Akikah Buruh Queer: Makna Hari Buruh dan Solidaritas

Oleh: Laura Sekar Kinasih*

SuaraKita.org – Bulan Mei kita memperingati dua hari besar: yang pertama Hari Buruh, kemudian pada tanggal 17 Mei kita mengenal IDAHOBIT yaitu Hari Internasional Melawan Homofobia, Bifobia, dan Transfobia. Sebagai pekerja queer kita dikaruniai kecakapan yang tidak dimiliki kaum heteroseks. Hal ini kerap kali disalahpahami atau bahkan menjadi stereotip tertentu, seperti yang sering kita lihat di media bahwa pekerja queer dianggap sebagai badut yang kapan pun bisa dijadikan objek lelucon dan tidak punya perasaan.

Teringat di Hari Pahlawan 2008 saat saya masih di bangku Sekolah Menengah Pertama, diadakan lomba mirip pahlawan. Saat itu tidak ada satu pun teman sekelas yang punya ide untuk maju tampil mewakili kelas, tanpa ragu saya mengajukan diri untuk berdandan menjadi buruh migran atau yang dulu lebih dikenal dengan istilah Tenaga Kerja Imigran (TKI). Jujur saya tergugah mengikuti lomba itu karena muak lomba mirip pahlawan yang sudah-sudah hanya dijadikan ajang bersenang-senang tanpa esensi dalam menghayati kiprah pahlawan sesungguhnya. Selain itu, di tahun itu saya banyak menemui pemberitaan soal kasus-kasus kekerasan keji yang dialami buruh migran. Nurani saya mengatakan perlu menghadirkan keresahan atas tubuh-tubuh pekerja yang kerap diromantisasi sebagai pahlawan devisa negara.

Saat saya mengusulkan diri, ternyata teman sekelas menyambut baik, mulai dari yang mau membawakan wig, kerudung, daster hingga make up. Bahkan sebelum tampil kami sempat membawakan presentasi soal kasus-kasus kekerasan yang dialami buruh migran. Singkatnya, kelas kami memenangkan posisi ketiga. Namun bukan juara yang menjadi kepuasan kami saat itu, melainkan bagaimana saya versi remaja berani menyuarakan isu buruh dan bersolidaritas sejak usia dini di sekolah. Meskipun cibiran homofobia muncul dan ditertawai satu sekolah, saya kesampingkan respon negatif itu. Justru kehebohan saya disadari guru-guru dan murid-murid, menorehkan kesan bahwa kami yang muda saat itu juga bisa ambil peran menyampaikan solidaritas kepada buruh migran.

Dahulu saya belum mengenal apa itu queer, sampai menginjak usia 16 tahun ketika saya menyukai aktivitas mikroblogging di platform bernama Tumblr. Dengan kecepatan internet yang belum sekencang sekarang, saya kerap menemui banyak kawan queer dari belahan dunia yang menunjukkan eksistensinya dan sama-sama merasa Tumblr sebagai ruang aman dari dunia heteronormatif yang membenci keberadaan kami. Dari sana saya mengenal kisah hidup Sylvia Rivera dan Marsha P. Johnson, transgender yang berani turun ke jalan memperjuangkan hak-hak kaum gay. Keduanya bahkan menginisiasi Aksi Revolusioner Transvestit Jalanan (Street Transvestite Action Revolutionaries), sebuah shelter yang diperuntukkan bagi transgender yang terusir, tersingkir, dan tidak punya tempat tinggal.

Selepas menamatkan sekolah menengah kejuruan, saya memilih bekerja. Kebetulan saya mengambil kejuruan farmasi yang kerap dianggap sulit dan membutuhkan ketekunan serta motivasi belajar tinggi. Ruang kerja waktu itu cukup nyaman karena industri ini lebih banyak didominasi perempuan, yang membuat saya lebih nyaman bekerja dengan perempuan daripada laki-laki. Sampai akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja di industri kesehatan karena traumatis dengan suara tangisan di ruang Instalasi Gawat Darurat yang sangat dekat dengan ruangan tempat saya bekerja.

Di dunia yang sampai hari ini masih sarat kebencian terhadap ekspresi, orientasi seksual, hingga gender di luar sistem biner, rasanya seperti menenggak pil pahit setiap harinya. Buruh queer tidak berutang penjelasan kepada siapa pun, maka kita tidak perlu usil memaksa teman-teman untuk melela jika belum bisa terbuka tentang gendernya. Sering kali pilihan menutupi identitas gender dilakukan demi alasan keamanan dan minimnya penerimaan positif terhadap buruh queer.

Sejak usia belia saya sudah melihat di televisi bagaimana Marsinah dibunuh negara secara keji. Hal itu selalu menjadi penggerak saya untuk peka terhadap ketidakadilan yang dialami buruh. Selain kerentanan queer yang berlapis—mulai dari minimnya akses kesehatan, pencatatan sipil yang diskriminatif, hingga kesempatan kerja yang terbatas—hal itu menjadi pengingat bahwa penting untuk terus merawat kesadaran bersolidaritas dengan perjuangan buruh. Akikah buruh queer, dan saya bangga sebagai buruh queer.

 

*Penulis adalah seorang Queer yang mencoba menjalani hidup dengan lapang dan masih belajar soal feminisme.