Oleh: Isti Toq’ah
SuaraKita.org – Di penghujung November, saat Transgender Day of Remembrance (TDoR) tiba, hatiku selalu diselimuti duka mendalam atas nyawa-nyawa transpuan yang telah direnggut. Namun, di tengah duka cita tersebut, ada satu alasan kuat untuk bersyukur dan merayakan. Keberadaan Kak Anggun Pradesha, sahabat transpuanku, telah menjadi salah satu penyemangat hidupku.
Sebagai anak sulung perempuan, aku selalu memendam mimpi memiliki sosok seorang kakak perempuan. Sosok yang bisa membimbing, melindungi, dan mengajarkan cara menjadi seorang perempuan yang kuat. Aku menemukan sosok itu, bukan dari ikatan darah, melainkan dari ikatan jiwa. Kak Anggun adalah kakak yang kupilih dan dipilihkan takdir untuk menemaniku.
Pertemuan yang Dipersatukan oleh Misi yang Sefrekuensi
Pertemuan kami yang tak terduga terjadi saat aku bekerja di Pamflet Generasi. Saat itu, aku ditugaskan untuk menulis pengalaman dan kisah inspiratif teman-teman transpuan yang berhasil bangkit dari jurang suicidal thoughts (pemikiran untuk bunuh diri) dan diskriminasi yang menyakitkan, terutama yang memburuk selama pandemi COVID-19.
Seorang teman di Pamflet, yang merupakan rekan Kak Anggun di PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), merekomendasikanku untuk berkenalan dengannya. Dari perkenalan “tugas” itulah, ikatan batin yang lebih dalam terjalin. Aku sangat bersyukur bisa mengenal Kak Anggun. Ia adalah sumber kisah yang tidak hanya menginspirasi proyekku, tetapi juga mengubah arah hidupku sendiri.
Advokasi yang Melampaui Identitas
Selama kurang lebih 1,5 dekade aku mengarungi pahit manisnya ibukota Jakarta, ada satu titik terendah yang hampir meruntuhkanku. Saat aku mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dari bapak kandungku, sekaligus dihambat untuk menikahi calon suamiku.
Saat itu, aku sungguh hancur. Keluarga sedarah yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi ancaman. Sementara itu, Kak Anggun, seorang aktivis transpuan dengan jam terbang tinggi dalam advokasi kesetaraan, datang dalam hidupku sebagai cahaya lilin di ujung lorong yang gelap pekat. Ia tidak memandang identitasku yang non-trans. Ia melihatku seutuhnya. Seorang manusia yang sedang berjuang untuk martabatnya.
Dengan pengalamannya dalam advokasi, Kak Anggun membantuku mengurus KTP (Kartu Tanda Penduduk) sendiri di Jakarta, sebuah langkah krusial untuk memisahkan diri dari orang tuaku di Balikpapan, yang sejak aku lahir memang tidak merawatku melainkan menyerahkanku pada Mbah (sebutan nenek dalam Bahasa Jawa). Ia membantuku mendapatkan kemandirian administrasi, sebuah fondasi bagi kemerdekaan jiwa. Aku meneteskan air mata saat membaca label “kepala keluarga” di KK (Kartu Keluarga) baruku. Meskipun saat itu, aku menjadi sendirian dalam KK, aku merasa sangat lega dan bahkan bangga dengan ketegaran jiwaku.
Walaupun, proses perjuangan KTP untuk bisa menikahi laki-laki yang aku pilih berlangsung jungkir balik seperti roller coaster selama tiga tahun (khususnya yang terberat, yaitu tahun ketiga), aku akhirnya menikah pada 6 November 2025 lalu. Perjuangan itu menemukan ending yang indah, dan di dalamnya, Kak Anggun memiliki peran keluarga yang sama besarnya dengan suamiku saat ini.
Pelajaran dari Film Wali dan Memaknai Ulang Ikatan Darah
Aku meyakini bahwa keluarga bukan hanya tentang garis keturunan. Keluarga adalah manusia-manusia yang juga bisa kita pilih, misalnya sahabat. Meskipun tidak sedarah daging, tetapi dengan warna merah darah yang sama sudah menjadi lambang perjuangan, kasih sayang, dan kesalingan untuk menguatkan. Dengan menemukan dan memilih sendiri keluarga yang benar-benar tulus, orang-orang sepertiku dan Kak Anggun bisa saling menjalani hidup yang lebih bermakna dan merayakan keunikan kami masing-masing tanpa saling menghakimi.
Dari Kak Anggun, aku juga belajar makna sebenarnya dari perempuan yang kuat dan caranya menjadi Perempuan yang tangguh. Kekuatannya bukan hanya terletak pada ketahanan menghadapi stigma sebagai transpuan dan perempuan, melainkan juga pada keikhlasan dan keberaniannya dalam mengadvokasi kemanusiaan tanpa batas.
Hubungan kami pun terjalin dalam kegiatan-kegiatan yang sefrekuensi. Kami pernah bersama membaca puisi pada kegiatan “100% Manusia” di Kedutaan Besar Austria dan “Mendengar Didengar” di Cikini 82, yang merupakan bangunan bersejarah yang pernah menjadi rumah bagi Menteri Luar Negeri pertama Indonesia, Bapak Achmad Soebardjo. Kami juga menginisiasi nonton bareng dan diskusi film “Balek ke Jambi” di Griya Gusdurian bersama ArtsforWomen saat aku menjadi Penggerak Gusdurian Jakarta.
Hal paling mengharukan adalah peran Kak Anggun sebagai pemeran utama dalam film pendek “Wali,” yang memenangkan kompetisi film pendek Europe on Screen. Walaupun ceritanya sedikit berbeda konteks dengan masalah hidupku, tetapi film itu sangat relevan dengan perjuanganku mencari wali pengganti selain wali nasabku yang abusive, toxic, dan manipulative, yaitu bapak kandungku.
Secara simbolis, perjuangan Kak Anggun di layar film dan perjuanganku di dunia nyata terasa memiliki ikatan yang erat dan kuat. Juga, saat menyaksikan film pendek itu, aku banyak berdoa dan bermeditasi karena Rumi (seorang pujangga dan guru Sufi) pernah berkata bahwa air mata adalah doa-doa yang tak terucap dengan kata.
Pada akhirnya, aku berhasil menikah dengan surat wali taukil karena bapak kandungku melimpahkan tugasnya ke penghulu yang menikahkanku di Jakarta. Tetapi tanpa dampingan awal dan advokasi dari Anggun ke Dinas Dukcapil (Kependudukan dan Pencatatan Sipil), jalan itu mungkin akan terus tertutup hingga sekarang. Setiap berjumpa, ia juga memelukku dan mendoakanku hingga meneteskan air mata agar perjuangan cintaku bisa berujung manis.
Merayakan Kehidupan di Tengah Ingatan
Di akhir November ini, aku sungguh tidak sabar untuk berada satu panggung dengan Kak Anggun di kegiatan GenSet (Generasi Setara) Komunitas Setara, Kopernik di Ubud. Tahun lalu, aku menjadi peserta di angkatan pertama GenSet, sedangkan tahun ini aku tidak menyangka dan sangat bersyukur telah diundang menjadi salah satu pembicaranya. Aku juga merekomendasikan Kak Anggun kepada panitia untuk ikut mengisi di kegiatan luar biasa ini.
Setiap kesempatan untuk berdiri atau duduk bersamanya adalah sebuah kebanggaan dan kehangatan. Aku selalu merekomendasikan Kak Anggun ke jejaringku karena ada banyak sekali pelajaran baik yang luar biasa tentang keteguhan, advokasi, dan kemanusiaan yang bisa dipelajari darinya.
Pada TDoR ini, kita mengingat para korban. Namun, kita juga harus merayakan para penyintas, para transpuan hebat yang ada di sekitar kita.
Kak Anggun Pradesha adalah manifestasi nyata dari keluarga yang aku pilih, sebuah bukti bahwa cinta kasih tidak mengenal batas identitas. Ia mengajarkanku menjadi manusia yang lebih manusiawi dan seorang perempuan yang lebih kuat serta berani. Kehadirannya adalah lentera harapan, dan untuk itu, aku akan selalu bersuara untuk Kak Anggun dan semua sahabat transpuan yang menjadi inspirasi di dalam hidupku.
*penulis berasal dari Balikpapan, Kaltim, namun kini berdomisili di sekitar Jakarta Selatan. Ia aktif di beberapa media sosial terutama instagram: @buildingpeace dan LinkedIn: Isti Toq’ah.




