Belajar Hidup Bersama Rasa Takut

Oleh: Khairiah El Marwiah*

SuaraKita.org – Di tengah tekanan hidup yang semakin padat, merawat diri secara emosional, sosial, dan mental menjadi kebutuhan yang sering terabaikan. Banyak orang menjalani hari dengan ritme cepat, tuntutan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan ekspektasi sosial yang tidak pernah benar-benar berhenti. Dalam kondisi seperti ini, rasa takut kerap muncul sebagai respons alami. Ia hadir diam-diam, menyelinap di sela rutinitas, tumbuh dari ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran akan masa depan. Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan psikologis bukan pengalaman personal semata, melainkan persoalan bersama.

Laporan global kesehatan mental 2025 menjelang pertemuan tingkat tinggi PBB di New York memperlihatkan skala persoalan ini secara lebih jelas. Rasa takut dan kecemasan dialami lintas usia, latar belakang sosial, dan wilayah. Namun dalam kehidupan sehari-hari, emosi ini sering dianggap sebagai gangguan yang harus segera disingkirkan. Banyak orang merasa perlu tampil kuat dan stabil, meski di dalam dirinya sedang goyah. Akibatnya, perawatan diri secara emosional dan mental sering ditunda. Rasa takut pun dipendam tanpa ruang untuk dipahami.

Padahal, rasa takut memiliki fungsi penting dalam kehidupan manusia. Ia bekerja sebagai penanda ketika tubuh dan pikiran berada di bawah tekanan berlebih. Rasa takut memberi sinyal bahwa seseorang mungkin sedang lelah, terancam, atau kehilangan rasa aman. Ketika sinyal ini diabaikan, tekanan emosional tidak menghilang, melainkan menumpuk. Dalam jangka panjang, penumpukan ini dapat memengaruhi relasi sosial, kesehatan mental, bahkan kemampuan seseorang menjalani peran sehari-hari. Merawat diri berarti belajar mendengarkan sinyal-sinyal tersebut sejak awal.

Dampak dari tekanan yang tidak terkelola terlihat nyata dalam kehidupan sosial. Banyak orang tetap bekerja meski dihantui kecemasan akan kondisi ekonomi atau tuntutan pekerjaan yang terus meningkat. Di kalangan anak muda, tekanan akademik dan perbandingan sosial di ruang digital memicu rasa takut gagal dan perasaan tidak pernah cukup. Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa bunuh diri masih tercatat sebagai salah satu penyebab utama kematian pada kelompok usia muda di berbagai negara. Fakta ini menunjukkan bahwa mengabaikan kesehatan mental membawa konsekuensi yang serius. Rasa takut yang dibiarkan tanpa perawatan dapat berkembang menjadi krisis.

Selain dampak personal dan sosial, gangguan kecemasan dan depresi juga membawa dampak ekonomi yang besar. Secara global, kerugian produktivitas akibat kondisi ini diperkirakan mencapai satu triliun dolar AS setiap tahun. Angka tersebut mencerminkan bahwa kesehatan mental berkaitan erat dengan ketahanan sosial dan ekonomi. Ketika individu tidak memiliki ruang untuk merawat diri secara mental dan emosional, dampaknya meluas ke lingkungan sekitarnya. Tekanan tidak berhenti pada satu orang saja. Ia menyebar melalui relasi, tempat kerja, dan komunitas.

Belajar hidup bersama rasa takut berarti membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri. Hidup bersama bukan berarti menyerah pada ketakutan, melainkan mengakuinya tanpa menghakimi. Rasa takut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Dengan kesadaran ini, seseorang bisa mulai menata ulang ritme hidup dan ekspektasi yang terlalu berat. Merawat diri menjadi proses aktif, bukan reaksi saat keadaan sudah terlanjur runtuh.

Dalam praktik sehari-hari, perawatan diri tidak selalu berbentuk tindakan besar. Ia bisa hadir melalui langkah-langkah sederhana seperti memberi waktu untuk berhenti, menjaga batas dalam relasi, dan memilih lingkungan yang lebih aman secara emosional. Dukungan sosial juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental. Ketika seseorang merasa didengar dan diterima, beban rasa takut menjadi lebih ringan. Merawat diri juga berarti berani mengakui bahwa tidak semua hal harus dihadapi sendirian. Ada kekuatan dalam kebersamaan.

Pada akhirnya, merawat diri secara emosional, sosial, dan mental adalah bagian dari upaya bertahan di tengah dunia yang penuh tekanan. Rasa takut mungkin tidak pernah benar-benar hilang, tetapi ia bisa dikelola dengan kesadaran dan empati. Perawatan diri (self-care) bukan bentuk egoisme, melainkan cara menjaga keutuhan diri agar tetap mampu hidup dan berelasi dengan sehat. Keberanian hari ini bukan tentang menjadi tanpa rasa takut. Keberanian hadir ketika seseorang tetap melangkah sambil merawat dirinya sendiri, pelan namun berkelanjutan.

 

Referensi
World Health Organization (WHO). World Mental Health Today dan Mental Health Atlas 2024, 2025.
CNBC Indonesia, Fergi Nadira. “WHO: Lebih dari 1 Miliar Orang Hidup dengan Gangguan Mental Health”, 3 September 2025.

 

*Penulis adalah seorang Copywriter berdomisili di Mojokerto, Jawa Timur. Sapa penulis melalui akun Instagram @Khairiahelmarwiahhrp