Search
Close this search box.
enid

Cerita ‘Si Dia’ Dalam Buka Puasaku

Oleh: B*

SuaraKita.org – Pada beberapa hari pertama puasa, hujan deras dari siang hingga sore membuat beberapa titik banjir. Namun setelah beberapa hari berlalu, cuaca malah makin panas. Begitu keluar dari ruangan AC kantor, rasanya bagai dilempar ke padang pasir.

Jam tiga sore. Pikiran mulai berkelana. Bayangan es buah segar masuk tenggorokan, mengalir bagai air di perosotan Jungle, atau juga segarnya air terjun dalam iklan Adem Sari. Astaghfirullah, ini godaan, ya Allah…

Tenggorokan sudah mulai kering. Rasanya mau membegal tukang antar galon yang baru lewat untuk mengisi dispenser. Tetapi nggak mungkin, kan? Masa, mau nenggak 19 liter air dari botol raksasa itu? Apa kata karyawan dan nasabah nanti.

Ngemilin kuaci buat ngabuburit, makruh gak, ya?

Batal lah bodoh…

Bukannya haus hilang, malah nambah seret.

Jam kerja sudah mau selesai. Nasabah hari ini tidak terlalu ramai, tak seperti biasanya. Jadi, begitu sulit mencari pengalihan dari rasa haus.

Tiba-tiba…

WAH! Dia lewat. Iya! Si Dia. Orangnya ramah, penampilannya… Hmmm, OK! Belum lagi minyak wanginya, aromanya selalu menggugah rindu. Saat dia lewat, rasanya langsung berdesir bagai kipas angin level lima. Subhanallah. Penyegaran di bulan puasa.

Masalahnya, dari awal masuk kerja, memang sudah ada rasa. Tetapi ya, mana berani kalau semisal mengajak buka bareng? Umur berbeda, pengalaman beda. Takut dikira kurang ajar. Tetapi, ada bisikan hati kecil, ‘kenapa nggak coba?’ Ah, jangan deh.

Dan akhirnya…

Bedug magrib! Rasanya seperti anak SD pulang sekolah. Langsung ngacir ke warung sop kambing di depan kantor. Ramainya bukan main. Duduk lalu pesan sop kambing dan es teh dua gelas. Buat sendiri. hehe.

Lagi asyik makan bak manusia purba.

Tiba-tiba…

“Boleh duduk sini?”

DEG!  Ugh, cengo.

Si Dia berdiri di depan mata. Senyum tipis khasnya sambil membawa semangkuk sop kambing juga.

Iya boleh, BOLEH BANGET. Tetapi, ini serius?

Dia duduk. Aku secara naluri jadi makan lebih sopan dong.

Hiraukan yang tadi. Manusiawi itu. hahaha.

Dia menyeruput kuah sop dari sendoknya —bisa ya, ada manusia sememesona ini?—

Tak mau kalah, aku ikut menyeruput es teh dengan manis. HAH!?

“Sering makan di sini?” tanyanya.

“Eh… Iya, lumayan.” Padahal baru pertama kali.

“Besok buka di sini lagi?”

Aku hampir keselak. “Eh… Kalau nggak ada yang ngajak buka bareng…” Apa sih?! Meski, dalam hati rasanya bagai ada kembang api tahun baru yang mulai bertebaran.

Dia senyum. “Ya sudah, besok buka di sini bareng lagi aja.”

Senyum kuda terpampang di wajahku. Seketika puasa ini jadi makin teberkahi. Sepertinya, Allah tahu penantianku selama ini.

Rasanya besok aku bisa lebih semangat kerja. Haus dan lapar tak lagi jadi masalah pada bulan puasa ini. Terutama, bisa buka bareng, Si Dia.

 

*Penulis adalah kontributor sekaligus illustrator komik Suki di Tim Redaksi Suara Kita.