[Puisi] Nika: Atas Nama Kebebasan

Oleh: Herlangga Juniarko* Setelah menunggu ribuan episode Cerita-cerita yang telantar Akhirnya, kita bertemu Seperti aksara-aksara yang menyusun kata DAM! DAM! DAM! Di dada kita Kata akan bebas Berdetak menjadi genderang Dalam jantung Dalam vena, aorta Atau apa pun Yang mengalir dalam raga Kita pernah melihat bocah-bocah Bahagia Tertawa Berlarian dikerumuni hujan Kemudian basah […]
[Cerpen] Surat Kecil dari Si Penakut

Oleh: Fadhil Hadju* Salam hangat, Yang terhormat bagi siapa saja yang menemukan surat kecil ini. Mungkin akan aku beratkan dengan suatu permintaan. Haturkan permohonan maaf ini kepada seluruh laki-laki yang pernah kutolak cintanya. Hasrat terdalamnya untuk memiliki diri ini. Tepatnya kepada 15 pemuda Desa Sigeri ini. Aku -yang katanya bunga desa- mungkin salah satu dari […]
[Cerpen] Kalihira Sudah Mati

Oleh: Cecep Himawan* Payudara menggantung lemas di dada figur itu. Penis di selangkangannya tegak menatap langit. Bibir vagina merekah dalam rona merah tertutupi buah zakar berbulu. Tubuhnya tersayat tanpa darah. Terluka. Tercabik. Tersakiti. Senyumnya lebar menelan udara musim semi. Dia bergerak gemulai – hendak terlihat menggemaskan tanpa harus melepas baju zirah dan bedil. Tangannya mengacungkan […]
[Puisi] Yang Porno di Eden

Oleh: Herlangga Juniarko* Pakaian itu, nanti akan Kau ambil juga, kan? ‘Ya! titipan itu hanya sementara Dan tak akan pantas lagi hinggap di taman-Ku’ Maka akan kulepas juga pakaian ini di taman itu Ketika air mancur sudah memayungi waktu Lalu, apa yang Kau pakai di sana? ‘Aku tak memakai pakaian darimu Juga tak sedikit pun […]
[Puisi] Deritaku, Ibuku

Oleh: Wisesa Wirayuda* Meramu pilu, jaga aku Cacah luka, terbuka-buka Menyakitiku, mengubahku Terbang, sayap melapang Menangis, mengais Berseteru, berseru Gelisah, amarah Menunduk, memupuk Membuang, mengukur uang Menepis, harmonis Luka biru, maafkan aku Gelagapan, lemparkan Melaju, maju Tersesat lamunan, mengantarkan Mengakhiri, mengawali Deritaku, surgaku Aku, ibuku *Penulis pernah terlibat di beberapa buku […]
Kemarin Aku Melihat Banci

Puisi karya Pendeta Johan
Dion, Antara Biru Lazuardi dan Kabut yang Sedih

SuaraKita.org – Rasanya tak mungkin. Mereka sama-sama anak tunggal. Mereka tumbuh bersama. Keluarga mereka dekat. Tak pernah ada rahasia di antara mereka.
[Cerpen] Saputangan Bersulam Halus dan Bergaya

SuaraKita.org – Mereka manusia yang lebih kompleks dari sekedar magnet yang hanya berkutub utara dan selatan.


