Suki Merayakan Dirinya di Festival Pesta Pinggiran

SuaraKita.org – Hari ini mendung berangin. Waktu seakan berhenti di sini. Awal tahun terasa tidak ada. Hanya ada hari-hari dan berbagai peristiwa silih berganti. Kali ini hadir acara Festival Pesta Pinggiran.

Festival Pesta Pinggiran adalah sebuah perhelatan meriah. Sebuah pesta yang mengangkat isu-isu kritis kemanusiaan dan lingkungan, serta dampak sosial politiknya. Isu-isu tersebut sering kali tidak dianggap penting atau cukup penting untuk ditata kelola secara khusus oleh negara. Festival ini merayakan upaya bertahan dalam kerja-kerja isu kritis, membersamai para insan yang dianggap marginal, dan merangkul sebanyak mungkin isu lintas disiplin. Nuansa inklusif terasa kental dan mendapat ruang.

Berbagai kegiatan dan inisiatif terselenggara secara simultan, dengan jadwal padat dan ketersediaan ruang yang terbatas. Namun hal ini tidak menjadi penghalang untuk menikmati pesta karena tersedianya berbagai ekspresi dan realita berbasis data yang disajikan lewat seni instalasi yang kaya.

Suki berkeliling dan menikmati berbagai ekspresi seni instalasi itu. Kreativitas yang luar biasa menumbuhkan daya kritis, membuat kepala gatal dan hati gemas, serta menimbulkan krisis eksistensial: “Gini amat, jadi WNI?!”

Suki larut dalam kemeriahan itu. Ia mengunjungi setiap bilik dan memperhatikan bahwa masing-masing bilik membawa informasi kritis serta tawaran untuk menata kelola sebaik-baiknya, yang mungkin bisa dilakukan bersama.

Begitu pula bilik milik Suki – Suara Kita. Suki membawa berbagai kisah dan pengalaman para insan yang bergelut dalam isu keberagaman gender dan seksualitas. Perkenalan Suki dengan banyak kawan lintas isu membuatnya dengan gembira mengundang mereka untuk mampir ke biliknya.

Aeini dan Iim yang bertugas menjaga booth Suara Kita.

Suki senang sekali menemukan banyak kawan baru, mengajak mereka mengikuti Instagram, dan datang ke markas Suara Kita. Di sisi lain, Suki menyadari bahwa situasi bisa jadi tidak pasti, sehingga kegembiraan perlu disikapi dengan waspada. Keberadaan bilik Suki dikelola dengan rendah hati. Bilik ini tidak secara langsung diumumkan oleh pembawa acara seperti kebanyakan bilik lainnya. Namun hal itu tidak mengurangi kunjungan para kawan baru maupun lama.

Antusiasme kawan-kawan muda yang berkunjung sangat menggairahkan dan menambah semangat Suki untuk terus berkarya. Apalagi ketika buku-buku dan cenderamata menarik perhatian mereka, lalu dipinang menjadi oleh-oleh untuk dibawa pulang. Suki juga gembira bahwa meski masih ada pengunjung yang malu-malu, tetap ada ketegasan dan keberanian untuk menjalin komunikasi. Suki berusaha menghadirkan ruang perjumpaan yang aman bagi para pengunjung.

Festival Pesta Pinggiran adalah hari bernas yang terselenggara setiap dua tahun sekali. Acara ini bagaikan kembang api: berlangsung singkat, hanya dua hari, Sabtu dan Minggu, 24–25 Januari 2026, di Taman Ismail Marzuki. Namun gaung dan kenangannya akan tinggal lebih lama di kepala dan hati para pengunjung. Salut, tabik, dan menjura kepada Project Multatuli yang menggagas perhelatan ini. Project Multatuli sebagai penyelenggara telah sangat baik menghadirkan berbagai organisasi dan komunitas kemanusiaan lintas isu, serta menciptakan ruang inklusif untuk semua. Sampai jumpa dua tahun lagi. Semoga.

 

Pudji Tursana
Relawan Suara Kita
27 Januari 2026