Lintang dan Raga yang Menjadi Lilin-Lilin Harapan Tanpa Menunggu Sang Pelayan yang Bersikap Seorang Raja/Ratu

Oleh: Isti Toq’ah*

I. Panggilan Jarak Jauh

SuaraKita.org – Layar ponsel Lintang memancarkan cahaya lembut, menerangi wajahnya yang kini berada ribuan kilometer jauhnya. Di layar, wajah sahabatnya, Raga, tersenyum dari kamar kosnya di Yogyakarta, tampak lelah namun matanya memancarkan ketegasan yang biasa. Sudah hampir dua tahun Lintang menempuh studi S2 Ilmu Hukum di Amsterdam, tapi video call rutin mereka tak pernah terlewat.

“Gimana, S2-nya aman, cece?” sapa Raga, seorang transman yang tegar, dengan nada akrab yang selalu Lintang, seorang transpuan, rindukan.

Lintang tersenyum lebar, menyandarkan dagunya. “Aman, bro. Tetapi hari ini… seru banget, Ga. Bikin hatiku hangat sekaligus sakit.”

Raga menaikkan alisnya, meletakkan secangkir kopi dingin di sampingnya. Raga sendiri baru saja menyelesaikan shift panjang di LSM tempatnya bekerja, mengadvokasi kesehatan seksual dan gender untuk komunitas rentan, termasuk dirinya sebagai ODHA.

“Kelas Hari ini membahas Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM),” jelas Lintang, raut wajahnya berubah serius. “Dosenku sampai mengutip pembuka Human Rights Charter dengan penuh penekanan: ‘Whereas recognition of the inherent dignity and of the equal and inalienable rights of all members of the human family is the foundation of freedom, justice and peace in the world.’(Terjemahan: ‘Mengingat pengakuan terhadap martabat yang melekat dan hak-hak yang sama dan tak dapat dicabut dari semua anggota keluarga manusia adalah landasan kebebasan, keadilan, dan perdamaian di dunia.’)

 

II. Hak yang Tak Terpisahkan, Akses yang Terenggut

Lintang terdiam sejenak, memproses kata-kata itu lagi di benaknya. “Hak-hak itu, Ga… inalienable. Tak terpisahkan. Melekat pada kita simply karena kita manusia. Namun, kenapa rasanya hak kesehatan setara itu terpisah jauh sekali dari kita, ya, di Indonesia?”

Suasana di antara mereka berubah sunyi, diisi oleh bisikan angin malam dari kedua benua. Lintang kemudian menceritakan betapa mudahnya ia mengakses terapi hormon dan layanan kesehatan sensitif gender lainnya di Belanda, tanpa tatapan menghakimi, tanpa birokrasi berliku.

“Di sini, aku merasa dihargai dan dilayani sebagai warga negara sepenuhnya. Aku tidak perlu takut ditolak, diolok-olok perawat dan dokter, atau khawatir obatku tidak tersedia. Itu seharusnya normal, kan?” Suara Lintang bergetar, memendam kerinduan akan keadilan di tanah airnya.

Raga menghela napas panjang. Ia tahu persis. Ia sendiri harus menghadapi diskriminasi berulang kali saat mengakses layanan kesehatan terkait HIV dan sebagai transman.

“Aku tahu, Lin,” kata Raga pelan. “Setiap kali aku perlu ambil obat ARV, atau check-up ke dokter, aku harus menyusun strategi perang dulu. Harus tebal muka menghadapi mereka yang menganggap kita ini beban, bukan manusia yang berhak atas kesehatan. Stigma itu kadang lebih mematikan daripada virusnya.”

 

III. Lilin-Lilin Kecil Melawan Dingin

“Aku hanya berharap,” ujar Lintang, air mata mulai menggenang, “suatu hari nanti, kamu bisa merasakan akses yang sama seperti yang aku rasakan di sini, Ga. Aku ingin kamu bisa berobat tanpa harus menyisakan energi untuk melawan stigma.”

Raga mengangguk, sorot matanya yang lelah kini penuh tekad. “Kita harus terus berjuang, Lin. Jangan pernah lelah. Kamu di sana adalah beacon harapan kita, dan aku di sini… aku masih bisa lihat ada lilin-lilin kecil yang menyala di tengah kegelapan itu.”

Ia lalu bercerita tentang inisiatif seperti “Dokter Tanpa Stigma”, sebuah gerakan kecil yang didorong oleh para profesional kesehatan sejati yang memahami sumpah Hippokrates mereka. Gerakan itu mungkin masih minim, tetapi keberadaannya sangat berharga.

“Lilin-lilin kecil itu adalah harapan kita,” lanjut Raga, mengepalkan tangan. “Mereka melawan dinginnya hati para civil servant (pelayan masyarakat) yang justru lebih sering bertingkah seperti seorang raja, minta dilayani, daripada melayani masyarakatnya sendiri.”

Lintang mengusap air matanya dan tersenyum tulus, terinspirasi oleh ketahanan sahabatnya. “Ya, kita tidak boleh menyerah. Aku akan gunakan ilmu hukumku untuk terus mengadvokasi, dan kau, dengan pengalamanmu, teruslah menjadi coach dan inspirasi bagi komunitas.”

Panggilan itu berakhir dengan janji untuk terus menyalakan lilin masing-masing di benua yang berbeda. Jarak mungkin memisahkan raga mereka, tetapi visi keadilan dan hak kesehatan setara mengikat mereka erat. Tentunya, dalam persahabatan yang sudah mereka jalin lebih dari satu dekade. Mereka adalah lilin-lilin harapan yang tidak akan menunggu raja-raja dan ratu-ratu yang tak berhati untuk berubah.

 

*Isti berasal dari Balikpapan, Kaltim, namun kini berdomisili di sekitar Jakarta Selatan. Ia aktif di beberapa media sosial terutama instagram: @buildingpeace dan LinkedIn: Isti Toq’ah.