Oleh: Christian Marsel Simbolon & Diva Novegly Sianturi*
SuaraKita.org – Dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) dan International Day Against Homophobia, Biphobia, and Transphobia (IDAHOBIT) 2026, Perkumpulan Suara Kita menggelar talkshow daring bertajuk “Dunia Kerja Inklusif: Cerita Bertahan, Tumbuh, dan Mengubah” melalui platform Zoom. Kegiatan ini menghadirkan berbagai narasumber dari latar belakang gerakan buruh, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil untuk membahas tantangan serta harapan dalam mewujudkan dunia kerja yang lebih aman dan setara bagi semua orang.
Diskusi yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut juga menyoroti pentingnya membangun solidaritas lintas sektor. Serikat buruh, organisasi masyarakat sipil, komunitas, media, dan masyarakat umum dinilai memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang menghormati keberagaman dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Dipandu oleh Diva Novegly Sianturi, mahasiswi Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta yang sedang menjalani program Social Immersion di Perkumpulan Suara Kita. Dalam pembukaannya, Diva menyampaikan bahwa talkshow ini menjadi ruang refleksi bersama untuk melihat kembali kondisi dunia kerja saat ini sekaligus mendengarkan pengalaman dari berbagai kelompok yang masih menghadapi hambatan dalam memperoleh akses pekerjaan yang layak.
Bagi sebagian orang, kerja adalah berbicara soal kesempatan untuk berkembang dan memperbaiki hidup. Tapi bagi sebagian yang lain, kerja juga bisa berarti proses panjang yang penuh pertimbangan, mulai dari diterima atau tidak, dipandang layak atau tidak, sampai harus berhadapan dengan penolakan yang tidak selalu dijelaskan secara terang.
Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei dan IDAHOBIT pada 17 Mei kemarin, pertanyaan tentang siapa yang benar-benar punya akses ke pekerjaan yang aman dan layak kembali terasa semakin relevan. Karena pada kenyataannya, tidak semua orang berdiri di titik yang sama dalam dunia kerja saat ini. Ada yang boleh datang melangkah dengan lebih mudah, ada juga yang harus bergumul lebih keras bahkan sebelum masuk ke pintu pekerjaan.
Komunitas Ragam Gender dan Seksualitas menjadi salah satu yang sering berada dalam situasi itu. Bukan hanya soal kemampuan atau pengalaman kerja, tetapi juga soal bagaimana mereka diterima dalam ruang sosial yang lebih luas. Dunia kerja, pada banyak situasi, masih bergerak dalam struktur yang belum sepenuhnya terbuka terhadap keberagaman identitas. Hari Buruh Internasional pada 1 Mei dan IDAHOBIT pada 17 Mei menjadi ruang untuk berbicara tentang kerja, hak, dan keberagaman.
Ardi selaku moderator mulai memperkenalkan para narasumber yang hadir dari berbagai latar belakang dan pengalaman. Di antaranya Ajeng dari Perempuan Mahardika yang membawa perspektif gerakan perempuan dalam membaca isu kerja dan ketimpangan sosial. Hadir pula Dewi Nova, seorang artivis (seniman-aktivis) yang melihat kerja tidak hanya sebagai ruang ekonomi, tetapi juga ruang ekspresi dan keberlanjutan hidup. Dari sisi gerakan buruh, terdapat Ratri Ninditya dari SINDIKASI (Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi) yang menyoroti kondisi kerja di sektor media dan industri kreatif yang masih dibayangi ketidakpastian dan lemahnya perlindungan kerja. Sementara itu, Ratu Reza Umami hadir membawa pengalaman langsung dari komunitas sebagai pekerja seks transpuan sekaligus konselor komunitas dalam isu pencegahan IMS dan HIV/AIDS, yang menunjukkan bagaimana akses terhadap kerja layak masih menjadi tantangan nyata bagi kelompok rentan. Dan ari ranah serikat buruh nasional, Ibu Jumisi dari KPBI (Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia) turut memperkuat diskusi dengan menyoroti persoalan ketidakpastian kerja yang bersifat struktural dan dialami luas oleh berbagai kelompok pekerja.
Lebih dari 30 orang bergabung melalui Zoom. Mereka datang dari berbagai tempat dan latar belakang, membawa pengalaman masing-masing. Ruang itu terasa seperti pertemuan kecil yang diam-diam menyatukan banyak cerita tentang kerja dan kehidupan.
Forum juga menyediakan Juru Bahasa Isyarat untuk teman-teman PERWADI Bandung, peserta dengan disabilitas tunarungu agar bisa mengikuti jalannya diskusi melalui Zoom. Kehadiran inisiatif itu membuat ruang diskusi terasa lebih inklusif secara nyata. Hal sederhana itu menunjukkan dan membuka akses komunikasi yang lebih luas, dan menghadirkan kesan bahwa setiap peserta tetap memiliki ruang yang setara dalam percakapan.
Diskusi diawali dengan pemaparan Jumisi dari Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) yang menyoroti persoalan ketidakpastian hubungan kerja di Indonesia. Menurutnya, berbagai bentuk pekerjaan yang tidak memiliki kepastian status berdampak langsung terhadap upah, jam kerja, perlindungan sosial, hingga jaminan kesehatan para pekerja.
Salah satu kutipan yang menarik dari Ibu Jumisi dari KPBI. Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian dalam dunia kerja bukan hal yang berdiri sendiri, tapi sudah menjadi bagian dari sistem. Ia lalu menggambarkan bagaimana ketidakpastian itu terasa dalam hidup sehari-hari: upah yang tidak stabil, jam kerja yang berubah-ubah, sampai jaminan sosial yang tidak selalu bisa diandalkan. Dalam situasi seperti itu, kerja bukan hanya soal mencari penghasilan, tapi juga soal menghadapi ketidakpastian yang terus berulang.
“Ketidakpastian hubungan kerja berdampak pada upah yang tidak pasti, tempat kerja yang tidak pasti, jam kerja yang tidak pasti, hingga jaminan sosial yang tidak pasti,” jelas Jumisi.
Jumisi juga menyoroti kelompok-kelompok yang mengalami kerentanan berlapis dalam dunia kerja, seperti perempuan, buruh migran, pekerja rumah tangga, penyandang disabilitas, serta individu dengan orientasi seksual dan identitas gender yang beragam. Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut masih menghadapi berbagai hambatan dalam mengakses ruang kerja yang aman, layak, dan bebas diskriminasi.
Dari sana, diskusi berlanjut ke soal kelompok-kelompok yang paling sering berada dalam posisi rentan. Perempuan, buruh migran, pekerja rumah tangga, pekerja disabilitas, sampai komunitas dengan orientasi seksual non-heteronormatif, semuanya disebut sebagai kelompok yang sering menghadapi hambatan lebih besar dalam dunia kerja.
Ratu Reza Umami mengatakan bahwa bisa berbicara di ruang diskusi kali ini saja sudah berarti banyak. Kalimat itu memang tampak sederhana, tapi cukup menggambarkan bahwa kadang yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan atau teori, tapi juga ruang untuk didengar. Di sisi lain, kolom chat Zoom terus bergerak. Orang-orang saling merespons, memberi dukungan, dan menanggapi satu sama lain. Percakapan tidak hanya terjadi di layar utama, tapi juga di sisi kecil layar yang terus hidup selama diskusi berlangsung.
Menjelang penutupan acara, para narasumber sepakat bahwa perjuangan mewujudkan dunia kerja yang inklusif tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Kolaborasi, dialog, dan saling dukung menjadi langkah penting untuk memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja, berkembang, dan hidup secara bermartabat.
Talkshow kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta yang hadir dari berbagai daerah dan lembaga. Melalui peringatan May Day dan IDAHOBIT 2026 ini, Perkumpulan Suara Kita berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam membangun dunia kerja yang lebih adil, aman, dan inklusif bagi semua.
*Para penulis adalah mahasiswa STFT Jakarta yang tengah menjalani program Social Immersion di Perkumpulan Suara Kita.







