Halal Bi Halal Suara Kita: Nonton Disclosure dan Kritik Industri TV Indonesia

SuaraKita.org – Kegiatan Halal Bi Halal Suara Kita pada Sabtu, 25 April 2026 di Sekretariat Suara Kita, berlangsung hangat dan penuh makna. Acara yang biasanya menjadi ajang silaturahmi selepas Ramadan ini dikemas dengan nuansa reflektif.

Peserta diajak nonton bareng film dokumenter Disclosure (2020) di Netflix, yang mengulas sejarah panjang representasi transgender di layar kaca Hollywood. Film ini membuka ruang kesadaran bahwa media seringkali menggambarkan komunitas transgender secara stereotipikal, dijadikan bahan humor, atau sekadar objek tontonan.

Selepas pemutaran film, diskusi berkembang ke konteks lokal Indonesia. Peserta menyoroti betapa sulitnya akses pekerjaan di industri seni bagi kelompok transgender. Banyak yang akhirnya menerima tawaran tampil di televisi meski formatnya merendahkan.

Salah satu contoh yang diangkat adalah reality show “Be A Man” yang tayang di Global TV pada 2008–2010. Acara ini menghadirkan kontestan waria (transgender) untuk “dilatih menjadi laki-laki sejati” oleh instruktur militer, dengan tantangan ekstrem seperti panjat tebing, minum darah ular, hingga latihan fisik keras. Diskusi menekankan bahwa kehadiran mereka di layar kaca bukanlah bentuk penerimaan, melainkan menjadikan identitas transgender sebagai bahan olok-olok dan hiburan sensasional.

Refleksi ini memperlihatkan pola yang sama dengan yang ditunjukkan Disclosure: media berperan besar dalam membentuk persepsi publik, dan ketika ragam gender serta seksualitas ditampilkan hanya sebagai gimmick atau bahan hiburan, stigma dan diskriminasi semakin menguat. Peserta menegaskan perlunya ruang kerja yang inklusif di industri film dan televisi, agar komunitas transgender dapat hadir sebagai profesional dengan martabat, bukan sekadar objek tontonan. Belum lagi adanya larangan KPI, regulasi penyiaran di Indonesia yang masih berangkat dari norma konservatif, sehingga mempersempit ruang representasi yang inklusif di televisi.

Setelah diskusi yang penuh energi dan pemikiran kritis, suasana kembali cair dengan kebersamaan. Peserta menyantap sajian hangat Siomay Bandung, ditemani berbagai hidangan yang dibawa oleh peserta lain dalam format potluck. Dari obrolan ringan di meja makan hingga tawa yang pecah di sela-sela suapan, suasana Halal Bi Halal benar-benar terasa sebagai ruang aman—tempat silaturahmi, refleksi, dan perayaan identitas.

Dengan demikian, Halal Bi Halal Suara Kita tahun ini memperkuat solidaritas komunitas, mengkritisi representasi media, dan menegaskan hak setiap orang untuk hadir dengan martabat di ruang publik. Acara ditutup dengan pesan sederhana namun kuat: kebersamaan, refleksi, dan makanan hangat bisa menjadi fondasi perjuangan menuju masyarakat yang lebih inklusif. (Esa)