Qatar Mengizinkan Bendera Pelangi di Piala Dunia 2022

SuaraKita.org – Bendera pelangi akan diizinkan di stadion pada Piala Dunia 2022 setelah Qatar mengatakan akan mematuhi aturan FIFA yang mempromosikan toleransi dan inklusi pada pertandingan meskipun ada undang-undang anti-LGBT ketat negara Arab itu. Dengan waktu kurang dari dua tahun hingga turnamen, kekhawatiran terus berlanjut tentang perlakuan yang dihadapi penonton LGBT di Qatar karena aturan […]
Komunitas LGBT Bergabung dengan Demonstrasi Thailand

SuaraKita.org – Tuntutan yang diperbarui untuk persamaan hak dari aktivis LGBT Thailand telah menyertai protes pro-demokrasi baru-baru ini.
Individu Homoseksual dalam Tes Neurokognitif

SuaraKita.org – Setelah menganalisis data dari 32 penelitian yang diterbitkan antara 1980 dan 2017 yang meneliti hubungan antara kinerja kognitif dan orientasi seksual, para peneliti menemukan pergeseran lintas jenis kelamin dalam kinerja kognitif di antara individu homoseksual.
Ni-chome Distrik Gay Tokyo Menjalin Hubungan yang Lebih Kuat Meski Terpukul Pandemi Corona

SuaraKita.org – Tidak seperti distrik hiburan Jepang lainnya, Ni-chome, dengan 400 bar yang dikemas dalam ruang yang terdiri dari beberapa blok, selalu menekankan pada komunitas.
Pemerintah Inggris Bergabung dengan Amerika untuk Menjatuhkan Sanksi kepada Para Pemimpin Chechnya Terkait Kejahatan Anti-LGBT

SuaraKita.org – Inggris dan Amerika telah menjatuhkan sanksi pada tiga pejabat pemerintah Chechnya yang dianggap melakukan “pelanggaran HAM berat”.
Bolivia Menyetujui Ikatan Hubungan Sesama Jenis

SuaraKita.org – Mahkamah Konstitusi Bolivia sebelumnya memutuskan bahwa hukum negara harus konsisten dengan kewajiban hak asasi manusia internasional.
Pengawas HAM Memperingatkan Pelanggaran Hukum internasional Terkait dengan Seksualitas di Jamaika

SuaraKita.org – Komisi Hak Asasi Manusia Inter-Amerika secara resmi mengecam Jamaika, menekannya untuk mengubah undang-undang.
Seorang Mantan Pegawai Perusahaan Jepang Mencapai Penyelesaian Atas Outing LGBT

SuaraKita.org – Sebagai hasil dari negosiasi dengan lelaki dan serikat pekerja, perusahaan mengakui tindakan outing oleh atasan dan meminta maaf kepadanya pada akhir Oktober, dan juga mengaku bertanggung jawab atas penyakit mental akibat perbuatan tersebut.


