Oleh: Khoirul A.*
SuaraKita.org – Membahas tentang ragam minoritas seksual dan gender bukanlah sekadar membahas identitas mereka, tetapi juga berbagai tantangan dan permasalahan hidup, khususnya terkait dengan cara mereka bertahan “in this economy.” Kali ini, Suara Kita meliput kisah Alif, seorang transpria yang berusaha bertahan hidup jauh dari kampung halamannya di Kalimantan Tengah.
Alif bercerita bahwa ia merantau ke Bogor sejak dua tahun lalu. Keputusannya merantau bukanlah tanpa alasan. Sebuah percakapan mengenai dirinya saat Lebaran beberapa tahun lalu menjadi titik balik keinginannya untuk keluar dari lingkungan keluarga yang ia rasa tidak memahami dan malah menghakiminya.
“Itu tuh pas Lebaran, kayaknya tahun 2024. Aku lagi ngambil makan ke dapur, nggak sengaja nguping pembicaraan mamaku sama saudaranya. Aku tuh dibilang kerjanya nggak becus lah, sebentar kerja udah berhenti.”
Sebelum memutuskan merantau, Alif sempat bekerja di pertambangan. Namun karena kendala teknis di lapangan, ia pun dirumahkan sementara waktu. Keluarga justru menghakimi Alif yang dituduh bekerja tidak benar. Hal tersebut diperparah dengan komentar-komentar dari saudara terkait ekspresi diri Alif.
Hal inilah yang membuat Alif bertekad untuk merantau jauh dan membuktikan diri bahwa ia tidak seperti yang dituduhkan.
Di perantauan, Alif mendapatkan berbagai tantangan tersendiri karena semuanya serba tak pasti. Ia sempat membuka usaha thrift shop, namun harus menghadapi berbagai hambatan, mulai dari lokasi yang tidak strategis hingga kehilangan handphone akibat pencurian. Hal tersebut kemudian diperparah dengan kebijakan pemerintah yang melarang usaha thrift shop sehingga Alif harus menyesuaikan cara pemasarannya di e-commerce. Meski sudah mencoba beberapa cara, usahanya tidak berjalan lancar.
Tidak berhenti di situ, Alif kemudian bekerja serabutan sembari masih menjalankan usaha sampingan menjual baju di e-commerce. Saat itu Alif mendapatkan kesempatan untuk membantu temannya di salon, hingga ikut dalam layanan home service seperti facial dan terapi. Selama kurang lebih satu setengah tahun, ia menjalani berbagai pekerjaan untuk sekadar bertahan hidup. Tidak ada jaminan, tidak ada stabilitas, hanya usaha untuk menyambung kehidupan dari hari ke hari.
Perubahan kondisi finansial Alif pun membaik setelah ia mendapatkan pekerjaan di salah satu LSM yang bergerak di isu-isu transgender. Hal ini membuat Alif bisa bernapas lebih lega dari sebelumnya. Ia pun sekarang lebih fokus dengan pekerjaannya di LSM tersebut, di mana ia menjadi community manager.
Meski merantau dari rumah setelah dituduh tidak becus bekerja dan dikomentari oleh keluarga besar terkait ekspresi diri, Alif tidak lantas memutuskan hubungan dengan keluarga. Sebaliknya, Alif tetap menjalin komunikasi yang baik. Dalam beberapa kesempatan video call, Alif pun membiasakan keluarganya untuk melihat penampilan barunya. Hal ini membuat keluarga mulai terbiasa.
“Aku juga kalau video call udah ngebiasain ke mereka untuk ngeliat look aku yang kayak gini. Jadi makin lama makin terbiasa mereka.”
Bahkan, pada waktu saudara Alif menikah pun, ia diundang ke rumah dan disediakan kemeja batik yang sesuai dengan identitas Alif saat ini.
“Cuman terakhir pas aku pulang kan karena adikku nikah. Nah, di situ tuh secara baju itu aku udah dibeliin kemeja batik.”
Pada Lebaran tahun ini, Alif memang tidak pulang kampung karena beberapa waktu sebelum Lebaran sudah pulang ke rumah. Salah satu tips yang Alif berikan agar bisa menjalin hubungan baik dengan keluarga di rumah, khususnya orang tua, adalah dengan tidak mudah emosi.
Bagaimanapun, menurut Alif, orang tua di rumah tidak punya support system yang membantu mereka memahami berbagai fenomena sosial dan mengerti emosi mereka. Hal ini berbeda dengan teman-teman transgender yang punya support system dan komunitas untuk berbagi cerita. Oleh karena itu, kita diharapkan bisa lebih pengertian terhadap orang tua di rumah sembari pelan-pelan mengedukasi mereka.
“Makin lama aku di perantauan juga banyak teman komunitas yang bilang, kalau orang tua kita yang trans itu nggak punya support system di sana. Kalau kita yang trans di sini itu, apalagi yang udah berkomunitas, punya support system. Mereka bisa punya omongan yang mungkin menyinggung segala macam. Jadi usahakan kita jangan naik emosi duluan dari mereka. Tapi kita yang edukasi kayak gitu.”
Alif sendiri termasuk beruntung karena keluarga juga tidak menuntut apa-apa secara finansial darinya. Meski begitu, Alif masih sering memberikan bantuan finansial pada orang tua jika ia punya rezeki lebih.
“Tapi aku karena sekarang punya penghasilan, ya bisanya aku ngasih. Walaupun mereka nggak nuntut kayak mesti ngirim berapa-berapa. Tapi aku sadarlah aku punya penghasilan.”
Alif pun berpesan untuk teman-teman minoritas ragam gender dan seksualitas agar tidak takut pergi merantau. Karena di perantauan, kita bisa punya keluarga kita sendiri, keluarga yang kita pilih sendiri.
“Kita bisa memilih keluarga kita sendiri. Jangan takut melangkah ke tempat baru. Karena komunitas kita itu, apalagi trans kan memang nggak beranak, tapi generasinya akan selalu ada.”
*Penulis adalah relawan jurnalis di Suara Kita. Penulis pernah berkontribusi konten di Pelangi Dharma dan di media sosial lainnya.




