Oleh: Christian Marsel Simbolon*
SuaraKita.org – Banyak orang mengenal Pride Month melalui warna-warna yang mencolok. Pelangi bertebaran di media sosial, slogan tentang kebebasan berekspresi memenuhi ruang digital, sementara berbagai simbol identitas tampil dengan begitu terbuka. Di mata sebagian orang, Pride tampak seperti perayaan yang terlalu ramai, bahkan, dianggap asing bagi masyarakat yang terbiasa hidup dalam batas-batas norma yang ketat.
Namun jarang ada yang benar-benar berhenti sejenak untuk bertanya: mengapa perayaan ini lahir?
Sebab pada mulanya, Pride tidak lahir dari pesta. Ia lahir dari luka yang terlalu lama dipendam dalam diam.
Ia lahir dari orang-orang yang berjalan dengan cemas di tengah kota. Dari tubuh-tubuh yang harus terus diawasi. Dari suara-suara yang dipaksa pelan agar tidak mengundang tatapan. Dari manusia-manusia yang terbiasa menyembunyikan dirinya sendiri, karena dunia terlalu mudah menghakimi perbedaan.
Sejarah berangkat dari peristiwa Stonewall Riots pada Juni 1969 di New York. Pada masa itu, razia terhadap komunitas queer merupakan sesuatu yang lazim terjadi. Banyak orang kehilangan pekerjaan, dipermalukan di ruang publik, ditolak oleh keluarganya sendiri, bahkan, diperlakukan seolah keberadaan mereka merupakan kesalahan sosial yang harus disingkirkan. Stonewall Riot menjadi titik ketika rasa takut yang dipendam terlalu lama akhirnya berubah menjadi perlawanan terhadap penghinaan yang terus menerus dianggap wajar.[1]
Namun sesungguhnya, yang diperjuangkan sejak awal bukan semata identitas. Yang diperjuangkan adalah martabat manusia yang selama ini dilukai oleh stigma, penghakiman, dan penolakan sosial.
Sebab ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada penolakan: ketika seseorang perlahan mulai percaya bahwa dirinya memang pantas untuk ditolak.
Di titik inilah, Pride tidak lagi hanya berbicara tentang kelompok tertentu. Ia berubah menjadi cermin tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya. Kita hidup di tengah masyarakat yang begitu sibuk menentukan siapa yang dianggap normal, siapa yang pantas diterima, dan siapa yang sebaiknya disembunyikan. Tubuh manusia diawasi, cara berbicara dinilai. ekspresi dihakimi, bahkan kehidupan pribadi sering kali diperlakukan seolah menjadi milik keramaian sosial.
Ironisnya, manusia modern tampak berkembang begitu cepat dalam teknologi, tetapi belum tentu bertumbuh dalam empati.
Paulo Freire pernah mengingatkan bahwa dehumanisasi lahir ketika manusia kehilangan kemampuan melihat sesamanya secara utuh.[2] Ketika seseorang terus menerus dipermalukan karena identitasnya, maka yang terluka bukan hanya dirinya sendiri, melainkan juga kemanusiaan masyarakat itu sendiri. Sebab dehumanisasi tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Kadang, ia hidup melalui tatapan sinis, ejekan, penghakiman moral, dan rasa malu yang dipaksakan secara perlahan hingga seseorang mulai membenci dirinya sendiri.
Karena itu, mengingat sejarah Pride seharusnya tidak berhenti pada mengenang luka. Ia juga perlu menjadi jalan untuk menyembuhkan cara pandang kita terhadap sesama manusia. Sebab luka sosial tidak akan pulih selama masyarakat masih memelihara kebencian, stigma, dan rasa takut terhadap perbedaan.
Mungkin, itulah sebabnya Pride masih terus dirayakan hingga hari ini. Bukan karena semua orang ingin menjadi pusat perhatian, melainkan karena masih ada manusia-manusia yang setiap hari dipaksa merasa bersalah atas keberadaannya sendiri.
Dan bukankah itu menyedihkan?
Kita sering berbicara tentang moralitas, tetapi lupa berbicara tentang belas kasih. Kita sibuk mempertahankan norma, tetapi lalai menjaga martabat manusia. Kita begitu takut pada perbedaan, hingga lupa bahwa setiap manusia sesungguhnya hanya menginginkan satu hal yang sederhana: ia diterima tanpa harus membenci dirinya sendiri terlebih dahulu.
Pada akhirnya, Pride mungkin bukan sekadar tentang pelangi, identitas, atau perayaan tahunan. Pride adalah pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang seharusnya kehilangan kemanusiaannya hanya agar dapat diterima oleh dunia.
Mungkin masalah terbesar kita hari ini bukan tentang keberagaman manusia, melainkan hilangnya kemampuan kita melihat manusia lain sebagai sesama. Dan mungkin pula, menyembuhkan luka itu dapat dimulai dari sesuatu yang paling sederhana: belajar kembali memperlakukan manusia sebagai manusia.
Daftar Pustaka
Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum, 2000.
Library of Congress. “About | Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender Pride Month.” Diakses 24 Juni 2026. https://www.loc.gov/lgbt-pride-month/about/.
[1] Library of Congress, “About | Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender Pride Month,” diakses 24 Juni 2026, https://www.loc.gov/lgbt-pride-month/about/.
[2] Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed (New York: Continuum, 2000), 43.
*penulis adalah mahasiswa STFT Jakarta yang tengah menjalani program Social Immersion di Perkumpulan Suara Kita. Hubungi penulis melalui christian.simbolon@stftjakarta.ac.id


