Oleh: Afrian*
SuaraKita.org – Di pabrik yang sama kami berdiri,
mesin menderu tak tanya siapa yang kau cintai.
Tangan-tangan lelah mengangkat beban pagi,
upah minimum kami rasa sama perihnya.
Mereka panggil aku aneh,
karena warna baju dan cara aku bicara.
Tapi jam lembur tak kenal nama,
hanya angka yang harus kami kejar bersama.
Hei kawan, kau yang sering diejek lemah,
kau yang sembunyi saat istirahat tiba,
lihat tangan kita: kapalan yang sama,
keringat yang jatuh ke lantai yang sama.
Solidaritas bukan soal siapa tidur dengan siapa,
tapi siapa yang berdiri saat satu dipotong gajinya.
Buruh queer bukan tempelan Mei-mu,
kami ada di baris piket, di kartu absen, di tetes kopi pahitmu.
Bulan Buruh ini kami tak minta kasihan,
hanya ruang untuk napas yang utuh.
Sebab di bawah helm proyek dan seragam SPG,
detak jantung kami sama: ingin hidup, ingin layak, ingin pulang tanpa takut.
Maka genggam tanganku, Kawan,
jangan lepas hanya karena aku beda.
Sebab musuh kita sama:
sistem yang murah membayar nyawa.
Dan di tanggal satu Mei,
biar pelangi kami berkibar di samping bendera serikat,
bukan untuk meminta,
tapi untuk berkata: kami juga pekerja. Kami juga manusia.
*Penulis adalah kontributor Suara Kita dari NTB. Penulis dapat dihubungi melalui email ahmadafrian84@gmail.com



