Oleh: Wisesa Wirayuda*
“Betapa gugur para pahlawan di tengah pertempuran! Yonatan gugur di bukit-bukitmu. Aku bersusah hati karena engkau, saudaraku Yonatan; engkau sangat ramah kepadaku; kasihmu padaku lebih ajaib dari kasih perempuan.” (2 Samuel 1:25–26)
SuaraKita.org – Belum lama ini, aku menemukan tulisanku yang dimuat di sebuah website yang ternyata sudah berumur 11 tahun. Tulisan soal pengalamanku melakukan melela (coming out) di umurku yang ke-18 saat itu. Dalam momen menjelang Lebaran ini, nampak baik untukku melihat ke belakang dan merefleksikan perjalananku sejauh ini.
Sepanjang perjalananku, orang selalu bertanya “Kenapa?”. Dulu aku hanya bisa menjawab dengan singkat: karena aku tidak mau berbohong. Titik.
Internet pada masa itu memang menjadi satu-satunya pintu informasi yang membuka mataku—video melela para influencer di YouTube, film dan serial bertema Ragam Gender dan Seksualitas, cerita orang-orang yang berani hidup apa adanya.
Untuk pertama kalinya, aku melihat bahwa hidup bukanlah sesuatu yang mustahil. Bahwa orang seperti aku bisa memiliki kehidupan yang sama saja seperti orang kebanyakan. Keyakinan itu saja sudah membuatku merasa cukup untuk menentukan jalan hidupku sendiri di umur yang sebenarnya tidak dewasa-dewasa amat.
Namun kini, di usia 30, aku mulai memahami bahwa pertanyaan “kenapa” itu memiliki jawaban yang jauh lebih kompleks.
Sedikit bercerita, aku tumbuh di keluarga yang tidak ideal—orang tua bercerai sejak aku kecil, dan masa remaja yang dihabiskan sebagai care-giver kakek nenek yang sakit stroke, sehingga memiliki waktu setidaknya 1-2 jam di warung internet (warnet) sepulang sekolah menjadi me-time yang tidak bisa diganggu gugat.
Menjadi care-giver juga membuatku dipaksa cepat dewasa, sehingga membuatku haus akan ruang privasi dan ruang aman. Semakin lama, ada dorongan kuat untuk keluar dari rumah, mencari ruang aman di luar rumah, keinginan untuk membangun hidupku sendiri. Rasanya semua itu juga dirasakan oleh para care-giver di luar sana.
Agak sulit dijelaskan bagaimana, namun tinggal bersama keluarga besar (tanpa kehadiran orang tua) dan ditambah tidak merasa tempat tersebut adalah tempat aman (untuk melela), membuat aku kebingungan soal di mana “rumah” itu.
Pergulatan seperti apakah aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk mengurusi kakek neneku yang sakit kala itu? Bagaimana dengan keluarga yang lain? Apakah sepupu-sepupuku memiliki beban yang sama dalam hal ini atau hanya karena aku adalah “si paling broken home” sehingga aku yang harus bertugas? Dan apakah aku akan dipaksa harus meninggalkan semua cita-cita dan keinginan sendiri untuk itu?
Buatku, melela kala itu bukan hanya soal kejujuran, melainkan juga tentang keberanian untuk melepaskan diri dari beban yang terlalu berat, tentang keinginan untuk hidup dengan integritas meski harus menanggung risiko yang sepenuhnya belum kupahami saat itu.
Di umur 18, aku benar-benar tidak tahu apa itu “mitigasi risiko”. Hidup dan tumbuh besar dalam mode bertahan sudah membuatku lelah, apalagi untuk mempersiapkan “mitigasi risiko”? Sehingga saat setelah melela, aku tidak memiliki persiapan apa pun. Aku kabur dari rumah tanpa surat-surat penting, tanpa uang, hanya dengan baju yang melekat di badan. Nekat. Akibatnya, aku kehilangan akses pendidikan di sebuah kampus seni di Bandung dan pergi ke Jakarta untuk bekerja sebagai penulis lepas. Aku baru memiliki KTP dan rekening atas namaku sendiri di umurku yang ke-21. Bahkan Pemilu 2024 juga menjadi pengalaman pertama kali bagiku sebagai warga negara memberikan hak suaranya.
Tak hanya itu, hidupku harus berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya, dari kosan kamar yang sumpek bertembokkan tripleks, rusun yang lembap wangi oncom, rumah petak yang kebanjiran di 2020, hingga bahkan sharing mengontrak rumah besar dengan beberapa orang sekaligus. Segala bentuk metode sepertinya sudah aku rasakan.
Mungkin perjuanganku itu sama saja dengan orang-orang yang mengadu nasib di Ibu Kota. Tidak bisa disebut luntang-lantung, tapi juga tidak stabil. Di tengah-tengah saja.
Dulu aku melihat semua itu sebagai kegagalan, namun kini aku menyadari bahwa nekat adalah cara tubuhku bertahan (mungkin karena aku seorang Aries, kalau kata temanku). Meski begitu, aku juga belajar bahwa hidup butuh batasan. Boundaries. Tanpa itu, aku rasa aku hanya akan terus terbawa arus luka lama yang tidak pernah selesai.
Sebagai bentuk bertahan diri, akhirnya pekerjaan apapun aku ambil, mulai dari menjadi instruktur mengajari ibu-ibu untuk membuat kerajinan tangan, sampai menjadi buzzer dari 2015 hingga 2020, pekerjaan yang banyak orang anggap “sampah” atau “antek negara”. Padahal, yang kulakukan tak lebih dari bentuk marketing dan damage control untuk brand si client. Dari pekerjaan itu aku belajar bahwa informasi adalah barang mahal, dan melalui pekerjaan ini juga akhirnya aku belajar bahwa komunikasi bisa jadi salah satu keahlianku. Meski tentu aku tidak bisa menulis “buzzer” di CV, biasanya aku mengubahnya menjadi “Social Media Specialist” dan ternyata memang jobdesc-nya sama saja.
Sembari bekerja, aku banyak mendaftarkan diri ke pelatihan-pelatihan menulis: jurnalistik, menulis fiksi, reportase, content making, editing, dan lainnya. Aku tahu pekerjaan buzzer bukanlah pekerjaan stabil dan cenderung musiman, juga selalu bergantung pada arah politik, maka aku harus terus menyiapkan diriku dengan keterampilan lain.
Akhirnya, di 2023, aku diterima bekerja di sebuah LSM Kemanusiaan. Mereka melihat pengalamanku sebagai buzzer bisa berguna—bukan lagi digunakan untuk menghasut isu, melainkan untuk mengembangkan isu. Dari “buzzer” lama-lama berubah menjadi juru kampanye, dan berubah lagi menjadi Communication Officer dalam hitungan tahun. Aku ingat ada juga teman yang bercanda mengatakan bahwa aku adalah “buzzer yang tobat”. Aku tertawa, tapi juga sadar: stigma bisa berubah menjadi kekuatan.
Aku melela di umur 18 tahun, artinya juga sudah 12 tahun aku tidak berkontak dengan kakak dan adik laki-lakiku. Hubungan dengan ibu masih ada, tapi sebatas kebutuhan praktis, logistik bahkan. Dengan ayah, jujur aku tidak tahu bagaimana perasaan dia sekarang terkait melela dan identitasku, namun aku kini membantu membiayai hidupnya, ia sudah tua dan tidak bisa bekerja. Memang nampaknya komunikasi terbuka bukanlah kebiasaan yang banyak diterapkan di keluarga kami.
Ada perasaan campur aduk—antara tanggung jawab dan luka lama. Mungkin itulah yang namanya Asian Value?
Adik perempuanku kini menjadi satu-satunya anggota keluarga yang juga menjadi support system utamaku dalam semua ini. Ia bahkan pernah menegur ibu: “Kalian dulu marah-marahin kakak, sekarang uangnya kalian mintain terus.” Kata-kata itu membuatku sadar bahwa hidup harus punya boundaries. Aku tidak bisa terus-menerus mengorbankan diri, meski darah keturunan dan budaya sering kali menuntut sebaliknya.
Kemarin, di usia 18, aku hanya ingin istirahat. Di usia 19, aku hanya ingin pulang. Hari ini, di usia 30, seharusnya aku sudah settle dan hidup tenang, bukan?
Namun sepertinya aku masih berproses juga. Saat ini rasanya aku hanya ingin bertahan. Hidupku belum sepenuhnya settle, tapi juga aku merasa aku tidak luntang-lantung. Aku masih bisa bekerja, aku terus menulis, aku berjuang sembari berkuliah lagi di jurusan Ilmu Komunikasi. Kuingat juga pengalaman pertama kembali ke ruang ujian akhir semester (UAS) dengan dada berdebar setelah 10 tahun tidak menginjakkan kaki ke kampus. Pengalaman ini tentu menjadi sebuah katarsis yang baik bagiku.
Aku belajar bahwa hidup sebagai bagian dari kelompok Ragam Gender dan Seksualitas bukan hanya tentang melela, melainkan juga tentang menciptakan ruang untuk pulang, meski kecil, bersama orang-orang yang menerima.
Belajar dari hidup yang tidak stabil itu juga aku belajar untuk mulai melakukan kiat-kiat resiliensi sederhana: mendaftarkan diri di BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan agar punya akses kesehatan dan juga jaminan hari tua sekaligus jaminan bila kehilangan pekerjaan, sembari menabung di koperasi agar ada cadangan finansial. Aku menganggap menabung di koperasi seperti menabung di celengan. Hal-hal kecil ini membuatku merasa lebih aman, bahwa aku tidak hanya bertahan secara emosional, tapi juga menyiapkan fondasi praktis untuk masa depan.
Di cerita melela sebelumnya, aku juga bercerita bahwa aku tidak jalan sendirian menghadapi ini semua. Saat itu aku ada dalam sebuah long-tern relationship yang juga menjadi modal keberanianku untuk pergi dari rumah. Di usiaku yang ke 30 ini, kami memutuskan untuk berpisah setelah bersama sekitar 11 tahun. Bisa dikatakan kami cukup banyak berbeda pandangan soal hal-hal fundamental, yang semestinya menjadi tanda untukku pergi lebih awal, namun waktu itu aku tetap bertahan karena aku tidak tahu cara lain—mungkin karena pola cemas yang tumbuh sejak kecil, melihat orang tuaku bercerai, sehingga bagaimana pun hubungan itu, aku tidak pergi. Aku terbiasa takut ditinggalkan sejak kecil, jadi aku menahan sakit demi tidak sendirian.
Kini aku belajar bahwa bertahan bukan berarti menutup mata, dan kehilangan kadang lebih sehat daripada terus menggenggam sesuatu yang melukai.
Perjalanan ini bukan garis lurus. Ada luka, ada kehilangan, ada stigma yang terus menyertai. Tapi ada juga keberanian, ada komunitas yang kutemukan sepanjang jalan, ada iman yang terus dicari. Untuk mereka yang masih berada di titik “hanya ingin istirahat” atau “hanya ingin pulang,” aku ingin berkata: perjalanan ini panjang, tapi bukan mustahil.
Hari ini, pertanyaan “kenapa?” punya jawaban baru: karena aku ingin hidupku jujur, karena aku ingin keluar dari lingkaran luka-melukai, dan aku ingin membangun ruang aman untuk diriku dan orang sekitarku.
Kejujuran mungkin membuatku kehilangan banyak hal, tapi ia juga bisa menjadi pintu menuju hidup yang lebih utuh. Aku sudah 12 tahun melela. Aku masih mencari. Dan mungkin, pencarian itu sendirilah rumahku.
And who knows? Mungkin aku akan bercerita dan bertemu kamu lagi di sini 10 tahun dari sekarang?
Mungkin. Tapi untuk saat ini izinkan aku untuk mengucapkan Selamat Lebaran!
*Penulis pernah terlibat di beberapa buku terbitan Suara Kita. Penulis juga adalah kontributor di website Suarakita.org sejak 2013 hingga sekarang. Beberapa pelatihan menulis dan jurnalistik yang pernah ia ikuti antara lain dari Suara Kita, Jurnal Perempuan, Tempo Institute, Mafindo Indonesia, dan Wahid Foundation.



