[Puisi] Empat Puluh Lima Hari & Perihal Jakarta dan Senoktah Diorama
EMPAT PULUH LIMA HARI hujan pertama yang jatuh di punggungmu ialah riwis yang ceriwis. lalu smartphone kita bersigenggam. dan dunia njelma percakapan yang akukau terkutuk didalamnya. lagi dan lagi. candu dan candu lagi. sampai kemudian kita pada rumah. dimana bara dan nyala tertera di dinding dindingnya. kau menjelma tuan rumah. aku merupa puan rumah. aih. […]
[Puisi] Pemerkosa Aturan Negara

SuaraKita.org – Puisi ini dipersembahkan untuk setiap transgender yang sedang memperjuangkan kemanusiannya dan instiusi negara dan agama yang lalai pada kemanusiaan mereka.
[Puisi] Perempuan Pelangi & Takkan Kutukar Cintamu

SuaraKita.org – Rinai hujan pagi ini baru saja berakhir. Digantikan oleh tirai cahaya yang menyusupi celah-celah awan. Wangi tanah basah menentramkan hati siapa saja yang menghirupnya. Di balik bukit itu, di antara pucuk-pucuk cemara. Muncul sebentuk prisma cahaya warna-warni. Membusur sempurna melukisi kanvas langit. Simfoni merah-jingga-kuning-hijaubiru-nila-dan ungu.
[Puisi] Aku ingin membangun Masjid

Kupersilakan, pelacur, waria, peminum untuk beribadat didalamnya.
Syiah, Sunni, Ahmadiyah, kuberi tempat.
Bersujud dalam khusyu.
[Puisi] Lelaki di Tepi Jalan itu

Suarakita.org – Perisai embun,
Basah….
Berlumur lendir bercampur darah
Bersimbah luka dan kenikmatan; menyatu peluk
Kemudian senyum dalam kegetiran
Sembari menyulut rokok sebatang
[Puisi] Hujan yang Pagi & Pengecut yang Usai Mampir

Aku terbangun masih dengan kantuk
Dan kau seenaknya hadir dengan puisi yang tiba tanpa mengetuk
Mungkin itulah takdir bahwa emosi bisa jadi spontan dan tak perlu permisi
[Puisi] Tidak Ada Minuman Keras Hari Ini

Oleh: Wida Puspitosari Seorang perempuan muda melihat batinnya dirajang sinis Purnalah ia, menuju nirwana yang kancap akan duri Euphorbia Bersama sunyi, ia berdekap mesra, menuju penghabisan Tiada kawan, apalagi kesayangan Mati sia-sia Diam-diam, darahnya muncrat dari mata rahim Cairannya akan jadi komposisi api neraka, seperti maumu Marilah kesana, akan ia cabik jantinamu […]
[Puisi] Lelaki yang Mencintai Suami

Aku cinta kamu
Tapi kamu menikahi dia,
Jika ku tanya, dapatkah kau memilih aku dan bukan dia?
Kau diam dan berbisik lirih, jangan buat aku memilih : Kalian berdua sama berarti dalam hidupku.


