Suarakita.org- Mario Bastian, Penulis novel Kuak [1], mengungkapkan bahwa gerakan LGBT adalah gerakan yang menyelamatkan banyak orang, pada acara Bedah Buku di Suara Kita, 13 Agustus 2016. Mario pun berharap bahwa upaya kriminalisasi terhadap LGBT tidak terjadi.
“Saya berharap enggak sampai kayak gitu (kriminalisasi LGBT – red), bagi saya gerakan LGBT adalah gerakan pada akhirnya yang menyelamatkan banyak orang”, ungkap Mario.
Lalu Mario mengungkapkan bahwa kontroversi LGBT yang terjadi di Indonesia pada awal 2016 adalah sesuatu yang bagus, “Walau digencet sana-sini, setidaknya itu (LGBT – red) dibicarakan)”, ungkapnya. Dia juga menambahkan orang yang tidak tahu apa-apa tentang LGBT akan mencari tahu, “Dan siapa tahu mendarat di situs yang ngasih tahu LGBT itu apa”, tambahnya.
Kemudian Mario yang tinggal di Bandung membenarkan berita yang santer di media massa mengenai Front Pembela Islam (FPI) yang merazia kos-kosan yang diduga dihuni oleh kelompok lesbian. Tempat kos yang dirazia berjarak hanya 500 meter dari rumahnya. Dia mempertanyakan motif FPI merazia kos-kosan tersebut, apakah hanya cari pamor atau apa, “Dari mana mereka tahu kalau orang itu lesbian?”, tanya Mario.
Walau LGBT diterpa berita miring, Mario bercerita bahwa gay dan waria di Bandung masih bisa hidup dengan tenang, “Temen saya yang waria masih bisa kerja”. Dia pun optimis dengan kepemimpinan Ridwan Kamil, Walikota Bandung. Mario percaya secara personal Ridwan kamil tidak membenci LGBT dan kemungkinan LGBT mengalami diskriminasi LGBT di Bandung kemungkinan kecil terjadi. “Semoga kita bisa survive (bertahan – red) tetap bisa senang-senang tanpa menyakiti satu sama lain.” harap Mario.
Mario Bastian adalah penulis novel independen yang sudah menerbitkan dua buku novel yang bertemakan LGBT. Novel Kuak [1], Mario terbitkan tahun 2015 lalu. Kuak [1] menceritakan Nat seorang gay 24 tahun yang ingin menunjukkan identitas diri sebagai gay di depan sahabat dan keluarga. Mario mengakui bahwa nover tersebut terinspiraasi dari kisah cinta yang dia jalani. Mario sehari-hari bekerja sebagai editor di salah satu percetakan di Bandung. (Teguh Iman)