SuaraKita.org – Di tengah realitas kehidupan yang terus menuntut stabilitas ekonomi, banyak individu dari komunitas minoritas gender dan seksual dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dalam aktivisme atau fokus pada karier. Kisah Lucky, seorang pengurus di Suara Kita, menunjukkan bahwa keduanya tidak selalu berjalan beriringan, tetapi tetap bisa saling menguatkan.
Lucky telah terlibat di Suara Kita sejak sekitar 2017–2018 dan sempat aktif sebagai pengurus di bidang pelayanan dan humas. Namun, dalam satu tahun terakhir, keterlibatannya mulai berkurang. Bukan karena kehilangan kepedulian, melainkan karena tuntutan pekerjaan yang semakin intens.
Saat ini, Lucky bekerja di sebuah perusahaan ekspor di kawasan Cakung, Jakarta. Ia menjalankan peran sebagai purchasing sekaligus marketing, mencari barang berkualitas dengan harga kompetitif di dalam negeri, lalu menjualnya ke pasar internasional. Pekerjaan ini menuntut lebih dari sekadar jam kantor biasa. Dengan ritme kerja yang bisa melebihi 12 jam sehari, sebagian besar waktunya tersita untuk memenuhi target dan menjaga relasi bisnis.
“Jadi sebelumnya kerjaku lebih santai, kalau sekarang lebih padat kerjaku. Jadi waktuku akhirnya habis di pekerjaan formalku saja. Memang, jam kerjanya jam normal kantor pada umumnya. Tapi, kebiasaan kita kan kerja loyal ya, jadi ya kita kerja dari 12 jam itu hal yang biasa.”
Di balik kesibukan itu, ada tanggung jawab lain yang tidak kalah besar.
Lucky menjadi tulang punggung keluarga. Ia membiayai kebutuhan ibunya serta dua adiknya, satu masih kuliah dan satu lagi duduk di bangku SMA. Peran ini tidak datang dari tuntutan, melainkan dari kesadaran pribadi. Baginya, membantu keluarga bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga pilihan moral.
“Orang tua tidak menuntut untuk membantu mereka, itu aku sendiri, karena memang ya itu orang tuaku ya, jadi tanggung jawab aku saja. Sekali pun di rumah, mereka seperti keluarga biasa saja sih. Aku tidak tahu itu disebut support system atau bukan, karena memang dibilang tidak terlalu dekat, ya tidak, dibilang dekat, juga tidak sebenarnya.”
Karena hubungan yang baik-baik saja dengan orang tua tersebut, Lucky pun bisa mudik saat lebaran dengan tenang.
Menariknya, perjalanan karier Lucky di dunia kerja formal relatif lebih “lancar” dibandingkan banyak cerita lain dari komunitas. Ia sebelumnya bekerja di perusahaan teknologi seperti Bukalapak, sebelum akhirnya beralih ke sektor ekspor. Dalam proses rekrutmen, pengalaman organisasinya di Suara Kita bahkan dicantumkan secara terbuka di CV dan tidak menjadi hambatan.
“Mereka cuma statement saja. Kita tidak peduli ya, maksudnya tentang kehidupan pribadi kamu seperti apa ya, yang penting bisa kerja saja.”
Menurut Lucky, dunia kerja profesional sering kali lebih pragmatis dibandingkan yang dibayangkan. Selama seseorang mampu bekerja dan memberikan hasil, aspek personal tidak selalu menjadi fokus utama. Namun, ia juga mengakui bahwa pengalaman ini tidak bisa digeneralisasi. Banyak teman-teman lain, terutama yang beridentitas trans dan tidak “terbaca” sebagai cisgender, masih menghadapi diskriminasi yang nyata.
Di sinilah posisi Lucky menjadi reflektif.
Ia menyadari bahwa keterlibatannya di Suara Kita bukan lahir dari pengalaman personal yang penuh tekanan, melainkan dari empati. Ia melihat bagaimana banyak individu dalam komunitas masih kesulitan mengakses hal-hal mendasar, mulai dari pekerjaan hingga dokumen identitas. Karena itu, meskipun kini lebih fokus pada karier, ia tetap ingin berkontribusi, setidaknya melalui ide dan pemikiran.
“Ya kalau saya pribadi sih aman ya, makanya sebenarnya ketika saya ikut Suara Kita itu adalah kesadaran pribadi tentang simpati dan empati gitu sebenarnya. Jadi kayak aku sendiri enggak punya pengalaman sepahit yang teman-teman trans alami. Memang panggilan dari hati.”
Bagi Lucky, aktivisme sendiri juga tidak harus selalu hadir dalam bentuk aksi langsung. Ada banyak cara untuk terlibat, tergantung pada kondisi dan kapasitas masing-masing individu.
Ia juga menekankan bahwa tidak semua orang harus aktif di organisasi. Komunitas seperti Suara Kita hadir sebagai ruang dukungan, bukan kewajiban. Mereka yang membutuhkan bantuan dipersilakan datang, sementara yang sudah mandiri dapat memilih jalannya sendiri. Pendekatan ini membuka ruang yang lebih inklusif tanpa tekanan.
“Menurutku tergantung kebutuhan mereka ya. Kalau mereka memang dalam situasi yang terbatas, seperti misalnya membutuhkan bantuan karena tidak punya KTP, dan aksesnya tertutup, mau tidak mau mereka harus mencari pertolongan. Nah Suara Kita-lah salah satu channel pertolongannya. Tapi kalau mereka hidupnya sudah lebih santai, rileks gitu, ya itu terserah masing-masing kan, tidak bisa dipaksakan untuk ikut aktivisme. Tapi kalau mereka yang mau berkegiatan, silakan bisa datang.”
Dalam konteks dunia kerja, Lucky melihat potensi besar yang sebenarnya dimiliki oleh teman-teman komunitas. Kemampuan komunikasi, membangun relasi, hingga negosiasi adalah keterampilan yang sangat relevan di berbagai sektor profesional. Namun, stigma dan rasa tidak percaya diri sering kali menjadi penghalang utama untuk berkembang.
“Sebenarnya teman-teman komunitas punya skill itu, cuma mereka ragu untuk eksplorasi apa yang bisa kita lakukan dengan skill itu.”
Padahal, menurut Lucky, tidak semua tempat kerja itu sejahat itu. Memang, stigma masih banyak. Namun, masih ada orang-orang baik yang mampu menerima kita apa adanya di luar sana. Sehingga kita tidak perlu takut untuk terus mencoba melamar dan mendapatkan pekerjaan yang layak bagi kita.
“Tapi padahal sebenarnya, tidak semua orang juga kan menolak? Jadi, ya sudah keluar saja dari rasa takut itu. Lamarlah pekerjaan yang ingin dilamar.”
Menurutnya, persoalan finansial tidak bisa diselesaikan secara instan, tetapi harus dihadapi secara bertahap dengan usaha yang konsisten. Ia mendorong setiap individu untuk terus meningkatkan kapasitas diri, berani mencoba, dan tidak terjebak dalam rasa takut atau merasa dikasihani.
“Kalau mereka hanya lulusan, misalnya lulusan SD, mereka belum punya ijazah segala macam, ya sekarang kerja apa yang bisa dikerjakan. Terus, sambil misalnya kejar paket A, B, C, itu bisa. Pokoknya upgrade diri, terus-terusan upgrade diri.”
Lucky pun menambahkan, yang terpenting kita sadar akan nilai diri kita dan bisa menjualnya ke orang lain. Itu dapat menambah kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
“Kalau nanti kerja seperti apa, itu dipikirkan nanti. Sekarang yang penting bisa jualan nilai diri kita dulu. Selama kita ada value yang bisa ditawarkan, pasti bisa.”
Kisah Lucky memperlihatkan sisi lain dari realitas komunitas bahwa tidak semua perjuangan terlihat dramatis dan penuh jalan terjal. Ada juga perjuangan yang jauh dari kata riuh, namun fokus untuk menaikkan daya jual diri dengan mengasah keterampilan dan menjadi mandiri secara finansial dengan kerja di sektor formal.
Di antara karier dan aktivisme, Lucky memilih untuk tidak meninggalkan salah satunya. Ia hanya menyesuaikan cara berkontribusi pada komunitas dengan caranya sendiri.
*Penulis adalah relawan jurnalis di Suara Kita. Penulis pernah berkontribusi konten di Pelangi Dharma dan di media sosial lainnya.




