Digital dan Keselamatan Queer: Saling Jaga Karena Kita Berharga

Oleh: Bina*

SuaraKita.org – Di era digital 4.0 telah lahir jutaan gagasan yang mengubah paradigma kehidupan, termasuk dalam tata cara interaksi dan komunikasi. Kini kita tidak perlu bertatap muka karena digitalisasi telah mewujudkan komunikasi intens jarak jauh. Fenomena ini jelas bukan kebetulan; sebagai generasi modern, hal ini dapat menjadi kesempatan sekaligus tantangan. Digitalisasi berkembang sangat luas, melahirkan media sosial, kecerdasan buatan (AI), alat instan untuk kebutuhan sehari-hari, dan masih banyak lagi. Pentas digital telah menjadi bagian dari budaya manusia sedunia. Dari kalangan muda, tua, kaya, hingga miskin, semua memiliki laman media sosial masing-masing. Kini kita tidak perlu bersusah payah mencari referensi artikel atau ilmu di perpustakaan dan buku fisik, cukup membuka laman Google atau kecerdasan buatan (contoh: ChatGPT, Gemini, DeepSeek, dan lain-lain) yang menyajikan informasi lengkap sesuai keinginan.

Salah satu program digital yang kini populer adalah kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini menjadi andalan banyak orang, termasuk teman-teman queer. AI menghadirkan fitur pencarian informasi instan, lengkap, dan informatif. Keunggulannya adalah kemampuan mencari informasi sesuai permintaan pengguna. AI juga menghadirkan fitur lain seperti mengubah gambar, keadaan, hingga wajah seseorang. Andrew Ng (2016) menyebut kecerdasan buatan sebagai “listrik baru” yang akan mentransformasi setiap industri dalam beberapa dekade ke depan. AI memang sedang membuktikan kecanggihannya dan mulai menjadi budaya baru manusia.

Namun, hal ini juga perlu diwaspadai.

Laman digital memiliki hak atas identitas dan histori pribadi setiap pengguna. Karena itu, dunia digital dapat menjadi “jurang” apabila kita tidak bijak dalam memilah, mengolah, serta menyaring kontennya. AI adalah salah satu dari ribuan inovasi aplikasi digital. Walaupun banyak penggunanya terpesona oleh kehebatan informasi instan, AI justru dapat menjadi bentuk “pembunuhan literasi” dan berujung pada perilaku tercela.

Contoh nyata adalah penggunaan aplikasi AI bernama Grok di platform X. Aplikasi tersebut sering digunakan untuk mengubah foto, termasuk bagian privasi seseorang. Hal ini jelas tercela, melanggar etika, norma, serta privasi pengguna.

Masalah seperti ini sering dialami teman-teman queer, dan tentu merupakan wujud nyata ketidakbijakan penggunaan AI. Fenomena ini harus segera diberantas dan dipidanakan. Pemilik kewenangan wajib menyoroti hal tersebut karena tidak hanya terjadi pada kalangan queer, tetapi juga seluruh pengguna media digital. Sebagai manusia bijak, kita sepatutnya berhati-hati dengan apa yang kita lihat, baca, dan sebarkan. Media sosial dengan teknologinya tidak pernah menjanjikan keamanan otomatis. Keamanan dan kenyamanan bersama dimulai dari masing-masing pengguna.

Karena itu, regulasi hukum perlu diperkuat. Tidak hanya dalam bentuk represif untuk memberi efek jera kepada pelaku, tetapi juga dalam bentuk preventif, misalnya pendidikan digital di sekolah. Tujuannya melahirkan generasi yang bijak menggunakan teknologi dan saling menghargai.

Dengan kesadaran menjadi pengguna bijak, tidak hanya teman-teman queer tetapi seluruh masyarakat dapat menciptakan lingkungan digital yang sehat, bermanfaat, dan membawa maslahat di masa depan.

 

Daftar Pustaka/Referensi

  1. Teffera Kassaw Mulugeta, dkk., 9 Mei 2022, A Review of Fundamental Optimization Approaches and the Role of AI Enabling Technologies in Physical Layer Security
  2. Đorđević Saša, 1 September 2012, Building A Safe Community
  3. Grehenson Gusti, 19 Januari 2026, Blokir Grok AI: Pemerintah Diminta Selalu Tegas Tindak Platform yang Merugikan Masyarakat
  4. Ribalta Negri-Claudia, dkk., 13 Mei 2024, A Systematic Literature Review on the Impact of AI Models on the Security of Code Generation
  5. Berger N. Matthew, dkk., 21 September 2022, Social Media Use and Health and Well-being of Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, and Queer Youth: Systematic Review

 

 

*Penulis berasal dari Depok, seorang pengamat sosial aktif yang gemar sukarelawan dan bertekad membantu sesama.