Oleh: Lena Tama*
SuaraKita.org – Selamat menjalani ibadah puasa!
Bulan puasa membuka peluang dan tantangan baru untuk para pelaku UMKM, termasuk kawan-kawan ragam gender & seksual. Oleh karena itu, mereka harus menyusun strategi penjualan sesuai dengan minat dan pola perilaku para pembeli untuk terus bisa mempertahankan usaha di tengah isu ekonomi yang kian menguat.
Pada tanggal 14 Maret 2025, Suara Kita telah mengundang kawan-kawan ragam gender & seksual serta sekutu yang berkutat di bidang UMKM. Pertemuan tersebut membahas potensi dan cara memperluas ruang kerja yang aman bagi para pegawai dan/atau pembeli ragam gender & seksual. Selain itu, mereka juga membahas sejumlah strategi penjualan di tengah bulan puasa.
Terdapat setidaknya tiga UMKM yang dikepalai oleh kawan-kawan transman secara kolektif maupun pribadi. Selain berkutat di industri makanan, mereka juga berjualan di industri lainnya dengan cara yang beragam.
Bisnis makanan berpotensi lebih laris dan melelahkan
Tentunya, bisnis makanan memiliki daya beli yang sangat tinggi di bulan puasa. Mengingat masyarakat kerap mencari makanan untuk berbuka puasa, maka banyak bermunculan UMKM yang menjual jajanan dan makanan berat, baik di sepanjang jalan maupun sebagai bentuk promosi di tempat makan mereka.
Selain itu, tidak sedikit pula UMKM yang mengalihkan prioritasnya ke industri makanan dari usaha sebelumnya. Hal ini dialami oleh Tommy, penjual binder dan pakaian dalam olahraga untuk kebutuhan kawan-kawan transman di toko online Tom Binder Shop di Shopee yang juga berjualan berbagai macam pisang di daerah Bogor, baik itu pisang matang siap makan ataupun pisang untuk olahan.
Selama bulan puasa, Tommy tidak merasa ada perubahan besar dalam penjualannya di Tom Binder Shop. Namun, ia melihat adanya peningkatan omzet dari penjualan pisang, terutama pisang untuk olahan seperti pisang kepok.
“Pisang kepok dan pisang-pisang lainnya yang biasa orang olah jadi pisang goreng atau kolak itu paling laris saat ini. Para pembeli beli pisang tersebut untuk jualan jajanan buka puasa atau masak di rumah. Jadi, saya jual pisang-pisang olahan itu lebih banyak,” kisah Tommy.
Namun, meningkatnya penjualan di industri makanan juga menambah beban kerja di bulan puasa. Para penjual bukan hanya perlu mengolah makanan-makanan tersebut di siang hari, tetapi juga harus menyiapkan tenaga lebih di periode tertentu.
Abe dan Dian merasakan hal tersebut ketika menjalankan bisnis Roti Pamur (Roti Panjang Umur) di wilayah Tebet, Jakarta Timur. Sebelumnya, mereka mulai menjual beragam menu roti kukus Thailand pada pukul 16.00 WIB. Namun saat bulan puasa ini, mereka harus buka lebih awal pada pukul 15.00 WIB dan menghadapi lebih banyak pembeli yang jumlahnya memuncak menjelang buka puasa.
Hal ini dibarengi juga oleh promosi yang mereka berikan selama bulan puasa. Terkait hal itu, Abe berkata, “Ada produk-produk yang biasanya kami jual seharga 15 ribu. Namun untuk bulan puasa, kami jual jadi 10 ribu atau 5 ribu. Efeknya, memang lebih banyak pembeli begitu mendekati buka puasa, tetapi kami juga bisa tutup lebih cepat daripada biasanya.”
Selain itu, Abe juga memiliki strategi khusus ketika melayani kawan-kawan ragam gender & seksual, khususnya kawan-kawan transgender. Bila ada kawan yang membeli roti dalam jumlah banyak menjelang buka puasa, ia akan menutup Roti Pamur selama beberapa saat.
“Kami bisa tutup sebentar kalau ada kawan-kawan trans yang beli, untuk menjaga keamanan dan privasi mereka yang makan di tempat,” lanjutnya.
Disrupsi usaha di sektor lainnya cenderung netral
Bila bisnis makanan cenderung lebih ramai di bulan puasa, lalu bagaimana dengan bisnis UMKM sektor lainnya? Berdasarkan pengalaman kawan-kawan transman, tidak ada perubahan drastis dari segi penjualan maupun jam operasionalnya.
Salah seorang di antaranya adalah Alif. Ia masih menjalankan usaha Alka Salon di Bekasi selama bulan puasa sama seperti ia menjalankan usahanya di luar puasa. Selain menawarkan potongan harga khusus di bulan puasa, pola periode pengunjung masih sepi di awal puasa dan mulai ramai menjelang akhir bulan.
Namun, karena tanggal bulan puasa tahun 2025 ini sangat spesifik dimulai di tanggal 1 Maret dan berakhir di tanggal 30 Maret, Alif merasa ada keunikan yang salonnya akan hadapi nanti.
“Kami biasanya ramai oleh pengunjung yang mau gunting rambut dan touch up sebelum mereka pulang kampung menjelang lebaran. Karena lebaran tahun ini di akhir bulan, kami harus siap bakal lebih ramai nanti,” ucap Alif.
Mari terus dukung unit usaha kawan-kawan kita di bulan puasa!
Usaha UMKM kawan-kawan ragam gender & seksual tergolong jauh lebih rentan dibanding usaha UMKM masyarakat umum, terlebih di tengah isu ekonomi seperti naiknya harga gula, tepung, dan bahan pokok lainnya, serta kerentanan ketika harus menghadapi masyarakat umum secara langsung dan berisiko menghadapi diskriminasi.
Namun di tengah bulan puasa ini, kawan-kawan terus menjalankan bisnis mereka dengan beragam strategi untuk kian mendatangkan para pelanggan dan memberikan layanan yang terbaik.
Oleh karena itu, mari terus dukung usaha UMKM kawan-kawan ragam gender & seksual! Selain membeli barang dan/atau jasa mereka, aksi-aksi lainnya yang dapat membantu mereka adalah dengan mempromosikan usaha mereka melalui media sosial atau dari mulut ke mulut.
Untuk kawan-kawan ragam gender & seksual yang masih menjalankan usaha UMKM, teruslah berjuang! Semoga penjualan di bulan puasa ini membawa berkah dan pengalaman-pengalaman berharga untuk kemajuan usahanya!
*Penulis adalah seorang penerjemah dan penulis lepas dari tahun 2016, Lena mulai mendalami dunia jurnalistik pada tahun 2020 bersama The Jakarta Post. Selain menulis, ia juga terlibat dalam pelatihan keamanan sosial dan pergerakan aktivisme untuk komunitas LGBTQ