Apollo: Cerita Freelancer Trans di Industri Kreatif Indonesia

SuaraKita.org – Masih dalam perayaan Bulan Buruh dan IDAHOBIT (International Day Against Homophobia, Biphobia, and Transphobia) tahun ini, Suara Kita berkesempatan berbincang dengan Apollo, seorang transpria pekerja lepas, illustrator, animator, dan storyboard artist. Pengalamannya selama lima hingga enam tahun di industri kreatif membuka perspektif unik tentang tantangan pekerja lepas dengan identitas ragam gender di Indonesia.

“Kalau boleh blak-blakan, saya ambil freelancer itu lebih ke arah karena enggak ada pilihan lain,” ungkap Apollo dengan jujur. Baginya, bekerja sebagai karyawan tetap di industri kreatif lokal tidak menjanjikan keseimbangan antara usaha yang dikeluarkan dengan kompensasi yang diterima.

Perjalanan kariernya dimulai sejak masa kuliah dengan menerima proyek ilustrasi kecil-kecilan. Namun, baru dua hingga tiga tahun terakhir ia benar-benar terjun ke jenjang profesional. Beberapa proyek besar yang pernah digarapnya termasuk mengerjakan storyboard dan keyframe untuk musik video kolaborasi Cinta Laura Kiehl dan Ramengvrl berjudul Bossy, serta menjadi storyboard artist untuk musik video Raisa Nyaman Tak Cukup.

“Waktu itu saya sebenarnya lebih ke arah masih anak magang, tapi sudah dikasih tanggung jawab yang sangat profesional. Jadi bukannya saya minder, tapi saya juga merasa wow, sudah dipercaya,” kenang Apollo.

Tantangan & Ruang Aman

Sebagai pekerja lepas, Apollo menghadapi tantangan berbeda dari karyawan tetap: tidak ada BPJS, tidak ada tunjangan, dan penghasilan yang tidak stabil. Namun, ada sisi positif yang ia rasakan sebagai individu trans.

“Salah satu pro-nya itu, mereka enggak terlalu memperhatikan identitas kamu atau pendirian kamu. Jadi mau kamu orangnya bagaimanapun, asalkan skill set yang kamu punya sesuai dan bisa membantu ke proyeknya, mereka enggak terlalu peduli,” jelas Apollo.

Dalam dunia freelance, umumnya yang dinilai adalah portfolio, komunikasi, dan hasil pekerjaan, bukan identitas gender atau orientasi seksual. Hal ini menciptakan ruang aman bagi pekerja ragam gender untuk berkembang tanpa diskriminasi langsung.

Apollo menekankan pentingnya menjaga informasi pribadi dalam bekerja sebagai freelancer. Menurutnya, klien tidak perlu mengetahui nama lengkap, gender, atau identitas pribadi lainnya kecuali untuk keperluan administrasi integral.

“Salah satu hal penting ketika masuk ke bidang kerja, apalagi freelance, adalah kamu harus paham identitas mana yang employer atau pengontrak enggak perlu tahu,” tegas Apollo.

Praktik ini bukan hanya untuk mencegah diskriminasi, tetapi juga melindungi diri dari pencurian identitas dan penipuan digital. Banyak freelancer menggunakan nama alias dalam portfolio dan komunikasi profesional, dan hanya memakai nama asli saat transaksi pembayaran atau pengurusan dokumen resmi.

Solidaritas Komunitas Freelancer Industri Kreatif

Meski tidak memiliki serikat pekerja formal, komunitas freelancer di industri kreatif membangun sistem solidaritas sendiri. Mereka membuat daftar blacklist studio bermasalah, baik karena pembayaran tidak sesuai, praktik overworking, maupun pelecehan seksual.

“Sebelum kasus Brandoville Studio keluar, studio itu sudah di-blacklist di sekitaran kenalanku. Jangan melamar ke mereka atau menerima proyek dari mereka.” ungkap Apollo.

Sebaliknya, ketika ada proyek yang membutuhkan tenaga tambahan, mereka saling merekomendasikan. Sistem ini menciptakan jaringan dukungan informal yang kuat, meski tidak terorganisir secara formal.

Apollo menegaskan bahwa networking adalah hal paling krusial dalam dunia freelance.

“Kalau kamu enggak ada network, enggak makin dikembangkan, dan enggak kenalan orang baru, kamu enggak bakal dapat kerjaan baru. Intinya. Kalau kamu kerja lepas, kamu bergantung pada pekerjaan yang ditawarkan dari network-mu,” tegasnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menabung, menghindari tren-tren konsumtif seperti Pop Mart atau mystery box, serta mempelajari literasi finansial dan perpajakan.

“Kalau bisa ikut kelas literasi finansial, saya sangat rekomendasikan. Saya sendiri belajar full literasi finansial saat terjun,” saran Apollo.

Apollo juga mengingatkan bahwa kesehatan adalah aset terpenting. Tanpa kesehatan, tidak ada penghasilan.

“Jangan cepat putus asa. Kalau kamu harus pindah pekerjaan atau pindah bidang enggak apa-apa. Ikutin aja, yang penting halal, yang penting kamu dapat duit, yang penting kamu sehat,” pesannya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Apollo tetap optimis.

“Kalau memang kondisinya benar-benar hopeless, kalau memang kita bakal kalah semua, orang-orang di atas enggak bakal mati-matian untuk menghentikan kamu. Kalau mereka masih melakukan itu, berarti kamu masih ada kesempatan untuk hidup dan menang,” tutup Apollo penuh semangat.

Pengalaman Apollo menunjukkan bahwa menjadi freelancer dengan identitas trans di Indonesia adalah perjalanan penuh tantangan, namun juga membuka ruang kebebasan yang tidak selalu tersedia dalam pekerjaan formal. Kuncinya adalah membangun jaringan yang kuat, menjaga literasi finansial, dan tidak pernah menyerah dalam menghadapi kesulitan.

 

 

Ditulis oleh: Khiorul A.
Diedit oleh: Wisesa Wirayuda