Oleh: Christian Marsel Simbolon & Diva Novegly Sianturi*
SuaraKita.org – Suasana hangat menyambut para tamu yang mulai berdatangan ke DieuGeura Arts and Community Space, Bogor, pada Senin (1/6/2026). Sore itu, Srikandi Pakuan Panggah menggelar Pameran Karya Seni Ecoprint dan Seni Lukis yang menampilkan hasil karya teman-teman transpuan dan cis-perempuan. Pameran ini bukan sekadar ruang untuk memamerkan karya seni, tetapi juga menjadi tempat bertemunya beragam pengalaman hidup, cerita, dan harapan yang dituangkan melalui proses kreatif.
Tidak semua teriakan lahir dari suara yang keras. Sebagian lainnya justru hadir melalui warna, kertas, kain, dan goresan-goresan yang perlahan menyimpan pengalaman manusia yang mungkin telah lama dibungkam. Di tengah ruang sosial yang masih sibuk menentukan siapa yang pantas didengar, seni justru hadir sebagai cara lain untuk berbicara. Melalui kolaborasi seni lukis dan ecoprint, kegiatan ini menghadirkan ruang ekspresi sekaligus media advokasi bagi teman-teman cisgender perempuan yang mengalami diskriminasi, dan komunitas ragam gender, khususnya transpuan. Untuk itu, pameran ini hadir dan akan dibuka hingga 4 Juni 2026.
Menjelang sore hari, halaman luar DieuGera Arts perlahan dipenuhi pengunjung-pengunjung yang tampak sangat antusias. Sebelum masuk ke dalam acara, para tamu terlebih dahulu diarahkan untuk melakukan registrasi dan menerima sejumlah merchandise bertema kesetaraan dan keadilan, mulai dari stiker, gantungan kunci, hingga kupon kopi gratis. Di tengah suasana yang hangat sekarang, benda-benda kecil tersebut terasa seperti cara sederhana untuk memperkenalkan semangat yang dibawa COCOL EQ.
Tidak lama setelah sambutan, pertunjukan bertajuk Ruang Tanpa Nama mulai dipentaskan. Denting gitar, bunyi karinding, dan alat musik tradisional Jawa Barat lainnya perlahan memenuhi area terbuka DieuGera Arts. Di tengah iringan para musisi Bogor, para penari bergerak elok mengikuti ritme musik yang tenang namun emosional. Namun, pertunjukan tersebut terasa tidak sebagai hiburan pembuka semata. Gerakan tubuh para penari seolah sedang menerjemahkan pengalaman-pengalaman yang selama ini sulit diucapkan secara langsung.
Iringan musik tradisional yang semula dimainkan dengan ritme kuat perlahan berubah menjadi lebih pelan dan hening. Denting alat musik mulai meredup, menyisakan suasana sunyi yang perlahan menarik perhatian para pengunjung malam itu. Di tengah perubahan suasana tersebut, Dewi melangkah ke depan dan mulai melantunkan puisinya dengan suara yang tegas dan penuh penghayatan.
“Kami pernah belajar diam,
belajar mengecil,
belajar jadi kecil,
agar kalian merasa besar.
Kami belajar jadi diam,
agar kalian merasa aman.
Tubuh-tubuh ini…
menjadi arsip pilu,
arsip luka yang tak masuk berita.
Arsip nama yang tak pernah disebut,
arsip suara yang kalian kira sedang hanyut.
Kami belajar diam,
belajar mengecil…”
Penggalan puisi itu memberitahukan kita bagaimana rasanya kehilangan, ketakutan, dan kerinduan untuk diterima sebagai manusia yang utuh.
Memasuki sesi talkshow, Dewi selaku narasumber menyatakan, “agar sebuah pesan kampanye dapat didengar dan membekas, pesan tersebut harus lahir dan disampaikan dari hati.”
Diskusi tentang bagaimana seni dapat menjadi media advokasi dan kampanye sosial yang mampu menyentuh sisi emosional manusia -pun terus berkembang. Menurutnya, pesan-pesan kemanusiaan tidak selalu dapat disampaikan secara utuh hanya melalui diskusi formal ataupun slogan-slogan kampanye.
“Pameran dan proses kreatif ini menjadi ruang aman yang nyata bagi jiwa-jiwa yang selama ini mungkin mendapat stigma atau tidak bisa menjadi realitas dirinya sendiri di kehidupan sosial,” tegasnya.
Seni memang adalah sebuah ruang ekspresi, tetapi disatu sisi juga dapat menjadi ruang pemberdayaan dan ruang bercerita tanpa rasa takut terhadap stigma sosial. Melalui lukisan maupun ecoprint, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengekspresikan pengalaman hidup dan kegelisahannya. Selain berbicara mengenai advokasi, Dewi juga membagikan pengalamannya mengenai hasil karya yang mulai mendapatkan apresiasi dari pengunjung. Menurut pengakuannya, ada produk yang dipamerkan berhasil terjual selama kegiatan berlangsung. Bagi para peserta, hal tersebut bukan hanya soal penjualan karya, tetapi juga tentang bagaimana proses kreatif dapat membuka peluang pemberdayaan dan kemandirian ekonomi di masa depan.
Dalam pemaparannya, Kak Dewi Simorangkir menjelaskan bahwa seni memiliki kemampuan untuk menyampaikan pengalaman hidup dan pesan sosial yang sering kali sulit diungkapkan secara langsung.
“Seni memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan yang terkadang sulit diungkapkan melalui kata-kata. Melalui karya seni, pengalaman hidup dan suara teman-teman yang selama ini belum banyak didengar dapat disampaikan dengan lebih utuh,” ujarnya.
Seperti pemikiran filsuf Denis Diderot, seni melampaui sekat-sekat pembatas, yang artinya seni bisa menjadi media advokasi. Pertanyaan selanjutnya, apakah boleh secepat itu meromantisasi seni sebagai media advokasi? dan apakah karya-karya ini nantinya dapat dibawa keluar melalui kolaborasi, produksi karya yang lebih luas, atau mungkin melalui pameran dan lelang seni?
Menanggapi hal tersebut, Dewi menjelaskan bahwa kegiatan ini memang dirancang tidak berhenti hanya pada pameran empat hari semata. Menurutnya, karya-karya yang dihasilkan diharapkan terus berkembang dan membuka peluang kolaborasi dengan komunitas maupun organisasi lain ke depannya.
Pertanyaan lain datang dari Bambang Prayudi, perwakilan Perkumpulan Suara Kita yang menyoroti keberlanjutan gerakan setelah COCOL EQ selesai dilaksanakan. Ia mempertanyakan kemungkinan ruang kolaborasi yang lebih terbuka bagi komunitas dan organisasi lain dalam mendukung gerakan seni berbasis advokasi tersebut. Sementara itu, Putri mengangkat pertanyaan mengenai relevansi seni di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) saat ini. Pertanyaan tersebut kemudian membawa diskusi pada refleksi mengenai bagaimana pengalaman emosional dan pengalaman manusia tetap menjadi sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Di akhir kegiatan, sambil menikmati hidangan rujak dengan sambal dan bumbu cocol– nya, terjadi percakapan antara mahasiwa/i magang dengan pemilik DieuGera Arts, yaitu: pak EB, dan istrinya. Percakapan ini menghadirkan refleksi lain mengenai pentingnya ruang aman bagi komunitas. Mereka menjelaskan bahwa cafe dan ruang seni tersebut sengaja dibuka sebagai tempat berkumpul dan berekspresi bagi berbagai komunitas, termasuk komunitas transpuan. Di tengah situasi sosial yang membuat ruang bagi komunitas tertentu semakin terbatas di ruang publik, terlebih adanya Peraturan Daerah Kota Bogor Nomo 10 Tahun 2021, tentang pencegahan dan penanggulangan perilaku menyimpang seksual (P4S). Ini cukup mengerucutkan kegiatan sosial komunitas LGBTQI+ dan Srikandipakuan. Sehingga, niat dari pak EB dan istrinya, serta keberadaan cafe seperti ini dapat dimaknai lebih dari sekadar lokasi acara.
Sebagai penutup, hanya ada ungkapan syukur yang terlintas dalam hatiku kepada Sang Pencipta di malam itu. Tamu yang hadir dapat melihat karya-karya yang dipamerkan, yang tidak hanya berhenti sebagai pajangan seni. Melainkan, di setiap kain, warna, puisi, dan lukisan, aku dapat melihat pengalaman-pengalaman manusia yang perlahan menemukan ruang untuk dilihat dan didengar kembali.
Suasana Ruang Pameran Seni
Setelah itu, para tamu diajak memasuki ruang pameran untuk melihat berbagai karya ecoprint dan seni lukis yang dipajang. Dinding-dinding ruangan dipenuhi karya dengan warna, motif, dan cerita yang beragam. Setiap karya menghadirkan pengalaman yang berbeda, mulai dari kisah tentang kehidupan sehari-hari, harapan, perjuangan, hingga refleksi personal para pembuatnya.
Sebelum memasuki area utama pameran, pengunjung terlebih dahulu disambut oleh sebuah video reflektif yang menampilkan kalimat-kalimat advokatif seperti “Tubuh ini milik siapa?”, “Kesetaraan bukan hadiah”, hingga “Kami diam bukan berarti tidak ada.”
Begitu melangkah menuju sudut-sudut ruangan, suasana pameran terasa tidak lagi hanya sekadar menghadirkan karya seni. Seolah olah, di antara kain-kain ecoprint, lukisan, serta instalasi visual yang dipamerkan, ada banyak suara-suara yang selama ini dibungkam. Setiap sudut ruangan, terasa seperti digantung pengeras suara yang berisi teriakan, pengalaman, dan kegelisahan yang selama ini sulit memperoleh ruang di kehidupan sosial.
Sejumlah pengunjung tampak berhenti cukup lama di depan karya tertentu, memperhatikan detail warna, bentuk, dan pesan yang terkandung di dalamnya. Sebagian memilih diam, sebagian lain memilih mengabadikan dirinya bersama karya itu, sementara yang lain memilih berdiskusi mengenai karya-karya tersebut dengan senimannya langsung. Di ruang inilah berbagai karya seni dalam COCOL EQ mulai berbicara dengan caranya masing-masing.
Salah satu karya yang paling menyita perhatian pengunjung malam itu adalah lukisan berjudul Dibungkam (2026) karya Ayu. Di tengah ruangan yang dipenuhi berbagai warna dan karya visual lainnya, lukisan tersebut menghadirkan suasana yang lebih sunyi dan reflektif. Dalam bagain deskripsinya, Ayu menjelaskan bahwa lukisan itu berbicara mengenai seseorang yang “dibiarkan hidup tetapi tidak diizinkan menjadi utuh.” Kalimat tersebut terasa menggantung cukup lama di dalam ruang pamer, menyatu dengan tatapan para pengunjung yang berdiri diam di depannya.
Melalui pameran ecoprint dan seni lukis, para peserta tidak hanya memperoleh ruang untuk mengekspresikan diri, tetapi juga mendapatkan keterampilan yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi. Karya-karya yang dihasilkan memiliki nilai jual dan dapat menjadi sumber penghasilan tambahan, sehingga proses berkarya dapat membuka peluang menuju kemandirian ekonomi di masa depan.
Pameran ini menunjukkan bahwa seni tidak hanya hadir sebagai karya yang dipajang di atas dinding, tetapi juga sebagai medium yang mampu mempertemukan banyak orang, membuka ruang dialog, dan menghadirkan pemahaman yang lebih luas terhadap beragam pengalaman hidup. Melalui kegiatan ini, Srikandi Pakuan Panggah berharap seni dapat terus menjadi jembatan untuk memperkuat solidaritas, memperluas ruang ekspresi, serta menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi setiap orang untuk berkarya dan bertumbuh bersama.
*Para penulis adalah mahasiswa STFT Jakarta yang tengah menjalani program Social Immersion di Perkumpulan Suara Kita.










