Memaknai Pride Month sebagai Seorang Buddhis

SuaraKita.org – Sekali pun Juni diperingati sebagai ‘Bulan Kebanggaan’ (Pride Month) bagi kelompok ragam seksualitas dan gender, namun, makna ‘pride’ tidak selalu dipahami dengan cara yang sama oleh setiap orang.

Dalam kesempatan kali ini, Suara Kita mewawancarai Tom (34), seorang gay Buddhis yang aktif di komunitas Buddhis Malang. Tom mempunyai pandangan yang berbeda terkait Pride Month. Baginya, Pride Month memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar perayaan identitas.

Perjalanan Tom dalam Memahami dan Merayakan Pride

Menurutnya, Pride Month lahir dari konteks sejarah dan perjuangan komunitas ragam seksualitas dan gender di Barat. Ia dengan jujur mengakui, tidak merasa relate atau terhubung dengan perayaan ini. 

“Setahu saya kan Pride Month berakar dari sejarah pergerakan teman-teman ragam seksualitas dan gender di (Negara -red.) Barat ya. Jadi, Saya sendiri sebagai orang Indonesia, sejujurnya tidak merasa benar-benar relate dengan Pride Month.”

Selain faktor sejarah perjuangan yang berbeda, alasan keamanan menjadi faktor yang berpengaruh pada caranya memandang Pride Month. Menurut Tom, sekali pun ia juga senang melihat teman-teman di negara yang lebih inklusif merayakan Pride Month, tapi di Indonesia hal ini sulit terwujud saat ini dan bahkan ia khawatir perayaan tersebut justru bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kalau melihat mereka di media sosial itu ikut senang, karena mereka bisa ada ruang untuk merayakan jati diri, orientasi mereka, tanpa merasa dihakimi dan didukung oleh negara. Sedangkan kalau di Indonesia sendiri, hal tersebut tidak bisa dilakukan dan bisa membuat kita ditangkap dan viral.”

Ia sendiri pernah merayakan Pride Month, namun sebatas pada postingan sederhana di akun sosial medianya, dan itu pun secara tersirat. Ia mengaku bahwa identitasnya lebih dari sekedar orientasi seksual. Hal ini ia dapatkan dari proses pembelajaran spiritualnya. 

Semua Orang Ingin Bahagia, Terlepas dari Apa pun Orientasi Seksualnya

Tom menyadari soal perbedaan orientasi seksualnya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika itu, ia belum memiliki pengetahuan yang cukup soal apa itu orientasi seksual. Baru seiring bertambahnya usia dan semakin mudahnya akses terhadap informasi, ia mulai memahami dirinya.

Proses menerima diri juga tidak selalu berjalan mulus. Lahir dan dibesarkan di keluarga non-Buddhis, Tom mengaku sempat mengalami kegundahan karena merasa tidak memiliki ruang yang cukup untuk menjadi dirinya sendiri.

“Saya merasa tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk menjadi diri sendiri di keyakinan sebelumnya. Ada banyak pertanyaan yang tidak terjawab dan kegundahan yang terus muncul.”

Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Kenapa saya seperti ini?” dan “Kenapa saya tidak diterima?” terus mengikutinya selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya, pada tahun 2017, ia mulai mengenal ajaran Buddha melalui sebuah yayasan Buddhis tempatnya kini bekerja.

Awalnya, ketertarikannya terhadap Buddhisme tidak dilandasi oleh pencarian spiritual yang besar. Ia justru tertarik pada pembahasan mengenai karma dan ini membuatnya lebih memahami kenapa orang-orang dilahirkan dengan orientasi seksual yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut terjadi karena setiap orang punya karma yang berbeda-beda.

“Saya merasa topik tentang karma sangat relevan dengan kehidupan saya dan menjawab banyak pertanyaan saya khususnya terkait orientasi seksual saya.”

Ketertarikan tersebut perlahan berkembang. Pada Mei 2018, ia memutuskan untuk mendalami Buddhisme secara lebih serius. Menurutnya, salah satu hal yang membuatnya bertahan dalam Buddhisme adalah perasaan diterima. Sekali pun setiap orang dilahirkan berbeda karena karma yang berbeda, kita semua punya tujuan yang sama yakni untuk bahagia dan tidak menderita.

“Dalam Buddhisme, mau orientasi seksual apa pun, jenis kelamin apa pun, atau berasal dari latar belakang apa pun, semua orang memiliki keinginan yang sama, yaitu ingin bahagia dan tidak ingin menderita.”

Ajaran tentang karma juga membantunya melihat identitasnya secara lebih utuh. Ia belajar bahwa orientasi seksual hanyalah salah satu bagian dari dirinya, bukan keseluruhan identitasnya sebagai manusia.

Pride Harus Dimulai dari Penerimaan Diri Sendiri

Dalam perspektif Buddhis, menurut Tom, pembicaraan mengenai pride seharusnya didahului dengan penerimaan diri. Seseorang perlu terlebih dahulu mengenali dan menerima kondisi kehidupannya, termasuk hal-hal yang tidak dapat dipilihnya, seperti latar belakang keluarga, negara tempat dilahirkan, budaya tempat dibesarkan, hingga orientasi seksual. Kondisi-kondisi tersebut sangat terkait dengan karma-karma apa saja yang berbuah dalam kehidupan seseorang.

Melalui pemahaman mengenai karma, ia perlahan belajar menerima berbagai kondisi dalam hidupnya.

“Dulu saya sering bertanya kenapa saya seperti ini. Tetapi sekarang saya belajar menerima bahwa kondisi saya memang seperti ini dan saya tetap bisa hidup, berkarya, dan menjalani kehidupan sebagaimana manusia pada umumnya.”

Bagi Tom, di sinilah makna pride menemukan bentuk yang berbeda. Kebanggaan bukanlah tentang orientasi seksual itu sendiri, melainkan keberanian untuk menerima diri dan menghargai kehidupan yang dimiliki. Itu semua adalah karmanya yang harus ia jalani di kehidupan saat ini.

Pride: Bangga Menjadi Manusia yang Utuh, Bukan Sekedar karena Orientasi

Dalam ajaran Buddhis terdapat konsep Precious Human Rebirth atau kehidupan manusia yang berharga. Kehidupan manusia dipandang sangat langka dan bernilai karena memberikan kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan kualitas-kualitas batin yang luhur.

“Jadi sebenarnya letak bangganya itu adalah, mau aku gay, mau apa pun orientasi seksualku, yang penting aku punya kapasitas bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, aku punya kemampuan untuk berbuat baik, dan aku bangga karena aku bisa hidup dan tidak merugikan siapa pun”.

Ia pun juga mengatakan, idealnya, tidaklah penting membeda-bedakan orang berdasarkan orientasi seksualnya. Karena itu merupakan ranah personal seseorang yang orang lain apalagi negara seharusnya tidak berhak ikut campur.

“Kita seharusnya tidak melihat dan membedakan manusia itu berdasarkan orientasi seksualnya, karena kan itu urusan ranjang orang masing-masing, urusan selangkangan orang masing-masing. Jadi ketika kita terlalu ikut campur, apalagi kalau negara yang ikut campur, itu kayak ‘ngapain sih’?”

Lebih jauh, menurutnya, orientasi seksual tidak menentukan nilai seseorang. Seorang gay, biseksual, heteroseksual, maupun identitas lainnya sama-sama memiliki kapasitas untuk berkembang dan melakukan kebaikan.

Pada akhirnya, menjadi seorang gay Buddhis bagi Tom bukan sekadar tentang memperjuangkan identitas atau mendapatkan pengakuan. Lebih dari itu, ia memaknai Pride sebagai sebuah undangan untuk menerima diri sendiri, menghargai kelangkaan kehidupan sebagai manusia, dan menggunakan kesempatan hidup ini untuk menumbuhkan kebajikan serta menghadirkan manfaat bagi sesama.

“Be proud. Be happy. Be who you are. Tetapi yang terpenting, lakukan hal-hal yang baik dan sebarkan kebaikan kepada siapa pun.”

 

Ditulis oleh: Khoirul A.
Diedit oleh: Wisesa Wirayuda