Oleh: Pudji Tursana*
SuaraKita.org – Aku adalah kesadaran kecil dan sederhana
Saat membuka mata di hari baru, bernafas dalam-dalam
Untuk lanjutkan hidup, sehari demi sehari
Aku adalah tindakan perlahan dan rutin
Membasuh diri dengan tirta, merasakan kesegaran, kadang kehangatan
Makan secukupnya, kenyang sewajarnya
Minum air putih, palum dan galgah seleganya
Bernafas mendalam, pelan, dan teratur, merasakan udara di dalam darah
Mengaliri raga, menjaga ketangkasannya
Jalan kaki santai, merasakan cinta bumi yang tanpa syarat
Berlari perlahan, mungkin kadang cepat, tapi bukan terburu-buru
Berkebung, memancing, melukis, dan merajut
Membaca, menulis, dan mencipta kriya
Apa pun kegiatan yang membuatmu nyaman dan santai
Menenangkan detak jantung
Melonggarkan urat syaraf, menggelorakan semangat
Menemukan betapa bernilainya dirimu
Berulang-ulang, mendalam, hanya untuk, dan karena dirimu
Aku adalah mengada di ruang diri, di ruang publik seperlunya
Memeluk dirimu, bergerak bersama langgam tubuhmu
Sebisanya, secukupnya
Tak perlu selalu tampil
Tidak tergesa, dan sering tampaknya diam saja
Dalam keheningan, diri pelan-pelan mendalami
Mencukupkan diri, apa adanya, dan itu tidak apa-apa
Aku menikmati hal-hal biasa
Merayakan hal-hal kecil, merawat yang seolah remeh dan remah
Merangkul dirimu, menyadari uniknya panca indramu
Mengenali dunia yang kasatmata dan spiritual
Aku sabar dan murah hati
Pada orang lain, utamanya pada dirimu, dan pertama-tama dirimu
Saat RawatDiri utuh, dirimu siap merangkul dunia
Dengan jarak aman
Dengan waktu tertata
Aku adalah dirimu yang pecinta melampaui batas-batas konstruksi sosial dan kelas
Aku adalah dirimu yang gay,
yang lesbian,
yang bisexual,
yang transpuan dan transman,
yang queer
yang interseks, aromantic, platonic
yang heteroseksual
yang pekerja dan pemilik modal
yang tanpa struktur
yang sedang bergelut dengan ruang dan waktu
yang berjibaku dan berkelindan dalam keramaian diskursus dan isu
siapa pun yang merindukan istirahat sejenak
siapa pun yang mendambakan ketenangan sejati di dalam diri
siapa pun di mana pun yang mendamba sejenak dengan diri sendiri
jiwa dan raga
siapa pun yang ingin menjadikan Aku kolektif, ciptakanlah Aku
Aku bisa jadi ruang aman dirimu dan komunitasmu
Aku terwujud pada tindakan peduli dan empati
Saat dirimu bercermin,
Ada Aku, Si RawatDiri, di dalam dirimu, di dalam sesamamu, dan semestamu
Jangan lupakan Aku, yang menuntutmu cinta diri untuk jadi dan mampu
Memeluk dan membasuh dunia
Meski mungkin langkahmu kecil
Tapi cintamu besar dan tahan uji
Serta lestari
23 Februari 2026,
*Penulis adalah relawan di Perkumpulan Suara Kita dan saat ini menjadi buruh di kantor pelayanan pendidikan. Ia pernah menulis secara random/acak di blog Perempuan Berbagi yang telah punah oleh waktu dan beberapa kegiatan menulis bersama puisi dan/atau cerpen. Beberapa tulisannya bisa dibaca di diksipudji.wordpress.com dan dapat dihubungi via email: pudjitursana@gmail.com



