Transpuan Imigran: Mencari Rumah yang Bisa Menerimanya

Oleh: Khoriul A.

SuaraKita.org – Tidak diterima komunitas dan keluarga sendiri rasanya sudah sangat menyakitkan. Apalagi jika dikejar untuk dibunuh? Tak terbayangkan betapa mengerikan situasinya.

Begitulah hal yang harus dihadapi Balqis, seorang transpuan imigran pencari suaka yang kini berada di Indonesia setelah sebelumnya melarikan diri dari Somalia. Dengan kondisi seperti itu, beruntungnya, ia mempunyai keluarga yang masih mendukung dan mengusahakan dirinya untuk lari ke luar negeri demi keamanan.

“Aku sebenarnya tidak pernah berencana datang ke Indonesia, tapi situasiku di Somalia menjadi sangat berbahaya. Keluargaku takut aku bisa dibunuh, terutama setelah ada ancaman dari klanku.”

Begitulah pengakuan Balqis saat diliput oleh Suara Kita melalui chat WhatsApp agar ia bisa menggunakan fitur translate dari bahasa Somalia ke Bahasa Inggris. Ia sendiri belum lancar berbahasa Indonesia sehingga membutuhkan mesin penerjemah sebagai alat bantu komunikasi.

Kengerian yang Balqis hadapi pun sampai membuat ibunya terkena tekanan mental yang serius, memikirkan nasib anaknya yang berada di ujung tanduk.

“Pada tahun 2022, ibuku juga mengalami gangguan mental yang serius karena semua tekanan dan semua yang terjadi padaku. Beliau satu-satunya orang yang dulu selalu melindungiku.”

Pada 2023, ancaman itu semakin menjadi-jadi. Ia dibantu oleh kakak perempuannya melarikan diri dari Somalia dan tiba di Indonesia.

“Pada Desember 2023, terjadi lagi serangan kekerasan terhadapku, sebuah percobaan pembunuhan. Aku selamat karena kakak perempuanku berkata, ‘kalau kamu pulang, kamu akan kehilangan nyawa’. Dia membantuku pergi, dan begitulah aku akhirnya tiba di Indonesia.”

Meskipun telah berada di Indonesia, ia masih tidak yakin dengan rencananya ke depan. Menurutnya, secara umum kelompok minoritas ragam gender dan seksualitas tidak aman. Mereka sering mendapatkan diskriminasi, ancaman, dan penolakan, bahkan dari orang terdekat. Ini juga membuat Balqis tidak percaya diri untuk keluar rumah.

“Terus terang, aku sendiri masih belum yakin tentang rencanaku. Sekarang aku berada di Indonesia sebagai pengungsi, tapi hidup di sini juga sangat sulit untuk orang seperti aku. Situasi bagi orang LGBTQ tidak aman, diskriminasi, ancaman, dan penolakan masih terjadi bahkan dari beberapa orang di sekitarku. Banyak waktu aku takut untuk keluar rumah. Jadi untuk saat ini, aku hanya berusaha bertahan hari demi hari. Aku tidak tahu berapa lama aku akan tinggal di sini, tapi aku berdoa semoga suatu hari nanti aku bisa menemukan tempat di mana aku bisa hidup tanpa rasa takut, tempat di mana aku akhirnya bisa merasa aman dan mendapatkan kedamaian.”

Transgender Day of Remembrance (TDoR) merupakan momen yang sangat emosional bagi Balqis. Ia adalah satu dari sekian banyak transpuan yang secara nyata menghadapi persekusi oleh komunitas setempat yang memaksanya pergi dari tempat kelahirannya.

“Bagiku, ini sangat emosional karena mengingatkanku betapa berbahayanya hidup bagi transgender, dan mengapa dukungan serta kesadaran itu sangat dibutuhkan. Aku bersyukur bisa menjadi bagian dari percakapan ini dan dapat membagikan ceritaku.”

Balqis juga menuturkan bagaimana sedari kecil ia berada di kondisi yang tidak aman. Ia bahkan mengatakan bahwa sepertinya ia akan terus berlari sepanjang hidupnya untuk mencari tempat yang aman bagi transgender seperti dirinya.

“Aku sendiri pernah mengalami kekerasan dan serangan yang sangat parah. Luka-lukanya masih ada di tubuhku, dan kenangan [trauma] itu masih tersimpan di hatiku. Sejak kecil sampai sekarang, aku tidak pernah benar-benar merasa aman. Orang-orang di sekitarku memperlakukanku dengan kebencian, diskriminasi, dan kekerasan hanya karena aku adalah diriku sendiri. Terkadang aku merasa seolah aku telah berlari mencari keselamatan sepanjang hidupku.”

Berbagai diskriminasi dan kekerasan yang dihadapi di Somalia membuatnya merasa terasing. Ia menjelaskan bahwa ketika berada di Indonesia, barulah ia merasakan bagaimana rasanya didengarkan dan tidak dihakimi. Ia diberi ruang untuk ada dan menjadi dirinya sendiri.

“Tapi setelah aku bertemu psikolog dan tim Suara Kita, ada sesuatu di dalam diriku yang berubah. Mereka mendengarkan ceritaku tanpa menghakimi. Mereka memberiku ruang untuk berbicara, bernapas, dan sekadar menjadi diriku sendiri. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian.”

Tidak hanya merasa mendapatkan dukungan, perlahan tapi pasti ia mulai sepenuhnya menerima diri sendiri dan merasa martabatnya sebagai manusia pulih kembali. Kini ia merasa berharga, pantas merasakan aman, dan pantas merasakan cinta.

“Perlahan, aku mulai menerima diriku lagi. Aku mulai percaya bahwa aku pantas mendapatkan rasa aman, martabat, dan cinta. Dan sekarang, meski dunia masih belum mudah, aku akhirnya bisa mengatakan bahwa aku menerima diriku sebagai perempuan transgender. Aku sedang belajar untuk berdiri dengan percaya diri, selangkah demi selangkah.”

Kehadiran tempat yang aman dan lingkungan yang ramah bagi seorang transgender dapat membantu mereka lebih percaya diri terhadap kemampuan mereka. Hal ini tentu dapat meningkatkan daya juang dan semangat hidup.

Bagi Balqis, sekalipun dunia ini kejam, penuh penderitaan, dan penuh keterasingan, ia percaya bahwa suatu hari nanti semua transgender akan mampu mewujudkan sebuah tempat, sebuah rumah di mana mereka dapat hidup bebas, bangga, dan tanpa ketakutan.

“Untuk semua saudara dan saudari transgender di seluruh dunia: Aku tahu dunia bisa kejam dan penuh rasa sakit. Aku tahu ketakutan, kekerasan, penolakan, dan kesepian yang kalian hadapi. Aku juga pernah merasakannya, malam-malam ketika kalian merasa tak terlihat, hari-hari ketika dunia mengatakan bahwa keberadaan kalian salah, dan momen-momen ketika kalian merasa benar-benar sendirian. Tapi dengarkan ini… kalian tidak salah. Kalian bukan sebuah kesalahan. Kalian punya kekuatan, keindahan, dan nilai hanya dengan menjadi diri kalian sendiri.

Bahkan ketika orang menyakiti kalian, mencoba menghapus kalian, atau ketika rasa takut dan ancaman mengelilingi kalian… jiwa kalian tetap indah, dan hidup kalian sangat berharga. Bahkan ketika kalian merasa sangat sendirian, ketahuilah bahwa ada orang lain yang memahami, yang berjuang, yang bertahan, dan yang bermimpi tentang dunia yang lebih aman untuk kita semua.

Jangan kehilangan harapan. Kuatkan hati kalian. Sampaikan kebenaran [tentang jati diri] kalian ketika kalian mampu. Jangan biarkan dunia mengecilkan nilai kalian. Ingat selalu: kalian berhak atas cinta, keamanan, martabat, dan penghormatan.

Suatu hari nanti, kita semua akan menemukan tempat di mana kita bisa hidup dengan bebas, bangga, dan tanpa rasa takut. Sampai hari itu tiba… tetaplah kuat, teruslah hidup, dan ingat bahwa hidup kalian berarti. Kalian penting, kalian berdaya, kalian ada.”

 

*Penulis adalah relawan jurnalis di Suara Kita. Penulis pernah berkontribusi konten di Pelangi Dharma dan di media sosial lainnya.