Oleh: Dwipa Pangga
SuaraKita.org – Transgender Day of Remembrance (TDOR) bukanlah sekadar hari untuk mengenang teman-teman transgender yang telah pergi akibat menjadi korban kekerasan berbasis identitas gender. Lebih dari itu, momen ini menjadi ruang untuk merayakan keberanian, ketahanan, dan keberadaan komunitas transgender yang terus berjuang melampaui batas-batas sosial. Adanya hari TDoR juga merupakan sebuah perjuangan agar setiap keberanian dan keberadaan bisa diterima di masyarkat luas.
Dalam memperingati TDoR tahun ini, kegiatan kumpul anggota Suara Kita menjadi sangat spesial. Bertempat di Kantor Suara Kita pada Sabtu, 22 November, komunitas berkumpul untuk nonton bareng dan berdiskusi mengenai film Raminten Universe (2025).
Raminten Universe adalah film dokumenter yang menggambarkan sosok inspiratif di balik Kabaret Raminten—pertunjukan yang sangat dikenal di Yogyakarta karena keunikannya dalam merayakan budaya, humor, dan keberagaman. Dena Rachman, produser film tersebut, turut hadir dalam sesi diskusi setelah pemutaran film.
Sebagai sosok publik dan aktivis hak-hak transgender, kehadiran Dena Rachman memberikan perspektif mendalam mengenai representasi, proses kreatif, serta pentingnya ruang budaya yang mendukung keberagaman gender. Diskusi berlangsung hangat, penuh tanya jawab, dan memperkaya pengetahuan peserta mengenai proses kreatif di balik film tersebut maupun sejarah Kabaret Raminten.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal. Acara dibuka dengan momen hening dan doa bersama untuk mengenang teman-teman transgender yang telah meninggal, sebagai bentuk penghormatan dan solidaritas.
Dalam sesi diskusi, banyak peserta menyampaikan bahwa Raminten Universe bukan hanya informatif tetapi juga menginspirasi. Banyak di antara mereka yang baru mengetahui lebih dalam tentang sejarah kabaret Raminten dan kisah-kisah di baliknya.
Dengan semangat kebersamaan dan pembelajaran kolektif, acara ini mengajak kita semua untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga merayakan keberanian, kreativitas, dan kehidupan komunitas transgender. Dengan begitu, perjuangan untuk penerimaan bisa terus terawat.






