Kumpul Anggota: Agustusan Keliling Depok

SuaraKita.org – Di tengah situasi penuh ketakutan akibat viralnya Perpres 111/2025, Suara Kita menggelar Kumpul Anggota pada 13 Agustus 2026. Setelah dua bulan vakum, kegiatan ini hadir sebagai ruang solidaritas dan dukungan bagi komunitas transpuan di Depok yang semakin terpinggirkan. Banyak dari mereka mengaku takut keluar rumah, kehilangan pemasukan baik itu bekerja sebagai pekerja seks maupun pengamen, dan menghadapi risiko persekusi.

Kegiatan ini lahir dari banyaknya pengaduan komunitas sekitar Depok kepada Suara Kita. Mereka membutuhkan ruang aman, dukungan moral, sekaligus bantuan praktis untuk bertahan. Biasanya Kumpul Anggota diisi dengan diskusi atau nonton bareng, namun kali ini fokus diarahkan pada aksi nyata: pembagian sembako, asesmen kebutuhan, dan membangun solidaritas.

Sejak pagi, sekitar 20 anggota dan volunteer Suara Kita bersama kolektif Where We Belong berkumpul di kantor Suara Kita. Menyiapkan 87 paket sembako, lalu membagi diri menjadi tiga tim. Dengan angkot dan kendaraan pribadi, tim menyebar ke titik-titik komunitas di Depok.

Di setiap lokasi, selain membagikan sembako, dilakukan asesmen cepat: kepemilikan KTP, akses BPJS Kesehatan, hingga pengalaman kekerasan di jalanan. Hasilnya menunjukkan hampir semua sudah memiliki KTP, meski ada yang hanya menyimpan fotokopi karena kehilangan dokumen asli. Namun sebagian besar belum memiliki BPJS Kesehatan, memperlihatkan rapuhnya jaring perlindungan sosial. Meski begitu, beberapa orang penerima manfaat mengatakan sudah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Dari total 87 transpuan penerima manfaat, beberapa mengatakan bahwa tidak sulit membuat KTP di kota Depok. “Saya pernah kehilangan KTP, ngurusnya cepat, satu hari langsung jadi. Kalau BPJS bingung bayarnya gimana.” jelas salah satu penerima manfaat.

Selain pembagian sembako dan asesmen kebutuhan, muncul pula peluang kolaborasi dengan pihak RT setempat untuk membantu tindak lanjut kepemilikan KTP dan akses BPJS bagi komunitas yang belum memilikinya.


Skema BPJS gratis sebenarnya dapat diakses melalui surat keterangan tidak mampu dari RT/RW dan kelurahan, sehingga koordinasi lintas pihak menjadi penting. Menariknya, salah satu penerima manfaat memilih tetap menggunakan BPJS kelas 3 berbayar agar mendapat kepastian layanan, meski tersedia opsi gratis. Hal ini menunjukkan dinamika pilihan komunitas antara akses gratis dengan jaminan layanan yang lebih terurus.

Selesai berkeliling kota Depok, para volunteer kembali ke kantor Suara Kita untuk melakukan refleksi dan berbagi soal penemuan apa yang didapat. Di momen ini, para volunteer mengatakan bahwa komunitas Depok kini minimal tidak merasa sendirian dan tahu ke mana harus melapor bila mengalami persekusi atau membutuhkan pendampingan hukum maupun kesehatan.

Di tengah suasana kehangatan, beberapa volunteer yang juga terdiri dari generasi muda mengatakan bahwa melihat perjuangan teman-teman Ragam Gender kota Depok yang begitu sulit menjadi pelajaran berharga, dan juga bahwa harapan itu masih ada.

“Melihat teman-teman queer senior yang terus berjuang untuk hidupnya, menumbuhkan rasa optimisme saya.” ujar salah satu perwakilan Where We Belong.

Di balik itu semua, beberapa tantangan tetap terasa. Seperti misalnya kesulitan mengumpulkan komunitas dalam satu lokasi karena rasa takut. Selain itu juga keterbatasan bantuan yang hanya bertahan beberapa hari, karena permasalahan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan mereka bisa memiliki pekerjaan layak dan perlindungan sosial yang memadai.

Melalui kegiatan ini, Suara Kita berharap komunitas tetap semangat menjalani hari, tidak lagi mengalami persekusi, dan mengetahui jalur pelaporan bila menghadapi kekerasan. Situasi ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan darurat kemanusiaan yang menuntut perhatian bersama. Pada momen Agustusan ini, mari kita pastikan setiap orang dapat hidup aman, sehat, dan bermartabat. Karena di tengah rasa takut dan keterbatasan, solidaritas adalah satu-satunya harapan. (Esa)