Oleh: Aeini Nasution*
SuaraKita.org – Kota kembali berdenyut seperti biasa. Jalanan yang sempat lengang kini dipenuhi lagi oleh langkah-langkah yang bergegas mengejar waktu. Di antara keramaian itu, Aeini duduk di kursi dekat jendela sebuah bus, menatap keluar dengan tatapan yang sulit diartikan—antara lega dan luka yang belum sepenuhnya reda.
Mudik tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu menyimpan dua sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi, ada aroma masakan rumah, suara tawa yang akrab, dan kenangan masa kecil yang seolah memanggil untuk pulang. Tapi di sisi lain, ada ruang-ruang sunyi yang tak pernah benar-benar bisa ia isi.
Di rumah yang seharusnya tempat ternyaman itu, ia kembali menjadi “orang lain.”
Bukan Aeini yang ia kenal sekarang.
Bukan dirinya yang telah ia perjuangkan dengan berani lantang untuk teriak kesetaraan dan keberagaman gender.
Setiap pertanyaan yang terdengar sederhana terasa seperti jarum kecil yang menumpuk di dalam dada.
“Kapan nikah?” “Kerja apa sekarang?” “Sudah sukses belum?”
Dan yang tak terucap, tapi terasa paling nyaring— “Kenapa kamu jadi seperti ini?”
Aeini hanya tersenyum. Senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. Senyum yang cukup untuk menutup percakapan, tapi tak pernah benar-benar menjawab apa-apa.
Hari-hari di kampung terasa panjang. Bahkan ketika ia bersama keluarga kecilnya—pasangan dan anaknya—hangat itu terasa berbeda. Seperti ada batas yang tak terlihat, tapi nyata.
Hingga akhirnya, kepulangan itu terasa lebih seperti pelarian.
Kini, dalam perjalanan kembali ke kota, Aeini menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri lagi. Tidak ada tatapan yang menilai. Tidak ada harapan yang memaksanya berubah.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari kantor: “Besok sudah mulai kerja lagi ya. Semangat!”
Aeini tersenyum—kali ini berbeda. Lebih ringan. Lebih jujur.
Mungkin baginya, “pulang” bukan selalu tentang kampung halaman. Mungkin “pulang” adalah tempat di mana ia bisa diterima tanpa syarat. Tempat di mana ia tidak perlu menjelaskan siapa dirinya.
Bus terus melaju, meninggalkan masa lalu beberapa kilometer di belakang.
Dan di tengah hiruk-pikuk kota yang menanti, Aeini tahu— ia tidak hanya kembali bekerja.
Hari ini, kita kembali bekerja. Kembali menata langkah. Kembali menjadi diri sendiri—dengan segala luka, harapan, dan kekuatan yang kita punya.
Karena pada akhirnya, tidak semua orang harus mengerti perjalanan kita. Yang penting, kita tidak berhenti berjalan.
Untuk kamu yang mungkin merasa lelah setelah mudik, merasa tidak sepenuhnya diterima, atau pulang dengan hati yang berat— kamu tidak sendiri.
Mari mulai lagi. Dengan versi diri yang lebih kuat. Dengan harapan yang masih kita jaga.
Back to work… bukan sekadar kembali bekerja.
*Aeini adalah Dewan Pengurus Perkumpulan Suara Kita dan juga aktivis untuk isu Kesehatan HIV & AIDS.



