SuaraKita.org – Di sebuah hotel di kawasan Kota Tua Jakarta, bulan April 2025, suasana ruang pertemuan terasa berbeda. Tidak ada spanduk besar dengan jargon politik, tidak ada pidato pejabat yang kaku. Yang ada hanyalah lingkaran kursi, meja-meja kecil penuh kertas warna-warni, dan wajah-wajah yang tampak lega—seolah baru saja menemukan tempat di mana mereka bisa bernapas tanpa rasa takut.
Di ruangan itu, 38 organisasi dari berbagai daerah bertemu menyatukan suara-suara yang sebelumnya tersebar menjadi satu kekuatan kolektif. Mereka membawa cerita masing-masing: tentang diskriminasi di sekolah, tentang layanan kesehatan yang menolak mereka, tentang pekerjaan yang hilang hanya karena identitas.
“Banyak hal menjadi refleksi bersama, terutama soal akses kesehatan dan pemenuhan HAM bagi kelompok rentan,” kata Rully Malay, aktivis dari Waria Crisis Center Yogyakarta.
Cerita-cerita yang muncul di forum itu sering kali memilukan. Namun, di balik luka itu, ada tekad yang sama: bertahan, bersuara, dan mencari jalan keluar bersama.
“Kami sadar, kalau jalan sendiri-sendiri, suara kami mudah dipatahkan. Tapi kalau bersatu, kami bisa lebih kuat,” ujar seorang peserta dari Makassar.
Lokakarya Nasional ini tidak berhenti pada curahan hati. Melalui metode World Café, para peserta berpindah meja, berdiskusi dalam kelompok kecil, lalu menuliskan ide-ide di kertas warna-warni. Dari situ lahir peta kebutuhan strategis:
- Hotline darurat untuk korban diskriminasi.
- Safe house di kota-kota besar.
- Advokasi RUU Anti-Diskriminasi.
- Pelatihan paralegal komunitas.
- Kampanye publik berbasis seni dan budaya.
“Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut, agar kelompok rentan tetap punya ruang untuk mengekspresikan diri dan saling berbagi,” kata Rais, seorang transmen dari Jakarta.
Malam Budaya: Merayakan Identitas
Di penghujung lokakarya, suasana berubah hangat. Malam budaya digelar di ballroom hotel. Lampu temaram, musik akustik mengalun, dan satu per satu peserta naik ke panggung. Ada yang membacakan puisi tentang tubuh yang ditolak tapi tetap dicintai. Ada yang memainkan monolog tentang perjalanan panjang mencari penerimaan keluarga.
Tawa, air mata, dan tepuk tangan bercampur jadi satu. Malam itu, seni menjadi bahasa yang menyatukan. Bagi banyak peserta, ini bukan sekadar hiburan, melainkan perayaan identitas—bahwa meski sering dipinggirkan, mereka tetap punya ruang untuk bersinar.
Tak berhenti di situ, pada Mei dan Juni 2025 digelar National Partnership Building Meeting. Kali ini, lebih dari 30 organisasi tambahan bergabung. Diskusi semakin tajam: bagaimana menghadapi kriminalisasi lewat perda diskriminatif, bagaimana melawan ujaran kebencian di media sosial, bagaimana memastikan layanan HIV tidak runtuh ketika donor asing pergi.
Dalam sebuah simulasi advokasi, peserta memainkan peran aparat, pejabat, dan aktivis. Kasus yang diangkat nyata: pengusiran transpuan di Lampung. Dari roleplay itu, mereka belajar bahwa advokasi bukan hanya soal berteriak, tapi juga soal strategi: membangun aliansi, menguasai bahasa hukum, dan mengelola narasi publik.
Isu Kunci
- Kesehatan & HIV/AIDS
- Layanan HIV belum terintegrasi dengan kesehatan mental.
- Stigma di fasilitas kesehatan masih tinggi.
- Ketergantungan pada donor asing membuat layanan rapuh.
- Hak Ekonomi & Sosial
- Ketiadaan KTP menghalangi akses jaminan sosial.
- Diskriminasi kerja: seragam gender, PHK akibat status HIV, upah tidak setara.
- Pendidikan: siswa dari komunitas Ragam Gender dan Seksualitas di-outing atau dikeluarkan.
- Ruang Sipil & Ekspresi
- Perda diskriminatif membatasi ruang aman.
- Media arus utama kerap menyebarkan stereotip negatif.
- Serangan digital: doxxing, ujaran kebencian, pembatasan konten.
Dari rangkaian kegiatan ini, lahir sebuah kesadaran kolektif: perjuangan komunitas Ragam Gender dan Seksualitas di Indonesia tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Dibutuhkan strategi bersama, jaringan lintas daerah, dan solidaritas lintas isu.
“Kalau kita hanya bicara soal identitas, kita mudah diserang. Tapi kalau kita bicara soal hak dasar—hak atas kesehatan, pendidikan, pekerjaan—maka perjuangan ini menjadi perjuangan semua orang,” demikian refleksi yang muncul dari peserta dalam forum.
Liputan ini tentu tidak merekam seluruh denyut nadi sebuah komunitas yang menolak bungkam. Dari ruang diskusi hingga panggung budaya, dari cerita luka hingga tawa bersama, satu pesan mengemuka: Suara kita tidak bisa dibungkam.
Dan di tengah arus politik yang kian konservatif, suara itu justru semakin nyaring—lahir dari luka, dipelihara oleh solidaritas, dan diarahkan pada masa depan yang lebih setara. (Esa)








