[Cerpen] Untuk Akhir yang Bahagia

Suarakita.org – Saat pertama mereka bertemu, Sang Pangeran menatap Daru dengan amarah. Pangeran Anit yang terkenal akan belas kasihannya–akan kebaikannya, akan kebiasaannya memberikan setiap orang kesempatan kedua- menatap Daru dengan tajam. Dan Daru tahu, sebagai seseorang yang berasal dari latar belakang yang tidak jelas, dia tidak mempunyai kesempatan kedua di mata Pangeran. Dia tidak penting, tidak berarti. Siapa yang akan percaya bahwa dia tidak menyerang Sang Putri? Terlebih lagi, setelah berbagai macam kejahatan yang telah dia lakukan, mungkin ini adalah karma.
[Puisi] Lelaki di Tepi Jalan itu

Suarakita.org – Perisai embun,
Basah….
Berlumur lendir bercampur darah
Bersimbah luka dan kenikmatan; menyatu peluk
Kemudian senyum dalam kegetiran
Sembari menyulut rokok sebatang
[Cerpen] Dua Ayah dan Satu Cinta

Suarakita.org – Bocah itu tampak kesulitan membuat PR. Ia tengah duduk di kelas 3 SD. “Ayah, sini, dong, bantuin aku mengerjakan soal Matematika! Ini sulit tau!”
[Puisi] Hujan yang Pagi & Pengecut yang Usai Mampir

Aku terbangun masih dengan kantuk
Dan kau seenaknya hadir dengan puisi yang tiba tanpa mengetuk
Mungkin itulah takdir bahwa emosi bisa jadi spontan dan tak perlu permisi
[Cerpen] Petrichor

Oleh: Abi Ardianda* SUarakita.org – Sabtu pagi mestinya tidak semendung ini. “… satu gelas espresso?” Pramusaji itu kemudian meletakkan secangkir espresso di hadapan Rasyid setelah aku yang mengangguk, mengiyakan. Rasyid tidak memiliki cukup keperdulian, bahkan untuk sejenak mengalihkan pandangannya dari teve di ujung ruangan dan menyambut pesanan miliknya sendiri. Barangkali benar yang diungkapkan Judi James […]
[Puisi] Tidak Ada Minuman Keras Hari Ini

Oleh: Wida Puspitosari Seorang perempuan muda melihat batinnya dirajang sinis Purnalah ia, menuju nirwana yang kancap akan duri Euphorbia Bersama sunyi, ia berdekap mesra, menuju penghabisan Tiada kawan, apalagi kesayangan Mati sia-sia Diam-diam, darahnya muncrat dari mata rahim Cairannya akan jadi komposisi api neraka, seperti maumu Marilah kesana, akan ia cabik jantinamu […]
[Cerpen] Tindik Kelamin

Aku yang marah kemudian memandangi foto itu lekat-lekat. Aku memandangi wajahnya yang bisa dibilang rupawan. Aku memandangi dagingnya yang gempal berisi.
[Cerpen] Menemukan Wajahku dalam Wajahmu

Oleh: Sebastian Partogi* Igo Aku heran bagaimana orang bisa mengenali diriku sebagai Igo dan tidak pernah terlihat kebingungan saat bertemu denganku. Berbeda dengan manusia pada umumnya, yang biasanya memiliki bentuk wajah yang khas dan membedakan diri mereka dari orang lain (bahkan saudara kembar identik pun memiliki perbedaan yang dapat dikenali), aku adalah seorang manusia yang […]


