Oleh: Isti Toq’ah *
SuaraKita.org – Pagi kembali memanggil kita pulang, ke gedung-gedung kaca yang menyimpan tanya.
Apakah hari ini pintu akan terbuka lapang, atau prasangka masih bertahta di sana?
Kita adalah cerita yang sering kali disisihkan, dari catatan kaki hingga ruang rapat utama.
Namun di setiap langkah yang kita ayunkan,
ada janji agar inklusi tak sekadar nama.
Lewat aksara, kita bangun jembatan, menyambung lidah mereka yang dipaksa diam.
Sebab setiap tulisan adalah perlawanan, terhadap sunyi yang selama ini menghujam.
Di koridor ini, kita tak pernah benar-benar sendiri, ada tangan-tangan tak terlihat yang saling menggenggam.
Merawat nyala dalam dinginnya birokrasi, menjaga harapan agar tidak padam karam.
Kita bukan sekadar angka atau deretan nama, tapi napas yang menuntut ruang yang setara.
Menolak untuk dipangkas oleh stigma, berdiri tegak di bawah langit yang sama.
Mari menuliskan jejak di atas kertas yang baru, mengubah diskriminasi menjadi ruang yang teduh.
Sebab setiap identitas punya hak untuk tumbuh, bekerja dengan martabat, tanpa harus runtuh.
*Penulis berasal dari Balikpapan, Kaltim, namun kini berdomisili di sekitar Jakarta Selatan. Ia aktif di beberapa media sosial terutama Instagram: @buildingpeace



