Oleh: Cecep Himawan*
SuaraKita.org – Siang hari itu adalah kali pertama Aris bertemu pandang dengan Novia, usai sebelumnya hanya pernah mendengar namanya berulang kali disebutkan oleh Mas Pram.
“Saya dengar rumah Mas Pram ramai karena juga ditinggali oleh teman-temannya,” ujar Novia, masih tersipu-sipu usai menerima pemberian kotak bekal dari Aris. “Saya tidak berani ke rumah Mas Pram – lebih baik saya kirim notebook-nya lewat ojol.”
“Kamu tidak kerja?” Aris memperhatikan Novia – seorang gadis berumur dua puluh tahunan, sepertinya.
“Kuliah, Mas. Tiga bulan lagi sidang skripsi.” Novia membuka kotak itu. “Lho, ini ‘kan kue bolu kesukaan Mas Pram? Mas Pram suka kasih sisanya dari kotak bekal buat saya.”
“Iya, titipan dari Mas Pram,” Aris menelan ludah. “Tadi beli di tempat langganan Mas Pram.”
Novia mengangguk-anggukkan kepala. “Semalam Mas Pram mampir ke sini. Sepertinya langsung dari kantor. Waktu dia pulang, saya baru sadar notebook-nya ditinggalkan di meja. Saya tidak berani ganggu dia tadi malam – Mas Pram kelihatannya lelah sekali. Mas Pram cerita kalau sedang ada proyek yang melewati deadline, ‘kan?”
Oh ya, Mas Pram cerita tentang proyek dan deadline. Tapi dia tidak cerita tentang mampir ke kos-an Novia.
*
Siang hari itu pula adalah momen ketujuh (mungkin?) di mana nama Novia terdengar di telinga Aris. Tidak, bukan Mas Pram yang mendengungkan nama Novia, melainkan supir ojol yang selama beberapa detik berhenti di depan rumah dan memanggil nama Mas Pram. Ada kiriman notebook hitam dari seseorang bernama Novia yang tinggal di Jalan Mawar. Tentu saja Mas Pram sedang berada di kantor.
Usai menerima kiriman tersebut, Aris berbalik ke dalam rumah. Seraya melangkah ke dapur – kue bolu bikinannya tengah mengembang di dalam pemanggang – Aris memperhatikan notebook itu dengan seksama. Notebook seukuran telapak tangan orang dewasa. Warnanya hitam polos tanpa hiasan apapun ketika Aris membelinya di Gramedia dan menyerahkannya kepada Mas Pram (panggilan Aris kepada pria itu dari awal pertama mereka bertemu). Waktu itu Mas Pram mengatakan bahwa notebook miliknya telah penuh dan dirinya belum sempat membeli notebook baru.
Aris meletakkan notebook itu di meja dapur. Dia membuka lemari dan mengambil satu permen Fox rasa anggur dari bungkus besar yang terbuka. Di saat seperti itu mulutnya gatal hendak mengisap sebatang rokok, meski sesungguhnya Aris sukses menjauhi benda berasap itu selama lima tahun. Dia selalu ingat momen itu, ketika Mas Pram mengajaknya tinggal bersama dengan syarat Aris harus berhenti merokok. “Aku tidak tahan asapnya,” ujar Mas Pram waktu itu – Aris ingat betapa wajah Mas Pram terlihat menggemaskan jika memasang ekspresi memelas. “Lagipula, tidak bagus buat kesehatan kamu…”
Lima tahun hidup bersama Mas Pram, di rumah yang dibeli Mas Pram dengan uang hasil kerja keras Mas Pram, terasa seperti layaknya laki-laki dan perempuan yang sudah menikah, hidup di bawah atap yang sama, dan menjalani kehidupan yang sering disebut banyak pihak sebagai ‘pernikahan yang langgeng’. Bedanya, versiku adalah laki-laki dengan laki-laki – Aris masih kesulitan menahan senyum ketika berkata seperti itu dalam pikirannya. Namun bukankah begitu kenyataannya? Lima tahun bersama, tanpa konflik yang berarti, bagi sepasang laki-laki, terasa bagai mukjizat, seolah dirinya dan Mas Pram sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk bersatu.
Hingga sampai kapan pun juga aku tidak akan legal jadi ‘istri’nya Mas Pram – Aris tertawa. Aris memang pernah menyodorkan kemungkinan bagi mereka berdua untuk terbang ke Amerika atau Belanda – negara manapun yang melegalkan pernikahan bagi pasangan seperti mereka. “Tapi sepertinya tidak mungkin ya…,” ujar Aris waktu itu, sambil tertawa getir. Mas Pram hanya tersenyum, mengangguk-anggukkan kepalanya….
Tanpa sengaja Aris menengok notebook itu. Tawanya terhenti. Permen Fox digigitnya hingga hancur.
*
“Mas Pram belum pernah memperkenalkan kamu ke kita, teman-temannya,” Aris mengatakan kalimat itu seraya menelan ludah.
“Mungkin malu, Mas…. sudah umur empat puluh tapi pacaran sama mahasiswa yang sedang bikin skripsi,” ujar Novia, menutup kotak bekal itu kembali.
“Aku lupa, sepertinya Mas Pram sempat cerita tentang kalian waktu bertemu pertama kali…”
“Di Tinder, Mas…” Novia tertawa kecil seraya menutup mulutnya. “Waktu itu saya baru selesai fieldwork untuk penulisan skripsi. Kita ketemu di kosan saya, kadang di kafe. Sebulan kemudian saya diajak ke restoran Union. Wah, padahal mahal sekali.”
“Kamu yang suruh ya?” Aris memaksakan diri untuk tertawa.
“Tidak juga sih… saya cuma pernah tahu tentang Union dari teman kuliah. Terus saya iseng berkata ke Mas Pram, ‘Mungkin enak kalau bisa dinner di Union’… ternyata benar-benar disanggupi, hehe…”
Aris tertawa. Sesungguhnya dia tidak rela untuk mengeluarkan tawa itu.
*
Kapan pertama kali Aris mendengar nama Novia? Empat bulan lalu? Yang jelas Aris ingat saat di mana Mas Pram sibuk membuka smartphone, membalas chat di Telegram pada suatu malam sambil tersenyum-senyum. “Siapa, sih?” tanya Aris heran. “Novia,” jawab Mas Pram, dengan wajah masih tertuju ke layar smartphone. “Bagian finance di kantor, ngomongin invoice dari vendor,” buru-buru Mas Pram mengusulkan keterangan.
Berikutnya adalah ketika Mas Pram mengajak Aris makan siang di Union. “Tumben kamu ada inisiatif ke tempat fancy,” ujar Aris dengan gembira. Aris tidak bisa menahan pertanyaan tentang siapa pihak yang merekomendasikan Union. “Novia,” ujar Mas Pram ringan, “waktu itu dia ajak aku dan teman yang lain.”
Bulan berikutnya, Mas Pram menyebut nama Novia adalah fenomena biasa yang tidak dipertanyakan. Mungkin tiga kali? Atau lebih? Aris hanya mengira-ngira. Hingga siang itu, ketika nama Novia disodorkan bukan oleh Mas Pram.
Suara ting! dari pemanggang membangungkan Aris dari lamunan.
Jika Mas Pram meninggalkan notebook-nya di kantor (Aris memakai sarung tangan lalu membuka pintu pemanggang – harum kue bolu menyeruak ke dalam dapur) dan ditemukan oleh Novia, bukankah cukup bagi Novia untuk menyerahkan notebook hari ini di kantor? Apa gunanya menitipkan si notebook kepada supir ojol jika mereka akan saling berurusan di kantor?
Usai menata kue bolu di atas piring, perhatian Aris kembali tertuju pada si notebook. Artikel yang diminta agensi sudah dikirim tadi pagi. Catatan revisi mungkin baru dikirimkan menjelang sore, Aris berpikir. Dia masih memiliki waktu luang. Apakah mungkin…
Seketika Aris mengeluarkan kotak bekal dan menaruh beberapa kue bolu di dalamnya. Dia mengingat-ingat pesan dari supir ojol. Jalan Mawar….
*
“Mas Pram sempat bilang kalau saya sudah lulus dari universitas, dia mau melamar saya.”
Siang hari itu matahari bersinar terik, namun jiwa Aris bagai diselimuti awan kelabu dan petir. Aris berusaha menahan wajahnya agar tetap tenang.
“Pram belum sempat bilang mengatakan hal itu..”
“Orang tuanya di kampung yang suruh, Mas. Mas Pram sudah setua itu, sudah punya rumah sendiri, karirnya bagus di BUMN… tapi, ya begitulah…”
Mas Pram tidak pernah terbuka terkait hal itu. Aris kembali menelan ludah. “Kamu jawab apa ke Pram?”
Novia menundukkan kepala, mengamati kotak bekal di tangannya. “Saya cuma bilang ‘Nanti kita lihat saja ya’. Saya suka Mas Pram…. tapi saya masih ingin kerja dulu, belum lagi ibu saya ingin saya sekolah S2… rasanya tidak mungkin…”
Hujan petir mengundurkan diri dari jiwa Aris. Dia yakin jiwanya bersorak gembira mendengar pengakuan Novia, tetapi fakta bahwa tawaran pernikahan dari Mas Pram ditujukan bukan kepada dirinya, masih menyisakan awan kelabu dalam jiwa…
Memang tidak mungkin bagi aku dan Mas Pram untuk menikah di Belanda, bukan? Aris tersenyum pedih.
“Menurut Mas Aris, apakah benar jika aku menolak Mas Pram – jika dia nanti tetap memaksa?”
Aris memandang Novia dengan secercah perasaan bangga. Apa yang membuat dirinya bersukacita? Melihat seorang perempuan memperjuangkan cita-citanya? Mengetahui pria yang dicintainya gagal mendapatkan perempuan yang hendak dinikahi?
“Kamu lebih paham, Nov,” ujar Aris pada akhirnya. Aris kehabisan kata-kata.
Usai berpamitan secara singkat (“Nanti kita cerita-cerita lagi ya, Mas!” – ujar Novia ketika Aris melambaikan tangan), jiwa Aris terasa hampa. Motornya melaju pelan menelusuri Jalan Mawar.
Melihat warung di pinggir jalan raya, Aris menghentikan motornya. Dia ingin membeli minuman dingin – sinar matahari terasa tajam siang itu – namun niat itu ditepisnya tatkala matanya tertuju pada bungkus rokok yang berjejer rapi di balik etalase kaca.
Aris duduk di bangku panjang depan warung. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, tangannya menyalakan korek api dan mengisap rokok. Asap tebal melayang di udara. Aris memejaman mata – sensasi tembakau yang terbakar memberi semacam jalan keluar dari awan mendung dan hujan petir yang menimpa jiwa.
Ketika rokoknya habis, Aris beranjak dan mulai menyalakan motor. Jika catatan revisi dari artikelnya sudah datang, Aris akan menuntaskan revisi tersebut di dalam rumah sambil merokok. Aris tidak peduli apakah aroma rokok akan mengganggu Mas Pram ketika pria itu pulang ke rumah.
Tanjung Barat, Juli 2022.
*penulis lulus dari Program Studi Sosiologi Universitas Indonesia pada 2019, dan telah menerbitkan beberapa artikel di Inside Indonesia pada kurun waktu 2020 – 2021. Kini Cecep bekerja di perusahaan swasta. Penulis dapat dihubungi melalui email hima0813@gmail.com.



