Oleh: Khoirul A*
SuaraKita.org – Membuka ruang aman bagi komunitas transgender dan ODHIV bukanlah perkara mudah, namun juga bukan tidak mungkin. Rully Mallay yang sering dipanggil dengan Mami Rully, merupakan seorang transpuan yang sudah bertahun-tahun turut membantu membuat dan memelihara ruang aman bagi komunitas transgender dan ODHIV yang berbasis di Yogyakarta. Mami Rully aktif di beberapa komunitas seperti Yayasan Kebaya Yogyakarta, Pondok Pesantren Waria Al-Fatah, dan Waria Crisis Center (WCC).
Perjalanan panjangnya tidak dimulai dari isu gender. Ia berangkat dari dunia pendidikan, kemudian masuk ke isu lingkungan dan gerakan buruh pada 1998. Perjumpaan seriusnya dengan komunitas minoritas gender baru terjadi pada awal 2000-an. Tahun 2003 menjadi titik awal kebersamaannya dengan komunitas-komunitas transpuan di Yogyakarta, yang kemudian berlanjut melalui mendirikan Yayasan Kebaya Yogyakarta pada 2006, pendidikan di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah pada 2008, serta keterlibatannya dalam Waria Akresi Pesantren pada 2017.
Salah satu peristiwa besar yang membentuk arah perjuangannya adalah penyerangan terhadap Pondok Pesantren Waria Al-Fatah pada 18 Februari 2016. Ia menyebutnya sebagai “penggerudukan” yang membawa tekanan besar terhadap eksistensi kelompok transpuan dan minoritas gender lainnya. Sejak saat itu, muncul kesadaran bahwa komunitas membutuhkan ruang aman, ruang yang melindungi keseharian mereka dari represi dan ancaman yang muncul dari berbagai arah, mulai dari regulasi pemerintah hingga tekanan kelompok-kelompok masyarakat tertentu.
“Kita berpikir kita membutuhkan ruang aman untuk pertama sekali pada saat itu. Represi penguasa terhadap kelompok-kelompok keberagaman gender sangat kencang dimana puncaknya pada penyerangan Pondok Pesantren Waria Al-Fatah tanggal 18 Februari tahun 2016, ya mungkin lebih tepat itu penggerudukan, tapi penggerudukan ini dalam artian ada movement untuk memberikan pressure terhadap eksistensi dari kelompok transgender itu sendiri.”
Selain itu, kesadaran bahwa cepat atau lambat banyak transgender yang semakin menua, dan kondisi iklim dan lingkungan yang semakin tidak menentu yang dapat menyulitkan untuk mencari nafkah, maka kehadiran ruang aman bagi transgender semakin diperlukan.
“Nah, kemudian dari situlah kita berpikir ketika teman-teman yang rentan beraktifitas di jalan mencari penghidupan hari ini, untuk survive hari ini itu butuh ruang aman ya, karena perjalanan waktu usia mereka semakin tua, kemudian situasi iklim yang tidak menentu karena perubahan iklim di Indonesia khususnya di mana musim hujan tidak bisa diprediksi, tidak bisa ngamen mereka kalau tidak bisa dapat uang hari itu mungkin tidak bisa makan dan kita berpikir ada aksi-aksi keberlanjutan dari dapur umum untuk komunitas itu.”
Setelah berdirinya Waria Crisis Center, persekusi seperti penggerudukan pada pesantren waria Al-Fatah tidak ada. Meski begitu, masih terdapat kebijakan-kebijakan pemerintah daerah yang menyulitkan kelompok transgender.
“Persekusi yang secara momentum tidak ada, tetapi secara apa namanya kebijakan itu kan masif terjadi ya. Apalagi di DIY kan ada Perda Nomor 1 Tahun 2014 tentang gelandangan dan pengemis yang akhirnya memang ya kawan-kawan yang pekerjaannya sebagai pengamen itu kan banyak, dan mereka tertekan oleh regulasi tersebut kemudian persekusi dalam bentuk lain menguatnya kelompok-kelompok mainstream agama kemudian menciptakan kekhawatiran, ketakutan bahkan kecemasan dari teman-teman sehingga persoalan kesehatan jiwa juga meningkat sehingga itu menjadi beberapa PR yang harus dilakukan untuk membangun kembali kepercayaan, konfidensial, dan kebebasan dalam ruang ekspresi.”
Salah satu fokus yang kini diperkuat WCC adalah pendampingan lansia transgender. Kesadaran ini muncul pada masa pandemi COVID-19. Banyak komunitas kehilangan teman bukan terinfeksi virus, tetapi karena penyakit degeneratif seperti hipertensi, jantung, dan diabetes yang tidak tertangani dengan baik akibat kurangnya akses kebutuhan dasar [kesehatan]. Dari 183 orang yang mereka dampingi, hampir separuhnya berusia di atas 60 tahun. Pada saat yang sama, biaya hidup di Yogyakarta meningkat. WCC melihat bahwa gelombang lansia akan terus bertambah dan banyak dari mereka tidak memiliki akses ke layanan pemerintah. Hal inilah yang mendorong pembangunan selter khusus lansia.
“Pemikiran tentang lansia itu muncul saat pandemi COVID-19 ketika kita butuh ruang untuk melakukan isolasi mandiri. Banyak kawan-kawan yang meninggal bukan karena terinfeksi dari COVID-19, tapi karena penyakit-penyakit. Banyak yang karena situasi kekurangan pasokan isi, kemudian situasi karena faktor usia, yang banyak penyakit generatif yang mudah sekali membuat mereka kena jantung, hipertensi, kena gula darah, bisa menyebabkan kematian mereka kalau tidak ditangani. Salah satu hal yang kemudian kita pikirkan, kita harus fokus pada lansia karena banyak sekali, dari 183 orang hampir 50-an orang, usianya 60-an ke atas ini kemudian menjadi perhatian kami.
Kemudian di saat yang bersamaan juga Yogyakarta angkara penuh hidup orang semakin tinggi dan kita berpikir ke depan ini akan banyak lansia-lansia di Yogya, sehingga kita perlu mengantisipasi ketika mereka tidak bisa mengakses layanan pemerintah sama sekali untuk memfasilitasi kawan-kawan lansia-lansia. Pembangunan Selter Waria Crisis Center ini memikirkan tentang aspek lansia.”
Perhatian khusus pada lansia ini selaras dengan kampanye kota ramah lansia di Yogyakarta yang menghasilkan Perda Nomor 3 Tahun 2021. Kebijakan tersebut mendorong WCC untuk terus memperbaiki fasilitas, layanan, dan pendampingan bagi para lansia.
Terkait akses kesehatan, Mami Rully menjelaskan bahwa layanan di Yogyakarta relatif baik. Setiap puskesmas memiliki psikolog dan mereka bekerja sama dengan dokter serta psikolog yang membantu komunitas secara gratis.
“Kalau di Yogyakarta cukup baik, layanan kesehatannya, karena tenaga-tenaga medis juga cukup lama, begitu juga ada banyak psikolog baik di puskesmas, tapi semua puskesmas di Yogyakarta memiliki layanan psikolog sehingga bisa konsultasi dan kami sendiri di selter ada dokter dan psikolog prabono yang bisa diakses dengan gratis oleh kawan-kawan. Itu sangat-sangat membantu kerja-kerja pelayanan di selter.”
Pada peringatan Hari AIDS Sedunia, WCC selalu ikut terlibat. Tahun ini, mereka mengikuti kegiatan bersama jaringan di Balai Kota Yogyakarta. Dalam momentum tersebut, komunitas membicarakan pentingnya mempertahankan layanan HIV, menjaga respons terhadap perubahan kebijakan, serta memastikan edukasi tentang pencegahan HIV tetap berjalan, terutama bagi anak muda. Mereka juga berpartisipasi dalam pameran seni dan usaha kecil, sebagai bentuk dukungan moral dan ekonomi.
“Kami tadi pagi baru saja merayakan hari AIDS di dunia bersama dengan Jaringan di Balai Kota Yogyakarta. Pak Wali sendiri datang, dan kebetulan tema hari AIDS di dunia tahun ini tentang bagaimana kita ikut di dalam perubahan, memberikan respon atas situasi perubahan yang terjadi dan memastikan bahwa pelayanan HIV tetap terus bisa dipertahankan. Pada momentum ini semangat teman-teman secara serempak muncul, kami juga ikut partisipasi dalam kejadian pameran, misalnya ikut jualan, ada ecoprint yang dipajang di ruang pameran. Itu jadi sebuah semangat, spirit kami, untuk memberikan layanan terbaik terutama ada orang dengan HIV/AIDS. Kemudian melakukan campaign melalui media sosial untuk mempromosikan upaya-upaya pencegahan dan penularan virus HIV pada orang muda dan masyarakat.”
Namun stigma tetap ada. Mami Rully menyebut bahwa meskipun informasi tentang HIV sudah banyak tersedia, stigma tidak hilang begitu saja. Kuncinya adalah edukasi tentang perubahan perilaku, interaksi yang sehat, serta pemahaman hubungan seksual yang aman dan wajar di dalam masyarakat.
“Pada dasarnya stigma itu tetap ada di mana-mana, jadi kapanpun selalu ada karena perspektif masyarakat yang masih kurang. Meskipun mereka sudah pernah baca atau sudah memiliki informasi yang cukup baik terhadap HIV, namun soal stigma ini tidak serta-merta hilang. Bagaimana juga kita memulai edukasi itu dari serangkaian perubahan perilaku yang membuat masyarakat juga yakin bahwa dengan perilaku aman dan kewajaran terutama dalam interaksi dan relasi seksual menjadi tentunya hal yang akan membantu kita mensosialisasikan hal-hal yang normatif di dalam masyarakat.”
Kedepannya, harapan Mami Rully adalah tentang kepastian dukungan pemerintah dalam menangani HIV terlepas dari silih bergantinya perubahan rezim dan kebijakan.
“Kita juga punya ekspektasi bahwa layanan terhadap orang dengan HIV, layanan HIV tetap bisa dipertahankan, bisa tetap diakses, meskipun terjadi perubahan kebijakan dan pemerintahan, struktur pemerintahan dan penguasa, aksesnya tetap harus berjalan, dan dukungan donor yang kita ketahui mulai mengalami penurunan akan tetap bisa stabil dengan pendanaan-pendanaan yang bersumber dari anggaran belanja pemerintah dan alokasi yang ditujukan kepada penyakit-penyakit yang terkait dengan infeksi menaruh seksual dan HIV. Dan tentunya kepastian terjaminnya antiretroviral bagi OD di Indonesia.”
Terkait obat antiretroviral, ada masa-masa ketika ketersediaan obat mengkhawatirkan, terutama saat pandemi dan ketika dukungan global menurun. Di Yogyakarta, sekitar lima ribu orang sedang menjalani terapi antiretroviral, sehingga kepastian pasokan menjadi hal yang krusial. Ia berharap pemerintah terus menjamin ketersediaan obat, memperkuat regulasi, serta memperluas akses pencegahan seperti PrEP untuk generasi muda.
“Nah ini kita berharap ke depannya tentang kepastian-kepastian hukum yang terkait dengan ODHIV itu bisa ada dalam regulasi dan kita juga berharap juga promosi dan tindakan preventif dengan penggunaan PrEP misalnya akan semakin luas, sehingga generasi muda kita akan benar-benar punya ketahanan yang lebih baik.”
*Penulis adalah relawan jurnalis di Suara Kita. Penulis pernah berkontribusi konten di Pelangi Dharma dan di media sosial lainnya.






