Oleh: D Karlo Purba*
“Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”
(Yohanes 1:5)
SuaraKita.org – Natal kembali kita rayakan di tengah dunia yang terluka. Tahun ini, bagi banyak saudara dan saudari kita yang mengalami bencana, khususnya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, Natal hadir di tengah duka akibat bencana ekologis yang merenggut nyawa, menghancurkan rumah, dan memaksa ribuan keluarga hidup dalam pengungsian. Di saat hujan masih turun dan tanah belum sepenuhnya pulih, kita diingatkan bahwa Natal pertama pun lahir bukan di tempat yang aman dan nyaman, melainkan di palungan—di tengah kerapuhan dan ketidakpastian.
Kelahiran Kristus adalah tanda bahwa Allah memilih hadir di tengah penderitaan manusia. Ia tidak datang sebagai raja yang berkuasa, tetapi sebagai Anak yang rapuh, yang berbagi nasib dengan mereka yang tersingkir, kehilangan, dan terluka. Dalam terang Natal, kita melihat bahwa Allah tidak menjauh dari dunia yang rusak—Ia masuk ke dalamnya, untuk memulihkan, menyembuhkan, dan memperbarui.
Bencana yang kita alami mengingatkan kita bahwa krisis yang dihadapi bukan hanya krisis cuaca, tetapi juga krisis relasi kita dengan alam dan sesama. Kerusakan lingkungan, pola permukiman yang berisiko, dan ketidakadilan sosial telah memperbesar dampak penderitaan. Karena itu, panggilan Natal bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk bertobat, belajar, dan bertindak—membangun kembali kehidupan dengan lebih bijaksana, adil, dan aman. Bertindak adil, mencintai kesetiaan dan kebenaran serta barjalan dengan rendah hati di hadapan Allah.
Natal mengundang kita menjadi pembawa terang: Hadir bagi mereka yang berduka, menguatkan yang lemah, melindungi yang rentan, menjadi teman bagi yang dipersekusi, membawa keadilan bagi mereka yang diperlakukan tidak adil, merawat ciptaan Tuhan dan memberi harapan bagi mereka yang putus asa. Melalui solidaritas, bertindak adil bagi generasi sekarang dan generasi, kita akan menjadi terang dan terus membari pengharapan—bahwa dari puing-puing kehancuran, hati yang kecewa dan nestapa, dapat kembali bertumbuh dan menghargai kehidupan dalam keberagaman.
Kiranya Natal ini meneguhkan iman kita bahwa kegelapan tidak pernah menjadi kata terakhir. Terang Kristus tetap bersinar, memberi harapan bagi mereka yang kehilangan, kekuatan bagi mereka yang lelah, dan arah bagi kita semua untuk berjalan bersama menuju pemulihan yang sejati. AMIN
*Penulis adalah salah satu dari Dewan Pengurus Perkumpulan Suara Kita.



