Menemukan Pride di Tempat Lain: Kisah Fajar, Imigran Queer Indonesia di Amerika

SuaraKita.org – Pukul 10 pagi di New York City,  sementara Jakarta memasuki waktu malam. Fajar menyambut panggilan video kami dengan senyuman hangat. Tak terasa, sudah dua tahun sejak ia tinggal di Amerika Serikat, jauh dari Jakarta tempatnya lahir dan memulai karir sebagai aktivis kemanusiaan sejak pertengahan 2010.

Dalam rangka Pride Month tahun ini, Suara Kita mencari sosok-sosok yang mewujudkan kebanggaan—pride—dalam berbagai bentuknya. Fajar adalah salah satunya: seorang queer, penulis, dan imigran yang menemukan makna baru tentang kebanggaan di tempat lain.

“Ketika aku pergi, sebetulnya masih banyak ketidakpastian secara internal,” kenang Fajar tentang keputusannya pindah ke Amerika dua tahun lalu. “Tapi aku akhirnya memutuskan, oke, tinggal saja di sini.”

Perjalanan Fajar ke Amerika dimulai dari pekerjaannya sebagai editor untuk sebuah website Amerika, yang dia lakukan dari Jakarta selama lima tahun. Ketika perusahaannya menawarkan bantuan untuk proses imigrasi, dia menghadapi dilema yang dialami banyak aktivis Indonesia: pergi atau tetap berjuang?

“Dulu aku tipe orang yang mikir, kalau kita semua pergi, siapa yang berjuang?” ujarnya jujur. Namun setelah proses panjang yang penuh ketidakpastian, dia akhirnya memutuskan untuk berangkat. “Aku sempat tidak yakin aku bisa pergi, makanya dulu aku tidak bilang ke banyak orang kalau aku mau pergi.”

Keputusan itu bukan hanya soal pekerjaan. Fajar juga pergi untuk menjauh dari keluarga yang kurang bisa menerimanya sejak dulu. “Aku ke Amerika untuk pergi dari keluarga,” katanya dengan nada yang mencerminkan luka.

Jakarta 2014-2016: Masa-Masa Genting

Untuk memahami perjalanan Fajar, kita perlu kembali ke Jakarta pertengahan 2010-an. Saat itu, dia aktif dalam berbagai komunitas ragam gender dan seksualitas di masa yang dia sebut sebagai “masa genting” bagi komunitas.

“Aku mulai aktif pergerakan di Jakarta secara spesifik itu kan 2014, 2015, dimana itu kondisinya sedang banyak perubahan. Dan kemudian 2016 terjadi, dan seterusnya dan seterusnya,” jelasnya, merujuk pada gelombang persekusi yang meningkat terhadap komunitas ragam gender dan seksualitas di Indonesia kala itu.

Di tengah tekanan itu, komunitas justru semakin erat. “Keeratan, kedekatan, dan intensitas itu lebih ada di era itu karena juga kita butuh itu,” kenangnya. Namun, keeratan itu juga datang dengan harga: ruang gerak yang semakin sempit, perayaan yang harus tertutup, dan identitas yang harus disembunyikan di ruang publik.

Perbedaan mencolok yang Fajar rasakan adalah soal bagaimana masyarakat menghargai batasan dan privasi. Di Jakarta, spontanitas adalah norma. “Dulu kalau aku mau ketemuan, bisa ‘yuk ketemuan yuk’ nanti sore, baru ngomong siangnya atau bahkan dua jam sebelum ketemu,” kenangnya.

Di Amerika, semuanya harus direncanakan: hari apa, jam berapa, dimana, berapa lama. Bagi sebagian orang, ini mungkin terasa kaku. Tetapi bagi Fajar, ini justru menyegarkan.

“Orang-orang di sini lebih menghargai waktu, privasi, dan batasan,” jelasnya. “Sisi buruknya dari intensitas yang dulu di Jakarta, batasan itu bisa kabur. Kalau di sini jelas.”

Namun, perbedaan terbesar adalah soal kebebasan berekspresi sebagai orang queer. “Aku merasa lebih diterima di sini, lebih dalam konteks umum,” katanya. “Aku tidak menutupi diri sedemikian rupa kalau di publik. Kalau pakai ornamen atau aksesoris atau apapun yang berkaitan dengan bendera pelangi, aku tidak merasa takut.”

Tentu, konteks geografis berperan penting. Fajar membagi waktunya di New York City dan Philadelphia—dua kota di pesisir timur Amerika Serikat yang sangat progresif. Tapi bahkan dengan privilese itu, dia tidak melupakan bahwa tidak semua orang queer di Amerika merasakan kebebasan yang sama.

“Dulu aku tidak merasa bahwa menulis itu adalah pekerjaan yang berarti,” ungkapnya. “Kalau aku bilang aku penulis, orang biasanya nanya ‘nulis novel apa?’. Sementara aku tidak nulis fiksi dari dulu. Jadi aku selalu jawab ‘pekerjaan kantor’ ketika ditanya.”

Di Amerika, semuanya berubah. Ketika dia menyebut dirinya “writer”, orang langsung memahami tanpa pertanyaan meremehkan seperti “Emang dapat duit nulis?”

“Setelah aku pindah ke sini, aku merasa, oh ternyata ini profesi yang dianggap di sini dan ada artinya, ada harganya, dan ada rekognisi secara kultural di sini.”

Namun, realitas tidak selalu romantis. Karena statusnya yang masih dalam proses, Fajar harus bekerja di berbagai tempat: restoran, kafe, bahkan pabrik. “Aku masih harus kerja kasar,” akunya. Tapi ada perbedaan mencolok: “Penghasilan itu bisa hidup. Kalau kerja kayak gitu di Jakarta secara spesifik, kan susah untuk memenuhi kebutuhan hidup, untuk bayar kontrakan.”

Makna Pride untuk Fajar

Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan Fajar adalah menghadiri perayaan Pride pertamanya di usia hampir 35 tahun. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia bisa merayakan identitasnya secara terbuka di ruang publik.

“Buat aku, Pride Month itu adalah sebuah peringatan. Kata akar dari peringatan kan adalah ingat. Jadi kita mengingat apa yang terjadi sampai kita bisa merasa bisa punya kebanggaan untuk menjadi queer di dunia ini.”

“Buat aku itu sesuatu yang berarti karena aku tidak pernah mengalami itu sebelumnya selama di Indonesia. Walaupun mungkin dulu ada Women’s March dan aku bisa pakai pernak-pernik pelangi, atau biasanya ada acara-acara tertutup oleh organisasi-organisasi, tapi itu tidak sama dengan perayaan yang besar-besaran di publik.”

Bagi Fajar, Pride bukan sekadar pesta. Ini adalah pengakuan atas perjuangan panjang komunitas, terutama di Amerika yang memiliki sejarah Stonewall Riots, yang kebetulan juga terjadi di New York City. Ini adalah ruang untuk mengingat mereka yang berjuang sebelumnya, dan merayakan kemajuan yang telah dicapai—meski masih banyak yang harus diperjuangkan.

Mimpi Fajar 10 Tahun dari Sekarang

Ketika kami bertanya tentang visinya untuk 10 tahun ke depan, Fajar memberikan jawaban yang menyentuh sekaligus kompleks.

“Di sini aku bisa mikir nikah,” katanya. Tapi dia segera menjelaskan: “Aku tidak menganggap pernikahan itu adalah puncak dari pergerakan, apalagi dalam konteks dewasa ini. Tapi punya pilihan itu menurut aku tetap sesuatu yang berarti dan penting buat aku pribadi.”

“Di sini, karena aku betul-betul sendirian, aku tidak punya keluarga, dan aku tidak ada kontak lagi sama keluarga di Jakarta, jadi aku punya kebutuhan untuk punya keluarga.”

Keluarga yang dia bayangkan bukan keluarga tradisional dengan rumah pinggir kota dan pagar putih. “Tapi punya struktur keluarga yang aku bisa merasa aman di dalamnya, itu buat aku sesuatu yang aku inginkan,” jelasnya. “Dan secara hukum dan birokrasi di sini, itu mungkin terjadi. Sementara kalau di Indonesia, kan tidak.”

Meski kini tinggal ribuan kilometer dari Jakarta, Fajar tidak melupakan komunitasnya di Indonesia. Pandangannya tentang emigrasi telah berevolusi. “Tapi aku juga bilang bahwa tidak semua orang mau kabur, tidak semua orang mau pergi, dan itu pun juga pilihan yang valid dan harus dihargai.”

Dia menekankan pentingnya menghormati batas kemampuan diri sendiri. “Perjuangan itu tidak—bukan sesuatu yang harus kita berjuang sampai di luar batas kita tidak mampu lagi. Kalau merasa sudah tidak mampu, merasa sudah memberikan segala sesuatu yang sudah bisa diberikan, sudah total, tapi merasa bahwa oke, tidak bisa lagi, ini tidak bagus, gue tetap ingin pergi—pergi aja.”

Salah satu kritik tajam Fajar adalah tentang kecenderungan meniru model aktivisme Barat tanpa adaptasi lokal.

“Pendekatan dari Amerika itu bisa diterapkan, tapi dalam fragmen. Jadi tidak secara plek-tiplek sama persis,” tegasnya. “Menurut aku tidak bisa karena konteks budaya beda. Dan menurut aku kearifan lokal dan tidak pakai bahasa Inggris terus-menerus buat aku itu perlu juga.”

Dia menjelaskan bahwa akronim LGBT sendiri berasal dari Amerika Serikat dan sampai tahun 2016 tidak populer di kalangan publik Indonesia. 

Fajar juga menyoroti pentingnya merumuskan tujuan bersama yang jelas. “Kalau di sini ada tujuannya, bisa ada kesetaraan pernikahan, itu kan tujuan bersama dan besar. Nah, kalau di Indonesia tuh maunya apa? Kalau misalnya tidak mau ke arah pernikahan, apa itu? Perlu dirumuskan dan didefinisikan bersama.”

“Di sini pun tidak perfect. Di Amerika Serikat itu kita tidak hidup dengan leha-leha dengan semuanya. Berbeda saja. Di sini pun isu transgender misalnya masih digoreng dan banyak polemik di situ. Itulah fakta bahwa kita sudah dapat haknya, tapi bukan berarti hidupnya lancar terus,” lanjutnya. 

Menurut Fajar, Pride adalah tentang bisa berjalan di jalan dengan aksesoris pelangi tanpa rasa takut. Pride adalah tentang menyebut diri sendiri sebagai penulis tanpa rasa malu. Pride adalah tentang membayangkan masa depan dengan keluarga yang memberikan rasa aman. Tetapi Pride juga tentang tidak melupakan dari mana kita berasal, dan terus belajar, berjuang—dengan cara dan kapasitas masing-masing—untuk mereka yang masih dalam kondisi lebih sulit.

Kini matahari sudah tinggi di New York City. Fajar bersiap untuk berangkat kerja. Sementara di Jakarta, malam semakin larut. Dua dunia yang berbeda, dihubungkan oleh satu perjuangan yang sama: untuk hidup dengan bangga, untuk menjadi diri sendiri tanpa rasa takut, untuk dunia yang lebih baik bagi semua orang—di mana pun mereka berada.

Selamat Pride Month.

 

 

Ditulis oleh: Khoirul A.
Diedit oleh: Wisesa Wirayuda