Oleh: Khoirul A.*
SuaraKita.org – Di tengah berbagai dinamika sosial yang kerap kali menyudutkan minoritas ragam seksual dan gender, Alka, seorang transgender, menceritakan perjuangan hidupnya dalam bertahan sebagai seorang konten kreator.
Perjalanan Alka menjadi seorang konten kreator di YouTube bermula sejak 2024. Pada awalnya, kanal YouTube miliknya bukanlah proyek profesional yang ditujukan untuk monetisasi. Akan tetapi, kanal YouTube tersebut hanyalah ruang pelarian dan ruang aman baginya untuk mengutarakan berbagai tekanan batin yang selama ini ia pendam sendiri.
Sejak kehilangan kedua orang tuanya pada tahun 2020, Alka tidak lagi memiliki alasan emosional untuk kembali ke kampung halamannya di Banten, bahkan saat Lebaran seperti kemarin. Ia mengaku tidak merasa nyaman di lingkungan keluarga besarnya yang memiliki latar belakang religius kuat. Sekalipun tidak semua orang di keluarga besarnya terang-terangan menolak, pengalaman merasa terasing dan tidak diterima membuat Alka tetap memilih menjaga jarak, meski tidak sampai putus hubungan.
Alka kemudian tidak lagi menemukan ruang aman untuk bercerita di lingkungan sekitarnya. Karena itulah, ia disarankan untuk mencoba media tertentu seperti radio dan platform digital sebagai alternatif untuk menyalurkan emosi sekaligus berbagi pengalaman.
“Jadi dari salah satu psikologku sama support system-ku bilang kalau kamu tidak percaya sama orang, kamu cerita saja gitu. Awalnya tuh aku mau buat radio gitu kan, mau buat bercerita dan orang tidak usah lihat wajahku deh gitu. Tapi karena tidak tahu bagaimana caranya, jadi aku putuskan buat YouTube saja. Tujuannya tuh buat release gitu.”
Dari sekadar curahan hati, Alka mulai mengangkat isu-isu kehidupan transgender secara lebih terbuka dan realistis. Ia tidak berusaha membangun citra yang sempurna. Sebaliknya, ia memilih menunjukkan realitas apa adanya, sebuah pendekatan yang justru membuat kontennya terasa lebih dekat dan jujur bagi audiensnya.
“Awalnya sih cuma buat cerita-cerita permasalahanku saja. Tapi kalau sekarang, lebih ke aktivitasku sebagai transgender yang aku tunjukkan. Jadi bagaimana kehidupan transgender ya ini gitu. Tujuannya sih biar gue real saja gitu untuk jadi diri gue yang tidak fake.”
Saat ini, Alka sendiri menjadi tulang punggung ekonomi bagi keluarganya. Dari penghasilan yang didapatkan dari konten, ia mampu menanggung kebutuhan beberapa anggota keluarga, termasuk kerabat yang secara ekonomi tidak mandiri. Beban ini juga pada akhirnya memperlihatkan kontradiksi yang sering dialami individu dalam komunitas marginal, yakni meski ditolak secara sosial, tetap diharapkan secara ekonomi untuk berkontribusi membantu keluarga.
“Kalau sampai detik ini, kalau ngomongin soal kebutuhan rumah masih aku yang menanggung. Ya aku tiap bulan rutin kirim uang karena memang aku yang diandalkan gitu.”
Dalam konteks pekerjaan, Alka kemudian menjelaskan bahwa dunia digital menjadi satu-satunya ruang yang relatif terbuka. Ia menegaskan bahwa bagi banyak transgender, pilihan kerja formal masih sangat terbatas. Diskriminasi struktural membuat banyak dari mereka terpaksa bergantung pada sektor informal, termasuk menjadi konten kreator, affiliator, atau pelaku usaha kecil.
“Kesempatan yang bisa dilakukan oleh kawan-kawan komunitas itu kan hanya pekerja-pekerja nonformal gitu. Dan salah satunya menjadi content creator, yang bisa bebas berekspresi dan berpendapat menurutku.”
Alka pun menjelaskan bahwa pada awalnya ia belajar segala hal terkait konten secara otodidak. Ia mempelajari bagaimana algoritma bekerja, karakter audiens, cara mengedit video, hingga strategi konten di berbagai platform yang berbeda. Ia menyadari bahwa setiap media memiliki pola yang berbeda. Bagi Alka, adaptasi menjadi kunci keberlanjutannya di platform digital ini.
Akan tetapi, ketergantungan pada bidang ini juga membawa kerentanan baru. Isu regulasi platform digital, seperti potensi pembatasan atau pemblokiran beberapa platform, menjadi ancaman nyata. Bagi Alka, kebijakan semacam itu bukan sekadar aturan teknis, melainkan bisa berarti hilangnya sumber penghidupan. Ia melihat pembatasan ruang digital sebagai bentuk “penyempitan kesempatan” yang secara perlahan mematikan akses ekonomi bagi kelompok yang sudah terpinggirkan.
Di akhir wawancara, Alka menyampaikan pesan sederhana namun tajam, yakni supaya kita jangan menunggu kesempatan datang, tetapi harus menciptakan kesempatan itu sendiri. Ia mendorong teman-teman yang mengalami kesulitan ekonomi untuk mulai belajar, keluar dari zona nyaman, dan memanfaatkan peluang digital yang ada. Bagi Alka, menjadi diri sendiri bukan hanya soal identitas, tetapi juga strategi bertahan hidup.
“Menurutku, mungkin dari sekarang teman-teman belajar jualan, baik dari affiliate atau dari konten. Karena ketika kita tidak bisa cari kesempatan di luar, maka kita harus buka kesempatan buat diri kita sendiri. Kita tidak perlu harus jadi siapa, tidak perlu harus bisa. Yang penting mulai dari jadi diri sendiri dan terus belajar.”
Kisah Alka menunjukkan bahwa perjuangan komunitas transgender tidak hanya berkaitan dengan identitas, tetapi juga menyangkut akses terhadap ruang aman, ekonomi, dan pengakuan sosial. Di tengah keterbatasan, teman-teman transgender terus beradaptasi dan bertahan, meski sering kali tanpa bantuan dan dukungan yang memadai.
*Penulis adalah relawan jurnalis di Suara Kita. Penulis pernah berkontribusi konten di Pelangi Dharma dan di media sosial lainnya.




