Oleh: Jaqline Jeannette Theresia Hellena Layratu*
SuaraKita.org – Suasana Atrium Gedung Agape Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta pada 15–16 Desember 2025 berubah menjadi ruang penuh cerita dan empati lewat Pameran Foto Social Immersion 2025 bertema “Aku Hadir, Aku Peduli.”
Sebanyak 56 karya foto hasil refleksi mahasiswa Fakultas Teologi UKDW angkatan 2023 dipamerkan, menampilkan potret kehidupan yang mereka jumpai selama program Social Immersion yang berlangsung Juni–Juli 2025. Program ini melibatkan 46 mahasiswa yang tersebar di 28 lembaga dari Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, sehingga menghadirkan keragaman konteks yang memperkaya narasi visual.
Tema “Aku Hadir, Aku Peduli” bukan sekadar slogan, melainkan sikap: lewat lensa kamera, para mahasiswa mengajak pengunjung menyelami realitas masyarakat, mulai dari perjumpaan lintas identitas, pengalaman hidup di pinggiran, hingga momen sederhana yang menyimpan makna mendalam tentang kemanusiaan dan keadilan sosial.
Di antara karya yang ditampilkan, Perkumpulan Suara Kita hadir dengan dua foto yang kuat dan penuh makna: “Teater Manekin” dan “Baby Step.” Foto Teater Manekin menampilkan panggung gelap dengan deretan manekin tanpa kepala sebagai latar bagi tubuh-tubuh hidup para waria dari komunitas Teater Manekin di Jakarta Barat.
Kontras itu menyuarakan pengalaman transpuan yang sering dipuji ketika tampil indah dan menghibur, tetapi jarang diakui sebagai manusia bermartabat. Bagi Mami Atta dan Madam Devi, pendiri Teater Manekin, manekin adalah simbol keindahan yang tidak pernah sepenuhnya dimiliki—metafora bagi identitas waria yang kerap direduksi hanya sebagai hiburan. Lewat pertunjukan Ruang Rias yang ditangkap dalam foto, mereka mengkritik tekanan sosial dan standar kecantikan yang menyesatkan. Panggung sederhana dengan wig dan gaun justru menegaskan pesan kuat: seni adalah medium bertahan hidup, menyuarakan identitas, dan melawan stigma.
Sementara itu, foto Baby Step merekam momen belajar komunitas Warna Sehati Depok dalam workshop ketenagakerjaan yang digelar Suara Kita. Para transpuan terlihat serius mengikuti pelatihan menulis CV, menyusun surat lamaran, hingga mengenali ciri lowongan kerja palsu. Keseriusan itu memancarkan tekad bahwa masa depan yang lebih adil bisa dibangun lewat pengetahuan.
Workshop ini menjadi langkah kecil—baby step—dari perjuangan panjang Suara Kita membuka akses kerja inklusif bagi transpuan yang selama ini tersisih dari dunia kerja formal. Ruang sederhana pun berubah menjadi ruang pemberdayaan, tempat pengalaman hidup yang sering dianggap tidak “profesional” dirumuskan ulang sebagai kompetensi yang sah dan layak dihargai.
Kehadiran dua foto ini menegaskan kerja nyata Suara Kita sebagai organisasi berbasis keanggotaan yang konsisten memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi kelompok ragam gender dan seksualitas di Indonesia. Advokasi mereka jelas: setiap orang berhak diakui sebagai warga negara tanpa diskriminasi identitas gender maupun orientasi seksual.
Pameran Social Immersion 2025 akhirnya bukan hanya soal foto indah, melainkan ruang publik yang mengajak pengunjung berhenti sejenak, melihat lebih dalam, dan menyadari bahwa belajar, berteologi, dan beriman tidak berhenti di ruang kelas. Ia menemukan wujudnya ketika kita berani hadir, peduli, dan berdiri bersama mereka yang selama ini disisihkan.
*Penulis adalah Mahasiswa dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta yang telah menyelesaikan program Social Immersion di Suara Kita.





