SuaraKita.org – Di tengah pemberitaan yang kerap menyoroti ketegangan sosial dan isu keamanan bagi kelompok marginal, Bunda Elvi Gondoatmojo menunjukkan bahwa keberanian untuk berkontribusi pada masyarakat dapat membuka jalan menuju penerimaan dan kohesi sosial.
Sebagai seorang transpuan yang tinggal di Depok sejak lama, perjalanan Bunda Elvi dalam membangun kepercayaan dan jembatan sosial di lingkungannya menjadi kisah inspiratif tentang ketahanan, strategi pengorganisasian komunitas, dan makna sejati kemerdekaan.
Ketika pertama kali pindah ke Depok, Bunda Elvi menyadari bahwa penerimaan tidak akan datang dengan sendirinya. ” Awalnya ibu-ibu masih melihat aku dari atas sampai bawah,” kenangnya tentang tatapan awal dari tetangga. Namun, alih-alih mundur, ia memilih strategi yang cerdas: membangun hubungan melalui kegiatan anak-anak di lingkungan Rukun Tetangga (RT) setempat terlebih dahulu, seperti mengajarkan membaca dan menulis secara gratis.
Pendekatan ini tidak hanya membuka pintu komunikasi dengan orang tua, tetapi juga membangun fondasi kepercayaan yang solid. “Dari anak-anak yang mendekat, baru kemudian ibu-ibu mereka mulai merespons,” jelasnya.
Bunda Elvi juga memahami pentingnya berkoordinasi dengan pemimpin lokal. Ia segera menjalin hubungan dengan Pak RT dan Bu RT, memberikan bantuan sembako kepada tetangga, dan secara konsisten menunjukkan niat baik. Menurutnya, strategi ini terbukti efektif dalam menghilangkan prasangka bahwa ia dan komunitas transpuan lain sebagai sesuatu yang “remeh” atau patut dikucilkan.
Dari Les Gratis hingga Paduan Suara
Titik balik terjadi menjelang perayaan Hari Kemerdekaan 2023. Tetangga sebelah kontrakannya mengajak Bunda Elvi untuk terlibat dalam persiapan acara 17 Agustus yang biasanya mencakup berbagai lomba dan pementasan di bulan September. “Bu RT bilang, ‘Bunda, ibu-ibu harus ada paduan suara,'” ujar Bunda Elvi mengenang.
Meskipun awalnya hanya diminta melatih paduan suara dengan dua lagu, peran Bunda Elvi berkembang jauh melampaui itu. Setiap malam Minggu di bulan Juli, ia memfasilitasi latihan untuk berbagai kelompok: anak-anak kecil laki-laki dan perempuan, remaja, hingga ibu-ibu. Mereka berlatih tari kreasi, senam, dan paduan suara di lapangan depan rumah, dengan Bunda Elvi menyediakan kuota internet untuk akses musik dari YouTube.
Kegiatan ini tidak hanya sukses pada 2023, tetapi berlanjut hingga 2024, 2025, dan 2026. Bahkan ketika ia tidak lagi menjadi pelatih utama, warga tetap mengundangnya untuk memberikan masukan dan penilaian. “Mereka selalu bertanya, ‘Bun, ini gimana gerakannya? Ini benar enggak?'” katanya, menunjukkan kepercayaan yang telah ia bangun.
Menghadapi Tantangan: Ketegangan dan Strategi Ketahanan
Perjalanan Bunda Elvi bukan tanpa hambatan. Pada 2024, ketika mereka sedang berlatih, seorang tetangga dari RT lain datang dan memprotes dengan dalih “ada orang mengaji.” Meskipun masjid sebenarnya jauh dari lokasi latihan, insiden ini hampir memicu konflik. “Sampai bertengkar, sampai warga lain ada yang hampir adu pukul,” kenang Bunda Elvi tentang ketegangan yang terjadi.
Namun, yang mengejutkan adalah reaksi warga RT-nya yang justru membela dan menyemangati. “Lanjut aja Kak, jangan takut. Ada kami,” kata mereka, menunjukkan loyalitas dan penerimaan yang telah terbangun. Insiden ini menjadi bukti bahwa investasi dalam membangun hubungan positif dan kontribusi nyata kepada komunitas menghasilkan perlindungan sosial yang kuat.
Bunda Elvi juga sadar akan pentingnya menjaga komunikasi terbuka dengan pihak berwenang. Ia memastikan untuk selalu melaporkan kepada RT, RW, dan bahkan pemilik kontrakan (yang merupakan seorang polisi) tentang aktivitasnya. “Yang penting jangan bikin ribut, jangan bikin onar,” katanya tentang prinsip yang ia pegang.
Lebih dari Paduan Suara: Menjadi Tempat Curhat dan Dukungan
Peran Bunda Elvi di komunitas telah berkembang jauh melampaui pelatih paduan suara. Ia menjalankan salon kecil di rumahnya, yang menjadi ruang informal untuk warga berbagi masalah—mulai dari persoalan rumah tangga, kesulitan ekonomi, hingga kebutuhan pekerjaan. “Kalau mereka potong rambut, pasti kita cerita-cerita dulu,” ujarnya.
Bagi warga, Bunda Elvi telah menjadi sosok yang dipercaya—bukan hanya karena kemampuannya, tetapi karena konsistensi dalam menunjukkan kepedulian dan perilaku positif. “Kalau ada apa-apa, mereka curhatnya ke Bunda,” katanya, mencerminkan posisinya sebagai figur komunitas yang dihormati.
Ketika ditanya tentang makna kemerdekaan menjelang Agustusan, baginya kemerdekaan adalah tentang kesetaraan sejati—kemampuan untuk bekerja dan berpartisipasi dalam masyarakat tanpa diskriminasi berdasarkan gender atau identitas.
“Kemerdekaan itu adalah kebebasan. Di saat kita setara—bisa diterima bekerja tanpa memandang gender, tanpa memandang usia, bagaimana kita diterima di masyarakat ataupun di ranah publik,” ujarnya dengan tegas. Ia membayangkan dunia di mana transpuan bisa bekerja di bank, instansi pemerintahan, atau pabrik dengan ekspresi diri mereka, tanpa prasangka atau pembatasan.
Bunda Elvi juga merefleksikan pengalaman teman-teman transpuan lainnya, terutama generasi yang lebih tua, yang masih merasa “belum merdeka” karena harus kabur dari rumah, kehilangan identitas, dan terputus dari keluarga. “Mereka pernah bilang, ‘Enak ya Bunda sudah merdeka. Keluargamu tahu. Aku masih mencari kemerdekaan sendiri,'” kenangnya, menyoroti perjuangan yang masih dialami banyak anggota komunitas.
Pesan Bunda Elvi untuk teman-teman transpuan di Depok dan daerah lain sangat praktis dan berakar pada pengalamannya: membawa diri dengan baik, bersosialisasi, dan berkontribusi positif pada masyarakat. “Bagaimana pun kita bisa membawa diri, harus bisa bersosialisasi. Kalau kita membawa diri dengan baik, pasti masyarakat akan memandang kita juga baik,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya melaporkan keberadaan kepada RT/RW, baik sebagai tamu maupun penduduk tetap, agar tetangga mengetahui dan dapat memberikan bantuan jika diperlukan. “Tetangga terdekat lah yang akan menolong kita,” katanya, menyoroti nilai praktis dari integrasi sosial.
Untuk tahun 2026 ini, Bunda Elvi memiliki rencana baru. Ia ingin membentuk grup vokal khusus beranggotakan empat ibu-ibu dengan suara yang paling kuat, yang bisa tampil di acara-acara pernikahan atau kondangan dengan membawakan lagu-lagu Islami seperti yang dipopulerkan grup Casablanca. “Karena kita berpikir dari pangsa pasarnya,” jelasnya tentang strategi praktis yang tetap menghargai konteks budaya mayoritas Muslim di lingkungannya.
Meskipun ia seorang Katolik, Bunda Elvi tidak melihat ini sebagai hambatan, justru sebagai peluang untuk menunjukkan bahwa keberagaman bisa berdampingan harmonis. “Warga juga bilang, ‘Padahal Bunda Katolik, tapi juga bisa ngajarin musik-musik Islami,'” katanya, mencerminkan apresiasi warga atas inklusivitas yang ia tunjukkan.
Kisah Bunda Elvi adalah bukti hidup bahwa penerimaan sosial bukan datang dari menunggu perubahan sikap masyarakat, tetapi dari tindakan nyata, konsistensi, dan keberanian untuk berkontribusi.
Di tengah narasi ketakutan dan marginalisasi seperti belakangan ini, ia memilih jalan keberanian—membangun jembatan, bukan tembok. Dan dalam prosesnya, ia tidak hanya menemukan rumah di lingkungannya, tetapi juga membantu mendefinisikan ulang makna kemerdekaan bagi dirinya dan generasi transpuan mendatang.
Ditulis oleh: Khoirul A.
Diedit oleh: Wisesa Wirayuda





