Salon Sony: Sebuah Memorabilia

Oleh: Pudji Tursana*

SuaraKita.org – Dulu, saat akhir tahun 80-an, hidup saya sedang indah-indahnya. Kesulitan terbesar yang ada hanyalah tentang alokasi waktu antara belajar dan bermain. Tentu saja, waktu bermain akan dimenangkan dengan syarat tugas sekolah sudah diselesaikan. Gobak sodor, bentengan, lompat tali menggunakan karet gelang yang dirangkai sampai panjang sekali, dan macam-macam permainan yang dilakukan dengan kawan-kawan tetangga. Namun tetap saja, membaca buku akan jadi waktu yang paling panjang.

Bermain dengan kawan-kawan secukupnya saja. Saya cepat merasa lelah di antara banyak orang. Namun, membaca buku akan membuat saya merasa penuh dengan tenaga. Saat membaca, saya merasa jadi super power, menjelajah ke mana-mana, dan pergi ke sudut-sudut dunia yang tidak dikenal. Berkenalan dan menjadi seolah telah lama berkawan dengan para tokoh di buku-buku yang saya baca. Saya melawan yang mereka lawan. Saya berempati kepada sesama yang mereka pedulikan. Saya tertawa dan menangis bersama mereka. Saya membayangkan adegan dan terlibat dengan perjumpaan saat membaca kisah perjumpaan para tokoh dengan tokoh lainnya di buku-buku yang saya baca.

Kemudian, sampai pada sebuah sore di musim kemarau yang hangat, waktu bermain dan membaca buku saya akan menjadi pengalaman yang bisa disisihkan sejenak.

Ada sebuah rumah kosong di kampung. Kampung tahun 80-an yang sudah padat, gotnya sesekali mampat kalau hujan, dan air comberannya luber ke mana-mana. Rumah ini sudah lama kosong, di perempatan jalan yang lumayan besar, jalan utama kampung, bisa dilalui mikrolet dan kendaraan lainnya. Rumah ini berada di posisi strategis. Perempatan jalan seringkali jadi area bermain karena pada tahun itu kendaraan tidak padat dan hanya lewat sesekali saja. Menjelang senja, kami, anak-anak yang asyik bermain, akan segera pulang, karena begitulah peraturannya. Para ibu akan bawa sapu atau apa pun yang dirasa menakutkan, bersiap menghajar anak yang tidak mau pulang. Saya biasanya sebelum senja sudah pulang, karena letih jika bermain beramai-ramai terlalu lama. Namun, tidak sore itu.

Sebuah mobil bak terbuka yang penuh dengan barang-barang, berhenti di depan rumah kosong itu. Saya yang baru saja hendak pulang ke rumah, serta merta membatalkan niat karena mobil yang berhenti ini. Menarik sekali. Saya merasa selama tinggal di kampung ini, baru kali ini melihat ada orang pindahan. Mobil bak terbuka itu penuh barang, hingga tinggi menjulang. Barang-barang itu diikat tali yang perlahan-lahan dibuka, diuraikan, dan dilepaskan dari barang-barang itu. Satu per satu barang diletakkan di pinggir jalan. Ada barang yang saya mengerti, lemari-lemari, alat dapur, tempat tidur, meja, dan kursi. Namun, ada juga barang yang tidak saya pahami, dan banyak barang-barang seperti itu. Contohnya, lemari dengan lampu-lampu, tonggak-tonggak yang ujungnya berbentuk aneh, sesuatu seperti sofa tetapi tidak rata, dan banyak barang aneh lainnya. Ternyata saya lama berdiri di dekat mobil bak terbuka ini dan mengamati kegiatan orang-orang ini, hingga bahu saya disenggol dan diminta untuk berpindah supaya tidak menghalangi jalan. Saya berpindah tempat sambil melayangkan pandangan ke sekeliling. Ternyata, saya tidak menonton sendirian. Kegiatan bermain selesai. Semua anak menonton mobil bak terbuka seperti saya.

Seseorang yang tinggi semampai menyita perhatian. Suaranya mendayu nyaring dan sesekali tertawa renyah, berucap syukur berkali-kali karena sampai di rumah baru, katanya. Ia memakai daster warna warni, rambutnya pirang keriting. Entah bagaimana, saya langsung tahu, warna rambutnya tidak asli. Dia bersama temannya, berdua. Mereka memiliki gaya yang hampir sama. Namun, temannya menggelung rambutnya, berpakaian kaos dan celana panjang. Saya mencuri pandang sesekali untuk melihat wajah mereka. Mereka berwajah ayu-ayu, pakai anting, bedaknya agak belepotan karena keringat. Namun, saya tertarik melihat mereka. Ada perasaan yang belum bisa saya pahami. Sepertinya saya pernah merasakan ini, tetapi entah di mana.

Mereka membuka rumah kosong itu, lalu mondar-mandir keluar masuk sambil membawa barang yang tampak ringan-ringan. Si Pirang Keriting tampak sangat riang gembira. Ia bernyanyi-nyanyi kecil dan menari, sambil membawa barang ini dan itu ke dalam rumah. Si Rambut Gelung tampak serius berbicara pada supir dan pembawa barang. Si Rambut Gelung mungkin menjelaskan tata letak seharusnya barang diletakkan di dalam rumah.

Anak-anak masih menonton. Saya sendiri merasa asyik melihat mereka. Mereka tampak seperti para tante tetangga yang pergi kerja, mungkin seperti Ibu saya juga yang kerja, tetapi juga ada yang berbeda. Mereka luwes dan lenting. Sesekali mereka melihat ke arah kami. Si Pirang Keriting tersenyum ramah pada kami. Si Rambut Gelung acuh tak acuh.

Hari semakin senja, para ibu mulai muncul dengan sapu dan tongkat apa pun, berjalan ke arah kami. Saya melihat ibuku juga. Ibu tidak perlu bawa apa-apa. Dia hanya heran kenapa saya belum pulang. Kami bertukar senyum, saya merasa  bahwa Ibu memahami penyebab saya belum pulang.

“Eh anak-anak, sana bubar! Udah sore!” Seru di Rambut Gelung.

Anak-anak kaget, tetapi tertawa senang karena disapa. Kami mulai bubar, berpencaran pulang ke rumah. Lamat-lamat kami mendengar suara ceria, “Besok mampir ya ….” Saya yakin itu Si Pirang Keriting.

Malamnya, saat makan malam, Ibu dan Ayah ngobrol.

“Rumah di ujung jalan udah ada yang mengisi,” kata Ibu.

“Iya, kelihatan tadi masih beres-beres saat tadi saya lewat,” sahut Ayah. “Siapa mereka?” sambung ayah.

“Bu Een senang rumahnya gak kosong lagi. Lumayan, disewa untuk salon. Senang juga, ya. Kita gak jauh kalau mau potong rambut.”

“Si Pirang Keriting dan Si Rambut Gelung, ya?” tanya saya.

“Eeh, kebiasaan, nyambung aja,” kata Ibu sambil tertawa. “Kamu panggil mereka begitu? Belum sempat kenalan ya, tadi sore?”

“Wah, menarik, sudah lihat ya?” tanya Ayah.

Saya mengangguk, “Besok diajak mampir,” kata saya.

Ibu tertawa, “Oh, begitu? Kok bisa?”

“Diundang Si Pirang Keriting.”

“Oh…,” jawab Ayah.

“Menarik,” kata Ibu.

“Oke, bereskan meja, sekarang PR.” kata Ibu.

Saya beringsut-ingsut membantu Ibu membereskan bekas makan malam untuk siap belajar. Ah, berakhirlah kesenangan bermain hari ini.

“Oh, Salon Sony namanya,” kata Ayah.

Saya melihat papan nama terpasang di gerbang rumah yang baru terisi itu. Seperti biasa, setiap pagi kami berangkat bersama-sama. Ayah akan mengantar saya ke sekolah dengan vespanya. Ibu akan berangkat kerja lebih siang di klinik gereja dekat rumah kami.

Rasanya, hari itu adalah hari sekolah yang paling lama yang pernah saya alami. Betapa lambatnya hari di sekolah. Betapa lamanya menunggu tanda bel pulang sekolah. Ingatan akan tulisan Salon Sony yang terbaca di pagi hari tinggal di kepala, menjelma menjadi tanda tanya berbagai ukuran yang melayang-layang di depan mata. Ibu Guru sudah menegur beberapa kali karena saya melamun di kelas. Satu kali kapur melintas dan sekilas mengibaskan rambut saya karena teguran melamun yang saya abaikan. Entah kenapa saya ingin sekali bertemu lagi dengan Si Pirang Keriting dan Si Rambut Gelung. Apa itu salon? Ada apa di dalam sana? Apa hubungannya dengan rambut Ibu?

“Apakah kita jadi nanti ke Salon Sony?” Tanya saya saat Ibu menjemput di sekolah.

“Ooo, ada apa dengan ‘selamat siang, Ibu’ dan ‘apa kabar? Terima kasih sudah jemput?’” Tanya Ibu sambil tertawa berderai.

“Iyaa, itu sudah biasa.” Oh tapi Ibu melihat dengan dingin, oh, oke, “Selamat siang Ibu, terima kasih udah jemput.”

“Nah, baik begitu. Tetap harus sopan. Pulang nanti, istirahat sebentar. Nanti, kita ke Salon Sony. Bu Een juga mengajak untuk kenalan dengan mereka. Jangan sebut Si Pirang Keriting dan Si Rambut Gelung, kamu tahu itu gak sopan.”

Saya mengangguk-angguk saja. Hal lain dipikir nanti. Hal paling penting akan terjadi, saya akan ke Salon Sony bersama Ibu.

Papan itu semakin dekat dan tulisan Salon Sony semakin jelas. Bu Een menjemput Ibu di rumah dan kami berjalan kaki bertiga menuju Salon Sony. Sepanjang jalan Bu Een bisik-bisik bicara pada Ibu, tentang orang-orang yang buka salon, seperti ‘nanti maklum aja mereka begitu’, ‘yang penting saya terima bayaran saja’, dan lain-lain. Saya diam ikut dengar bisikan sambil sesekali melihat ke arah Ibu. Ibu menatap tajam kepada saya, tandanya saya harus diam, kalau mau tanya, nanti di rumah  setelah pulang.

Si Pirang Keriting menyambut kami di pintu. Dia memeluk Bu Een dengan hangat dan Bu Een tersenyum canggung. Ibu bersalaman dan memperkenalkan kami.

“Eh, ini Si Enon yang kemaren sore, ya?” kata Si Pirang Keriting.

Saya tersenyum kecut, sebel dipanggil Enon, “Pina, saya Pina.” Kata saya. Ibu melihat saya tersenyum geli.

“Sony, saya Sony,” kata Si Pirang Keriting, menirukan saya, lalu dia tertawa berderai. Sony memakai baju kerja seperti Ayah kalau sedang asyik dengan hobinya utak-atik. Dia ramah sekali, meriah, dan mendayu-dayu, tetapi terasa kuat. Lenting. Saya merasa dia tomboy. Rasanya kami mirip.

Kami masuk ke ruangan yang sibuk. Si Rambut Gelung menjalin rambutnya dan diikat pita berwarna, rambutnya hitam lurus. Cantik sekali, tetapi juga gagah. Dia dengan terampil mengayunkan gunting dan sisir. Seseorang duduk di depannya, terlihat santai membaca majalah. Tampaknya seorang bapak yang sangat rapi dan rupawan.

Si Rambut Gelung, eh, Si Kepang Dua hari itu, hanya melihat kami sekilas dan menyapa dengan lambaian tangan, “Dia Ratna,” kata Sony.

“Sudah rame aja,” kata Bu Een, mencari tahu, mencari berita.

Kami dipersilakan duduk di kursi yang ada di situ. Tampaknya memang kursi untuk mengantri atau duduk menunggu giliran. Kursi yang diduduki lelaki rupawan itu kursi tinggi dan ada satu lagi yang kosong.

“Siapa yang mau potong rambut?” Tanya Sony.

“Kami berkenalan aja,” kata Ibu, “Rumah kami di belakang salon ini.”

“Pin, sana potong rambut,” kata Bu Een.

“Nanti aja ya, ke sini lagi dengan Ayah,” kata Mama.

“Saya langganan sudah lama,” tiba-tiba Si Lelaki Rupawan berseloroh, “Cocoklah di sini untuk keluarga, Sony dan Ratna bisa potong rambut gaya apa aja. Cocok kalau saya. Maka kemana pun pindah, saya ikut!”

Sony tertawa dan menepuk-nepuk bahu Si Lelaki Rupawan. Mereka bertukar pandang, sekejab saling berpegang tangan, sebentar saja, tetapi hati saya merasa hangat melihat itu. Seperti lihat Ayah dan Ibu yang saling sayang. Saya takjub. Pelan-pelan, saya melihat ke arah Ibu. Ah, tampaknya Ibu juga melihat. Mata Ibu berkedip sekali kepada saya. Eh, kenapa berkedip?  Mata Ibu berkedip sekali lagi. Oh, nanti di rumah. Oke.

Sementara itu, Bu Een sibuk sendiri dengan bertanya apa saja terkait salon itu, seperti tarif-tarif layanan, sehari bisa datang berapa orang, dapet potongan harga atau tidak kalau orang kampung sini, dan lain-lain. Semua pertanyaan dijawab dengan sabar oleh Sony. Saya melihat sesekali ke arah Ratna. Dia terus bekerja. Wajahnya berubah-ubah seiring dengan berbagai pertanyaan Bu Een. Wajahnya kadang berkeriyut, mendengus, atau mengerling ke arah Bu Een dengan tatapan yang tidak terlalu ramah. Namun, terus bekerja memangkas rambut Sang Lelaki Rupawan. Wajah Sang Lelaki Rupawan tampak tenang, sambil tetap membaca majalah, tetapi sesekali tersenyum geli. Orang-orang ini sangat menarik bagi saya.

Tiba-tiba, Ibu menepuk bahu saya, “Ayo sudah, pulang kita.”

“Eeh, mau ke mana, udah sini aja, ngobrol dulu,” kata Bu Een.

“Udah sore, waktunya Pina mandi dan bikin PR.”

“Pina datang lagi ya, ajak Ibu dan Ayah,” kata Sony.

Saya termangu, kaget karena disapa.

“Pina, jawab apa ke Kak Sony?” kata Ibu sambil menyenggol bahu saya.

“Terima kasih, Kak Sony.” Oh, dipanggil kakak, pikir saya, lega. Ternyata saya gelisah memikirkan, bagaimana harus panggil mereka.

Kami beranjak keluar ruangan.

“Daaah, Pina, main lagi ya!”, teriak Kak Ratna Si Kepang Dua. Saya senang sekali.

Ibu dan saya berpandangan, kami tersenyum.

Tibalah saatnya, makan malam bersama Ayah dan Ibu.

“Si Enon banyak nich yang mau diceritain,” kata Ibu sambil tertawa lebar. Ayah ikut ketawa juga. Saya senyum kecut, sebel dipanggil Enon.

“Saya ingat sekarang, Kak Sony dan Kak Ratna seperti siapa,” kata saya.

“Oh, bagaimana maksudnya?” tanya Ayah.

“Kalau ikut ke pasar bersama Ibu, ada pengamen Bude Siter Ewer-ewer yang bawa siter itu, pinter main siter sambil nembang, rasanya lihat Kak Ratna dan Kak Sony sama dengan rasanya kalau melihat Bude Siter Ewer-ewer itu. Lama kita gak ketemu, lama gak ke pasar.”

“Satu per satu,” kata Ayah tertawa. Ibu tertawa juga.

“Tapi juga rasanya seperti lihat Ayah dan Ibu kalau sedang saling sayang, itu pas lihat Kak Sony dan Sang Lelaki Rupawan, itu Buuu.”

Ayah memandang Ibu, bertanya. “Ada satu pelanggan setia mereka di sana,” jawab ibu. Ayah mengangguk, mengerti.

Ayah dan Ibu masih saling tersenyum, masih diam mendengarkan, dan menunggu saya bicara.

“Oh, ingat lagi, teman Ibu tuch, siapa, yang londo itu, yang suami dan suami itu? Nah, Sang Lelaki Rupawan itu sepertinya suaminya Kak Sony ya. Kak Ratna lalu suaminya yang mana?  Atau malah istri dan istri? Mereka tuch tomboy atau gimana?” Saya banyak bicara dan mulai kebingungan.

Ayah dan Ibu tertawa.

“Ya, Ibu lihat Kak Sony dan pelanggan setianya itu sangat dekat. Bagus itu, punya teman dekat yang saling sayang. Kalau memang Kak Ratna dan Kak Sony seperti Bude Siter Ewer-ewer maka mereka adalah waria. Jiwanya perempuan, terlahir sebagai laki-laki, tubuhnya mungkin masih laki-laki atau mungkin mirip perempuan, halus dan anggun. Kak Ratna cantik, bukan? Kepang rambutnya tadi bagus sekali. Kak Sony juga cantik dan anggun, khas nyonya rumah yang ramah menyambut tamu.”

“Bagus ya, mereka buka salon di sini, semoga betah.” kata Ayah.

“Saya juga merasa mereka seperti tomboy, apakah seperti saya juga? Apakah kalau besar saya akan jadi seperti mereka?” tanya saya.

“Masih sangat jauh untuk tahu nanti Pina akan tumbuh seperti apa,” kata Ibu tersenyum.

“Santai aja dulu,” kata Ayah tertawa.

Ayah mendengarkan semua kisah kunjungan kami dan tertawa mendengar cerita saya tentang wajah Kak Ratna yang berubah-ubah karena mendengar pertanyaan Bu Een. Makan malam kali ini lebih meriah dan hidup. Bahkan, kisah saya dilempar kapur tulis juga terceritakan, karena Ibu tak pernah melewatkan apa pun.

“Jadi, kapan jadwal saya pangkas rambut?” tanya Ayah.

“Ayo ke Salon Sony akhir minggu ini, nanti saya buatkan janji,” kata Ibu.

“Saya ikut!”

“Iya, kita semua ke sana. Semua nanti merapikan rambut.” Kata Ibu.

“Nah, sekarang bereskan meja, waktunya PR.” kata Ibu.

 

18 Desember 2025

 

*Penulis adalah relawan di Perkumpulan Suara Kita dan saat ini menjadi buruh di kantor pelayanan pendidikan. Ia pernah menulis secara random/acak di blog Perempuan Berbagi yang telah punah oleh waktu dan beberapa kegiatan menulis bersama puisi dan/atau cerpen. Beberapa tulisannya bisa dibaca di diksipudji.wordpress.com dan dapat dihubungi via email: pudjitursana@gmail.com