SuaraKita.org – Suara Kita kembali menggelar kegiatan yang berfokus pada inklusi dunia kerja bagi insan dengan ragam gender dan seksualitas. Pada 4 Maret 2026, telah dilakukan sosialisasi minat bakat peserta program inklusi kerja dan rapat konsolidasi inklusi dunia kerja. Kegiatan ini menjadi wadah penting untuk menggali kebutuhan komunitas sekaligus membangun komunikasi dengan stakeholders.
Dalam sesi sosialisasi di Cafe White Forest Pamulang Tangerang Selatan ini, rapat konsolidasi berlangsung dengan fokus pada konteks lapangan kerja yang masih sulit diakses oleh komunitas. Peserta juga diajak untuk mengenali minat dan bakat mereka dalam bekerja. Misalnya di sektor apa teman-teman ingin bekerja, dan juga skill apa yang mungkin ingin dimiliki demi menunjang karir mereka kedepannya. Pertemuan ini juga mempertemukan komunitas dengan mitra seperti KPA Tangerang, CV Sinar Mas, Yayasan Pelita, WCI, dan BMG.
Verawati BR. Tompul menekankan, “sosialisasi minat bakat ini untuk mengetahui kebutuhan para peserta. Hal yang berkesan adalah bertemu teman-teman jaringan baru dan pemberi kerja yang memiliki perspektif baik dalam merekrut.”
Suasana pertemuan terasa hangat, penuh perkenalan dan pertukaran pandangan. Para pemberi kerja menunjukkan sikap positif terhadap inklusi, membuka harapan baru bagi peserta. Selanjutnya, menurut Vee, Suara Kita akan menuliskan hasil minat bakat peserta, lalu berelaborasi dengan lembaga dan pemerintah daerah Kota Tangerang Selatan.
Pudji Tursana menyoroti, “situasi lapangan kerja belum bisa diakses oleh insan ragam gender dan seksualitas. Penting untuk menumbuhkan kesadaran, membangun komunikasi dengan stakeholders, dan merancang program keberlanjutan. Misalnya teman kita Mayang tidak menyadari bahwa keterampilannya sebagai instruktur aerobik bersertifikat adalah proses panjang dari sebuah pembelajaran. Ia pikir belajar hanya terjadi di sekolah formal.”
“Ada juga Pak Dadang yang merasa menjadi ayah bagi kawan-kawan komunitas di wilayah Tangerang. Itu menunjukkan relasi hangat antara pemerintah dan komunitas.”
Kegiatan ini memperlihatkan benang merah bahwa pengakuan terhadap kapasitas komunitas dan komitmen membangun dunia kerja yang inklusif. Vee menekankan pentingnya pemetaan minat bakat, sementara Pudji menyoroti kesadaran akan nilai pendidikan informal dan relasi dengan stakeholders. Keduanya saling melengkapi, menunjukkan bahwa inklusi kerja bukan hanya soal peluang, tetapi juga soal pengakuan, komunikasi, dan keberlanjutan. (Esa)







