyediakan layanan kesehatan yang lebih inklusif. Komunitas tersebut beranggotakan dokter umum maupun dokter spesialis yang mendapatkan pelatihan mengenai pelayanan kesehatan berwawasan SOGIESC bagi kelompok seksualitas dan gender.

Mereka bahkan menyusun daftar tenaga kesehatan yang dinilai ramah terhadap keragaman gender dan seksualitas. Sayangnya, layanan seperti ini belum tersedia secara merata di semua daerah.

Di akhir wawancara, Dokter DD menyampaikan pesan sederhana, baik bagi sesama dokter maupun masyarakat luas.

“Jangan melihat pasien secara hitam-putih. Pasien adalah seorang individu yang utuh, terlepas dari identitas apa pun yang dimilikinya. Perlakukan mereka dengan hormat, baik di ruang praktik maupun di media sosial.”

Untuk teman-teman dari ragam seksualitas dan gender, ia juga mengingatkan bahwa situasi saat ini memang tidak mudah.

“Di masa yang sulit ini, kelompok ragam seksualitas dan gender mendapatkan tekanan dari berbagai arah. Oleh karena itu, kelompok ragam seksualitas dan gender perlu saling mendukung dan menguatkan.”

Ia pun menegaskan bahwa pandangan yang disampaikannya merupakan perspektif pribadi sebagai dokter rehabilitasi medik yang pernah bekerja di ranah kesehatan jiwa. Menurutnya, bisa saja ada psikiater atau tenaga kesehatan lain yang memiliki pandangan berbeda. Namun, satu hal yang menurutnya tidak boleh diperdebatkan adalah prinsip dasar profesi kedokteran: setiap pasien berhak diperlakukan dengan martabat dan penghormatan yang sama.

 

Ditulis oleh: Khoirul A.
Diedit oleh: Wisesa Wirayuda