[CERPEN]: Duka Seratus Cambuk

Duka Seratus Cambuk
Penulis: Antok Serean*. Ibu, satu-satunya alasan pulang ke Aceh. Saat semua umat menolaknya, Ibu berlapang dada mengalirkan telaga kata-kata,”Manusia beradab, Nak, harus adil pada diri sendiri, sebelum adil pada orang lain.

[Puisi] : Kematian Kesekian

Puisi Karya Dewi Nova, Kematian Kesekian…Mulanya mereka menyiksa kekasihku yang lelaki
dari malam hingga adzan subuh…

[CERPEN]: Prosa di Sebuah Halte

Suarakita.org- Suara cempreng dua orang waria membangunkan Ferina yang baru saja mau tertidur. Ferina menyeka wajahnya yang basah keringat dengan sapu tangan sambil memperhatikan waria yang sedang menyanyi lagu dangdut disertai goyangan dahsyat itu. Huh, desah Ferina dalam hati.

[CERPEN]: Dasi Kupu Kupu

Suarakita.org- SUAMIKU menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit jantung. Menurut dokter, seorang perempuan cantik memapah dan mengantarnya. Seingatku, suamiku pamit kerja di luar kota. Bagaimana mungkin ia masuk rumah sakit jantung yang berada di depan rumah kami? Diantar perempuan cantik pula? Sumiku berselingkuh?

[CERPEN]: Bayang Nyata

“Ira ingin berubah, ingin kembali normal dan bertobat. Jadi tante mohon sama kamu, jangan ganggu Ira lagi. Kalau kamu memang menyayanginya, biarkan ia hidup bahagia dengan calon suaminya dan keluarganya kelak.” Perempuan baya itu berbicara tanpa melihatku, seolah-olah aku ini adalah sesuatu yang sangat menjijikkan untuk sekedar dilihat.

[CERPEN]: Ibu Saya Lelaki

Suarakita.org- Sejak Ibu meninggal dunia; Ayah tak bahagia. Kabut hitam menyelimuti wajahnya. Tak pernah tersenyum, apalagi tertawa. Saya tak tahu penyebabnya. Yang saya tahu, rumah terasa sepi, kosong, dan mati. Ayah ada, tetapi tak hadir. Seolah hidup dalam dunianya sendiri. Saya juga sedih kehilangan Ibu. Namun bisa mengikhlaskannya. Siapakah yang bisa menolak kematian? Tak ada. Segala yang lahir pasti kembali ke asalnya.