[CERPEN]: Nyanyian Sumbang

[Cerpen]: Nyanyian Sumbang Karya: Arief Mulyanto* Jari-jemari yang lentik itu mulai beraksi, beberapa alat rias dan kosmetik
[CERPEN]: Pulang Bersamaku

Suarakita.org- Entah mengapa aku merasa kesal ketika perempuan-perempuan itu mendekati pacarku. Tertawa genit seolah-olah tak ada pria lain di muka bumi ini. Dan yang lebih mengesalkan adalah pacarku juga terlihat “melayani” mereka. Seolah-olah aku ini tak ada disampingnya.
[CERPEN]: Rumah di Tepi Sungai

Suarakita.org- Rumah di Tepi Sungai. Karya: Dewi Nova*Petang lembayung. Aku terpaku di pelabuhan kecil. Haruskah kusambut perahu yang akan menyeberang ke kota ia berada? Atau kembali ke stasiun kereta dan mengirim pesan bahwa aku berhalangan?
[CERPEN]: NYALA ROKOK DI ANTARA GERBONG

NYALA ROKOK DI ANTARA GERBONG Cerpen: Putu Oka Sukanta* “Jam sebelas malam ini Mas, ditunggu di stasiun Tugu. Tapi maaf saya tidak ikut.” Itulah huruf yang muncul di layar telpon genggam saya. Saya segera menjawab.
[CERPEN]: Jeritan Hati Seorang Gemblak

Karya: Antok Serean* Klik. Angger menutup teleponnya. Gamang, kabut hitam menyelimuti semesta batin. Suara adik perempuannya menyadarkan, ia belum terpisah dari masa lalu. Kata-kata merajuk bak aliran derita tiada putus,
[CERPEN]: Teruntuk Jodoh Surgaku

Suarakita.org- Pertemuan kami di taman kampus kala itu masih terbayang di pelupuk mataku. Singkat. Berkesan. Kala pertama kali matanya memanah hingga ke relung hatiku. Ini bodoh. Konyol. Bila kusebut ini sebagai cinta pada pandangan pertama. Selama ini aku belum pernah merasakan getar cinta. Bahkan pada seorang cewek sekalipun.
[CERPEN]: Duka Seratus Cambuk

Duka Seratus Cambuk
Penulis: Antok Serean*. Ibu, satu-satunya alasan pulang ke Aceh. Saat semua umat menolaknya, Ibu berlapang dada mengalirkan telaga kata-kata,”Manusia beradab, Nak, harus adil pada diri sendiri, sebelum adil pada orang lain.
[CERPEN]: Imaji Republik Pelangi

Suarakita.org- “Kamu tahu Republik Pelangi?” tanya sahabatku.


